Latest Entries »

SENGAT LEBAH

Mengapa Sengat Lebah begitu istimewa?
Sengat lebah mempunyai bisa yang mengandung air dan enzim-enzim seperti fosfolipase A dan hialuronidase, zat melitin, adolapian, apamin dan MCD-peptida. Pengobatan sengat lebah telah terbukti sejak zaman dahulu dan dapat dibuktikan pada pengobatan modern untuk mengobati Rematik. Seperti:
1. Radang persendian,
2. Radang arthritis
3. Pengapuran
4. Radang bahu
5. Penyakit tulang leher
6. Sakit syaraf
7. Urat kejepit
8. Kaki tangan kesemutan
9. Asam urat
10. Bagian tubuh mati rasa
11. Gout, dll.
Penyakit Rematik dan Asam Urat adalah penyakit yang umum di jumpai pada masyarakat Indonesia terutama memasuki usia tua. Gejala yang biasa dijumpai adalah nyeri, bengkak sendi, kaku ketika bangun tidur, otot nyeri dan kesemutan, kepala pusing, badan pegal-pegal, lemah/lesu, dll.
Campuran madu dan kayu manis dipercaya bisa mengobati berbagai penyakit. Madu memang dihasilkan oleh hampir semua negara di dunia. Ayurverdic (penyembuh dengan metode ayurveda) dan pengobatan Yunani telah menggunakan madu sebagai obat selama berabad-abad.
Para ilmuwan saat ini juga mengakui madu sebagai obat yang sangat efektif untuk semua jenis penyakit, meskipun mereka masih menyimpan tanda tanya tentang apa yang sesungguhnya menjadi kekuatan utama madu. Yang jelas, madu dapat digunakan sebagai obat tanpa menimbulkan efek samping. Menurut para ilmuwan moderen, meskipun rasanya manis, madu aman untuk penderita diabetes bila diberikan dalam dosis yang tepat.

Berikut ini daftar sejumlah penyakit yang dapat diatasi dengan madu dan kayu manis. Menurut Weekly World News semua itu telah diteliti oleh ilmuwan Barat.
1. Arthritis (radang sendi). Ambil 1 bagian madu dan 2 bagian air suam-suam kuku. Tambahkan 1 sendok teh kecil bubuk kayu manis. Campur madu, air suam kuku dan bubuk kayu manis. Pijat ke bagian yang sakit secara perlahan. Rasa sakit akan berkurang dalam waktu 1 atau 2 menit. Atau penderita arthritis dapat minum 1 cangkir air panas dengan 2 sendok madu dan 1 sendok teh kecil bubuk kayu manis setiap hari, pagi dan malam. Bila diminum teratur, ramuan ini dapat mengobati penyakit arthritis kronis. Penelitian terakhir Copenhagen University menggunakan campuran 1 sendok makan madu dan _ sendok teh bubuk kayu manis yang diberikan kepada pasien sebelum sarapan. Hasilnya dalam seminggu 73 dari 200 pasien yang diobati sembuh total. Kebanyakan pasien yang tidak dapat berjalan atau bergerak karena arthritis dapat berjalan tanpa rasa sakit.
2. Kerontokan Rambut. Orang yang mengalami kerontokan rambut atau kebotakan dapat memakai campuran minyak zaitun panas, 1 sendok makan madu dan 1 sendok teh bubuk kayu manis sebelum mandi. Oleskan di kepala dan diamkan selama kira-kira 15 menit setelah itu baru dibasuh. Penelitian juga membuktikan, ramuan yang didiamkan di kepala selama 5 menit pun tetap efektif.
3. Infeksi Kandung Kemih. Campurkan 2 sendok makan bubuk kayu manis dan 1 sendok teh madu ke dalam segelas air suam-suam kuku. Setelah itu diminum. Ramuan ini membunuh kuman-kuman di dalam kandung kemih.
4. Sakit Gigi. Buat campuran 1 sendok teh bubuk kayu manis dan 5 sendok teh madu. Oleskan ramuan tersebut pada gigi yang sakit. Pemakaian ramuan ini dapat dilakukan 3 kali sehari setiap hari sampai gigi berhenti sakit.
5. Kolesterol. Kadar kolesterol darah dapat diturunkan dengan 2 sendok makan madu dan 3 sendok teh bubuk kayu manis yang dicampur dalam 16 ons air teh. Ramuan itu dapat mengurangi kadar kolesterol dalam darah sampai 10% dalam 2 jam. Madu murni yang diminum sehari-hari meringankan gangguan kolesterol.
6. Pilek. Pilek ringan dan berat dapat disembuhkan dengan 1 sendok makan madu suam-suam kuku dan _ sendok teh bubuk kayu manis setiap hari selama 3 hari. Ramuan ini dapat menyembuhkan hampir semua batuk dan pilek kronis serta membersihkan sinus.
7. Mandul. Pengobatan Yunani dan ayurveda telah menggunakan madu selama bertahun-tahun untuk memperkuat semen para pria. Dua sendok makan madu yang diminum secara teratur sebelum tidur, akan berefek menyuburkan. Wanita Jepang, Cina dan Asia Timur yang sulit hamil dan ingin memperkuat rahim, lazim mengkonsumsi bubuk kayu manis sejak berabad-abad lalu. Wanita yang sulit hamil sebaiknya sesering mungkin mengoleskan madu dan sesendok teh bubuk kayu manis pada gusinya. Kayu manis akan bercampur dengan air ludah dan memasuki tubuh. Ada pasangan suami isteri dari Maryland tidak memiliki keturunan selama 14 tahun dan nyaris putus asa. Ketika mengetahui khasiat kayu manis dan madu, mereka mulai mengkonsumsi ramuan tersebut. Sang isteri mulai mengandung dan melahirkan anak kembar.
8. Sakit Perut. Madu yang dicampur bubuk kayu manis dapat mengobati sakit perut. Juga dapat membersihkan perut, serta menyembuhkan bisul sampai akar-akarnya.
9. Kembung. Penelitian yang dilakukan di India dan Jepang menyatakan bahwa madu yang diminum bersama kayu manis dapat mengurangi gas dalam perut.
10. Penyakit Jantung. Oleskan mandu dan bubuk kayu manis pada roti pada waktu sarapan setiap hari. Madu dan kayu manis mengurangi kolesterol dalam pembuluh arteri, dan mengurangi risiko serangan jantung. Orang yang sudah terkena serangan jantung bila mengkonsumsi madu dan kayu manis setiap hari dapat terhindar dari serangan jantung kedua. Konsumsi madu dan kayu manis secara teratus dapat memperlancar pernafasan dan memperkuat detak jantung. Rumah jompo di Amerika dan Kanada, berhasil mengobati penghuninya yang memiliki gangguan pembuluh darah karena tersumbat, dan berkurang fleksibilitasnya karena usia, dengan ramuan tersebut. (bersambung..)

Hidup sehat dapat dilakukan dengan berbagai cara, salah satunya yaitu dengan terapi sengat lebah. Ternyata pengobatan alternatif sengat lebah ini bisa mengatasi berbagai penyakit. Secara khusus, racun lebah yang disengatkan pada titik tertentu dapat meningkatkan daya tahan tubuh.
Pada prinsipnya pengobatan dengan menggunakan sengat lebah tidak berbeda dengan akupuntur. “pengobatan itu dilakukan dengan mencari titik-titik yang biasanya digunakan pada akupuntur, yang membedakan hanya alatnya. Akupuntur menggunakan jarum, sedangkan sengat lebah menggunakan sengatnya,” jelas Bapak Muntowid dari Pusat Perlebahan Pramuka Cibubur Jakarta Timur.
Muntowid yang sehari-hari sibuk mengobati pasien dengan teknik sengat lebah ini menjelaskan, teknik pengobatannya banyak memberikan manfaat tanpa efek samping. “Allah menciptakan lebah dengan banyak manfaat. Mulai dari madu hingga sengatnya,” urai Muntowid.
Sengat lebah atau bee venom merupakan salah satu produk lebah yang terbukti dalam menyembuhkan gejala arthritis. Lebah menurut Muntowid memiliki banyak kelebihan. Manfaatnya ada pada racunnya (bee venom), susu ratu (royal jelly), pollen (kumpulan tepung sari bunga dan nektar), roti (bee bread), madu (honey), lilin (hasil metabolisme lebah), propolis (zat yang dihasilkan oleh lebah pekerja), hingga tempayah (bayi lebah).
Secara khusus, racun lebah ketika disengatkan pada titik tertentu dapat meningkatkan daya tahan tubuh,” ungkap Muntowid. Toksin (racun) yang ada pada lebah sangat berguna untuk tubuh dan membantu menghilangkan rasa sakit, memfungsikan kelenjar-kelenjar yang ada dalam tubuh dan mengendorkan saraf.
Penyakit yang Dapat Diobati
Racun atau bisa lebah dapat menyembuhkan berbagai penyakit. Dari hasil pengalaman selama tiga puluh tahunan sejak tahun 1971 hingga kini, sengatan lebah dapat menyembuhkan berbagai penyakit, mulai dari yang berat hingga yang ringan. Misalnya rematik, asam urat, alergi udara debu, sering pusing, darah rendah atau tinggi, kencing manis, kolesterol, sakit gigi, sesak napas, migren, disfungsi saraf, kanker, jantung, stroke. Bahkan menurunkan berat badan pun dapat dilakukan dengan sengat lebah.
Pada akhirnya, tujuan pengobatan dengan sengat lebah ini untuk mengatur chi meridian, yakni mengatur keseimbangan yin dan yang dalam tubuh, serta menghilangkan penyebab penyakit.
Awalnya pasien yang baru pertama kali datang, biasanya takut mencengar pengobatan sengat lebah karena akan terasa sangat sakit. Bayangan rasa sakit seperti itulah yang akhirnya seperti bumerang. Padahal jika kondisi mental siap maka rasa sakit itu akan hilang. Rasa sakit timbul hanya karena sara ketakutan,” ujar Muntowid yang kliniknya selalu penuh dengan pasien.
Yang benar, rasa sakit memang ada, tapi itu hanya sebentar. Begitu juga jika terasa agak panas dan pedih itu wajar saja, dalam lima menit akan hilang,” tambah Muntowid.
Pasien yang diterapi dengan sengat lebah bisa langsung pulang. Sengat yang ditinggalkan lebah mudah dilepas dengan menggunakan pinset. untuk tempat tertentu bisa dilepas sendiri, atau dilepas oleh yang mengobatinya. Biasanya lebah akan mati setelah mengeluarkan sengatnya.
Lebah yang digunakan untuk mengobati pasien adalah lebah pekerja. Kenapa yang dipilih lebah pekerja? Karena jumlah lebah pekerja itu lebih banyak,” jelas Muntowid.
Reaksi yang Timbul
Pasien yang telah disengat lebah akan mengalami reaksi yang berbeda-beda dengan pasien lainnya. Bila pasien mengalami gatal-gatal, berarti pasien mempunyai alergi atau tekanan darahnya sedang turun. Biasanya dengan memberikan satu sendok madu akan membantu untuk menghilangkan reaksi yang ditimbulkannya.
Selain rasa gatal yang timbul, bisa juga terjadi pembengkakan di tubuh, atau demam. namun biasanya dengan minum madu atau penghilang rasa sakit, dalam tiga hari akan sembuh. titik yang sudah disengat akan terlihat bentol, dan itu wajar.
Muntowid biasanya mengobati pasiennya yang baru pertama kali datang paling banyak hanya dengan lima kali sengatan. untuk mereka yang hendak datang kembali harus menunggu sampai bengkaknya sembuh. minimal pada mereka yang tidak alergi dapat datang kembali setelah 2 atau 3 hari .
Tanpa Buka Pakaian
Istimewanya pengobatan dengan sengat lebah ini, pasien dapat melakukannya dengan tanpa membuka baju. Misalnya jika titik yang harus disengat tersebut di bagian punggung, dengan mudah saja lebah pekerja diletakkan pada titik tersebut dan disengatkan. Begitu juga dengan bagian kaki yang berkaus kaki.
Hal yang unik, jika yang sakit pada bagian kepala, maka lebah disengatkan di bagian kepala juga. Pemijatan dapat dilakukan untuk memeprlancar aliran darah.
Untuk tercapainya kesembuhan dengan sengat lebah, ada pasien yang datang cukup satu kali, tetapi ada juga yang sampai sepuluh kali, semua itu bergantung penyakitnya. “Bahkan ada yang datang hanya untuk membuat tubuh kian bugar dan sehat,
Madu
Madu adalah makanan yang mengandung aneka zat gizi seperti karbohidrat , protein , asam amino, vitamin, mineral, dekstrin , pigmen tumbuhan dan komponen Aromatik. Bahkan dari hasil penelitian ahli Gizi dan pangan ,madu mengandung karbohidrat yang paling tinggi diantara produk ternak lainnya susu, telur , daging, keju dan menterga sekitar (82,3% lebih tinggi) Setiap 100 gram madu murni bernilai 294 kalori atau perbandingan 1000 gram madu murni setara dengan 50 butir telur ayam atau 5,675 liter susu atau 1680 gram daging. Dari hasil penelitian terbaru ternyata zat-zat atau senyawa yang ada didalam madu sangat komplek yaitu mencapai 181 jenis .
Khasiat madu telah dikenal sejak jaman Mesir Kuno . Bahkan Ratu Cleopatra telah menggunakan untuk merawat kesehatan dan kecantikannya.
Selain itu juga madu dipergunakan untuk ramuan pembalseman ( embalming ) untuk mengawetkan Mummi Raja-raja Mesir Kuno. Tradisi orang Jepang adalah meminum madu setiap malam agar bangun tidur dalam keadaan segar dan sehat.
Salah satu keunikan madu adalah karena madu mengandung zat antibiotik . Hal itu hasil penelitian Peter C Molan ( 1992 ) , peneliti dari Departement of Biological Sciences, University of Waikoto , Selandia Baru. Menurutnya Madu terbukti mengandung zat antibiotik yang aktif melawan serangan berbagai kuman patogen penyebab penyakit.
Selain itu juga peneliti dari Departement of Biochemistry , Faculty of Medicine , University of Malaya di Malaysia, Kamaruddin (1997) juga menyebutkan Bahwa di dalam madu terkandung zat anti mikrobial, yang dapat menghambat penyakit.
Beberapa penyakit infeksi oleh berbagai patogen yang dapat dicegah dan disembuhkan dengan minum madu secara teratur diantaranya : Infeksi saluran pernafasan atas (ISPA),batuk, demam, penyakit luka tukak lambung, infeksi saluran pencernaan , penyakit kulit.
Seiring dengan meningkatnya perkembangan Ilmu pengetahuan dan Teknologi , maka kadang sering dimanfaatkan untuk tindak kejahatan. Seperti misalnya pemalsuan madu, yaitu dengan mencampur sedikit madu asli dengan gula tebu atau gula merah dan ditambahkan asam sitrat untuk rasa asamnya serta enzim untuk menimbulkan kesan.
Selain itu masih ada pandangan yang salah atau keliru tentang kualitas madu . Ada yang menganggap bahwa madu yang baik adalah yang menimbulkan letusan ketika tutupnya di buka atau yang tidak di kerumuni semut. Justeru madu tersebut telah rusak terfermentasi oleh enzim dan mengarah kepada terjadinya gas dan alkohol itulah sebabnya semut tidak mau mendekatinya.
Pada saat ini masyarakat lebih mengenal Madu Arab, Madu Kalimantan atau Madu Sumbawa. Padahal mutu dan kualitas madu sangat tergantung pada asal nektar bunga yang dihisap oleh lebah. Sehingga penamaan yang lazim dikenal saat ini adalah bukan hanya lagi dari asal tempat diproduksi seperti yang disebutkan diatas, tetapi dari asal nektar seperti Madu Bunga Randu ( Ceiba petandra ), Madu Bunga Kopi ( Coffea arabica ), Madu Bunga Klengkeng ( Euphoria longana sp ), Madu Bunga Rambutan ( Nephelium lappaceum ), Madu Aneka jenis bunga ( Mix Flower ), Madu Bunga Durian ( Durio sp ), Madu Bunga Kelapa ( Cocos nucifera ), dsb. Masing-masing madu dari aneka jenis tumbuhan ini memiliki aroma yang khas dan khasiat yang berbeda-beda.
Kandungan Madu :
Madu memiliki komponen kimia yang memiliki efek koligemik yakni asetilkolin. Asetilkolin berfungsi untuk melancarkan peredaran darah dan mengurango tekanan darah. Gula yang terdapat dalam madu akan terserap langsung oleh darah sehingga menghasilkan energi secara cepat bila dibandingkan dengan gula biasa.
Disamping kandungan gulanya yang tinggi (fruktosa 41,0 %; glukosa 35 %; sukrosa 1,9 %) madu juga mengandung komponen lain seperti tepung sari dan berbagai enzim pencernaan. Disamping itu madu juga mengandung berbagai vitamin seperti vitamin A, B1, B2, mineral seperti kalsium, natrium, kalium, magnesium, besi, juga garam iodine bahkan radium. Selain itu madu juga mengandung antibiotik dan berbagai asam organic seperti asam malat, tartarat, sitrat, laklat, dan oksalat. Karena itu madu sangat tinggi sekali khasiatnya.
Jenis-jenis Madu:
Kualitas madu umumnya ditentukan dari asal bunga seperti Mix Flower ( Aneka bunga hutan ), Madu Bunga Klengkeng, Madu bunga Kopi , Madu Bunga Rambutan, Madu bunga Kapuk dsb.
Berdasarkan informasi penelitian madu yang termanis berasal dari nektar bunga Rambutan (Nephelium lappaceum ).
Berdasarkan riset dan penelitian yang telah dilakukan oleh para ahli dibidang Biologi, Kimia dan Kedokteran . ternyata madu memiliki manfaat dan khasiat yang banyak bagi kehidupan manusia, diantaranya adalah :
Khasiat dan Manfaat Madu :
Madu dapat dikonsumsi oleh segala tingkatan ,dari Janin hingga Orang tua.
1. Janin : Madu dapat memperkuat janin yang lemah dalam kandungan ( rahim ).
2. Ibu Hamil : Madu membantu menjaga stamina dan kesehatan selama mengandung bayi, dan membantu asupan gizi yang tinggi bagi pertumbuhan janin yang sehat selama dalam kandungan
3. Bayi : Membantu perkembangan otak bayi, karena setiap harinya otak terus berkembang sampai dengan usia 5 tahun. Untuk itu ia membutuhkan gizi yang tinggi. Pertumbuhan dan perkembangan otak sangat terkait dengan kecerdasan pikiran (IQ ) dan kecerdasan mental ( EQ ) . Hal ini dapat dilihat dewasa ini aneka produk makanan tambahan baik susu atau bubur bayi yang di formulasikan dengan madu seperti Dancow , Frisian Flag , Sustagen ,dsb . Untuk itu kenapa tidak kita berikan saja bagi buah hati kita yang terbaik ,yaitu madu .
4. Anak-anak : membantu agar nafsu makan meningkat ( adanya unsur vitamin B yang lengkap dalam madu), sehingga anak tumbuh sehat , lincah dan riang serta tahan penyakit. ( H.Mohamad , 2002 )
5. Remaja : Khasiat madu pada akil baligh remaja membuat tumbuh sangat cepat ,gizi yang baik dan teratur akan membuat pertumbuhan tubuh menjadi sempurna.
6. Dewasa : Tingkat kelelahan dan pekerjaan yang menumpuk mengakibatkan stress sehingga tubuh menjadi lemah dan mudah terserang penyakit . Dalam hal ini para pekerja pabrik yang bekerja keras seharian penuh ( long shift ) tanpa zat gizi yang memadai rawan terjangkiti penyakit seperti thypus , radang , serta infeksi bakteri lainnya maka dalam hal ini Madu adalah makanan tambahan terbaik.
7. Lanjut Usia : Madu adalah makanan terbaik yang sangat diperlukan bagi manula , karena madu adalah sumber energi dan gizi yang dapat diserap langsung oleh tubuh , dimana pada usia tersebut organ pencernaan kita sudah mulai berkurang fungsinya ( Kesehatan 2001 ).
Resep Tradisional Madu:
1. Kerontokan rambut Orang yang mengalami kerontokan rambut atau kebotakan dapat memakai campuran minyak zaitun panas, 1 sendok makan madu dan 1 sendok teh bubuk kayu manis sebelum mandi. Oleskan di kepala dan diamkan selama kira-kira 15 menit setelah itu baru dibasuh. Penelitian itu juga membuktikan ramuan yang didiamkan dikepala selama 5 menit pun tetap efektif.
2. Infeksi kandung kemih Campurkan 2 sendok makan bubuk kayumanis dan 1 sendok teh madu ke dalam segelas air suam-suam kuku. Setelah itu diminum. Ramuan ini membunuh kuman-kuman dalam kandung kemih.
3. Sakit gigi Buat campuran 1 sendok teh bubuk kayu manis dan 5 sendok teh madu.
4. Kolesterol Kadar kolesterol darah dapat diturunkan dengan 2 sendok makan madu dan 3 sendok teh bubuk kayu manis yang dicampur dalam 16 ounce (16 kali 28 gram kira kira 1 pon = 454 gram) air teh. Ramuan ini dapat mengurangi kadar kolesterol dalam darah sampai 10 persen dalam 2 jam. Madu murni yang diminum sehari-hari meringankan gangguan kolesterol.
5. Pilek Pilek ringan dan berat dapat disembuhkan dengan 1 sendok makan madu suam-suam kuku dan ¼ sendok teh bubuk kayu manis setiap hari selama 3 hari. Ramuan ini dapat menyembuhkan hampir semua batuk dan pilek kronis serta membersihkan sinus.
6. Mandul Pengobatan Yunani dan Ayurveda telah menggunakan madu selama bertahun-tahun untuk memperkuat semen (air mani = sperma) para pria. Dua sendok makan madu yang diminum secara teratur sebelum tidur akan berefek menyuburkan. Wanita Jepang, Cina dan Asia Timur yang sulit hamil dan ingin memperkuat rahim, lazim mengkonsumsi bubuk kayu manis sejak berabad-abad lalu.
Wanita yang sulit hamil sebaiknya sesering mungkin mengoleskan madu dan sesendok teh bubuk kayu manis pada gusinya. Kayu manis akan bercampur dengan air ludah dan memasuki tubuh. Ada pasangan suami istri dari Maryland tidak memiliki keturunan selama 14 tahun dan nyaris putus asa. Ketika mengetahui khasiat kayu manis dan madu, mereka mengkonsumsi ramuan tersebut. Sang istri mulai mengandung dan melahirkan bayi kembar.
7. Sakit perut Madu yang dicampur bubuk kayu manis dapat mengobati sakit perut. Juga dapat membersihkan perut, serta menyembuhkan bisul sampai ke akar-akarnya.
8. Kembung Penelitian yang dilakukan di India dan Jepang menyatakan bahwa madu yang diminum bersama kayu manis dapat mengurangi gas dalam perut.
9. Bau napas Satu sendok teh madu dan bubuk kayu manis yang dicampur dalam air panas dapat membuat nafas tetap segar sehari penuh. Orang Amerika Selatan biasa meminum ramuan tersebut di pagi hari.
10. Sakit kepala sinus Minum campuran madu dan juice jeruk dapat menyembuhkan sakit kepala karena sinus.
11. Kelelahan Studi terakhir menunjukkan bahwa kandungan gula dalam madu lebih bermanfaat daripada merugi-kan bagi tubuh. Warga usia lanjut yang mengkonsumsi madu dan bubuk kayu manis dengan ukur-an sama, terbukti lebih bugar dan fleksibel. Penelitian Dr. Milton membuktikan ½ sendok makan madu yang diminum bersama segelas air dan ditaburi bubuk kayu manis dapat meningkatkan vitali-tas tubuh dalam seminggu. Ramuan tersebut diminum setiap hari setelah menggosok gigi dan jam 3 sore pada saat vitalitas tubuh menurun.
12. Kanker Riset terakhir di Jepang dan Australia menunjukan bahwa kanker perut dan tulang stadium lanjut dapat disembuhkan dengan madu dan kayu manis. Pasien cukup minum 1 sendok makan madu dengan 1 sendok teh bubuk kayu manis selama sebulan 3 kali sehari.
13. Kelebihan berat badan Minum segelas air yang direbus bersama madu dan bubuk kayu manis setiap pagi ½ jam sebelum sarapan atau saat perut masih kosong. Bila dilakukan secara teratur dapat mengurangi berat badan, bahkan bagi orang yang sangat gemuk, minum ramuan ini secara teratur akan mencegah lemak terakumulasi dalam tubuh, meski tetap makan makanan kalori tinggi.
14. Influenza Ilmuwan Spanyol telah membuktikan bahwa madu berisi kandungan alami yang membunuh kuman influenza dan menyembuhkan pasien dari flu. Maka minumlah madu ketika akan flu.
15. Jerawat Oleskan 3 sendok makan madu dan 1 sendok teh bubuk kayu manis pada wajah sebelum tidur. Basuh keesokan harinya dengan air hangat. Bila dilakukan rutin setiap hari selama 2 minggu, akan menyembuhkan jerawat sampai ke akar-akarnya.
16. Infeksi kulit Ambil 1 bagian madu dan 1 bagian bubuk kayu manis, oleskan pada bagian kulit yang sakit.
17. Mencegah penuaan Teh yang dicampur madu dan bubuk kayu manis dan diminum tiap hari dapat mencegah penuaan. Ambil 4 sendok madu, 1 sendok bubuk kayu manis dan 3 cangkir air kemudian rebus seperti mem-buat teh. Minumlah sebanyak 4 kali sehari. Ramuan ini membuat kulit segar dan halus serta men-cegah penuaan. Harapan hidup juga bertambah
18. Arthritis (radang sendi / Encok) Ambil 1 bagian madu dan 2 bagian air suam-suam kuku. Tambahkan 1 sendok teh kecil bubuk kayu manis. Campur madu, air suam-suam kuku dan bubuk kayu manis. Pijat ke bagian yang sakit secara perlahan. Rasa sakit akan berkurang dalam waktu 1-2 menit. Atau penderita arthritis dapat minum 1 cangkir air panas dengan 2 sendok madu dan 1 sendok teh kecil bubuk kayu manis setiap hari, pagi dan malam. Bila diminum teratur, ramuan ini dapat mengobati penyakit arthritis kronis. Penelitian terakhir Copenhagen University menggunakan campuran 1 sendok makan madu dan ½ sendok teh bubuk kayu manis yang diberikan kepada pasien sebelum sarapan. Hasilnya dalam seminggu 73 dari 200 pasien yang diobati sembuh total. Kebanyakan pasien yang tidak dapat berjalan atau bergerak karena arthritis dapat berjalan tanpa rasa sakit.
19. Penyakit jantung Oleskan madu dan bubuk kayu manis pada roti pada waktu sarapan setiap harinya. Madu dan kayu manis mengurangi kolesterol dalam pembuluh arteri, dan mengurangi resiko serangan jantung. Orang yang sudah terkena serangan jantung bila mengkonsumsi madu dan kayu manis setiap hari dapat terhindar dari serangan jantung kedua.
Konsumsi madu dan kayu manis secara teratur dapat memperlancar pernapasan dan memperkuat detak jantung. Panti Wredha (jompo) di Amerika dan Kanada, berhasil mengobati penghuninya yang memiliki gangguan pembuluh darah karena tersumbat, dan berkurang fleksibilitasnya karena usia, dengan ramuan tersebut.
Keterangan :
Bagi orang yang jarang minum madu reaksi / efek samping yang umumnya terjadi adalah diare , tetapi hal ini akan hilang dengan sendirinya. Banyak orang yang minum madu tatkala sakit saja. Tetapi bukankah mencegah lebih murah dari mengobati ,apalagi dalam kondisi krisis moneter saat ini, ditengah biaya rumah sakit dan obat yang semakin melambung tinggi.

Sumber : http://ekoassociate.wordpress.com/
Sumber : http://www.edumuslim.org

PEMBERIAN TERAPI KOYO TEMPEL PADA PENDERITA ALZHEIMER

JAKARTA, KOMPAS.com — Penggunaan teknologi baru dengan menggunakan patch (koyo tempel) dinilai dapat lebih membantu mengoptimalkan manfaat pengobatan terhadap pasien alzheimer dibanding dengan penggunaan pengobatan oral.
Alzheimer merupakan penyakit kronis yang menyebabkan terganggunya memori, pemikiran, perilaku, dan aktivitas fungsional.
Hal tersebut disampaikan Ketua Pokdi Neurigeriatri Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia (Perdossi) Pusat dr Abduldar Hamid, SpS (K), di sela-sela jumpa pers Penanganan Penyakit Parkinson, di Jakarta, Sabtu (4/4).
“Penggunaan patch bisa membantu mengoptimalkan manfaat pengobatan terhadap pasien al
zheimer,” kata dr Abdulbar.
Ia memaparkan hal itu berdasarkan studi yang dilakukan terhadap 1.195 pasien alzheimer pria dan wanita usia 50-85 tahun di 21 negara termasuk Asia, sebagian besar menyebutkan penggunaan teknologi patch yang ditempelkan pada dada, punggung, atau lengan atas dapat mengoptimalkan pengobatan.
Selain faktor kepatuhan pengobatan, studi tersebut juga menunjukkan laporan preferensi para caregivers yang membandingkan penggunaan patch dan oral dalam pengobatan alzheimer dengan melihat beberapa faktor, baik seperti kemudahan penggunaan, ukuran patch, maupun efek samping. Sekitar 70 persen caregivers memilih menggunakan teknologi patch karena dapat membantu lansia mematuhi jadwal pengobatan.
“Pengobatan alzheimer membutuhkan waktu yang panjang, sedangkan efek samping dari pengobatan yang ada banyak menyebabkan mual dan muntah sehingga pasien merasa tidak nyaman. Karena itu, dibutuhkan pengobatan yang lebih efektif,” ujarnya.

KOMENTAR
Menurut kami, pemberian terapi koyo pada penderita alzheimer juga bisa karena bisa membantu mempercepat pengobatan karena mudah dan juga pengobatannya bisa maksimal, karena ukuranya yang efisien sehinga penderita bisa tepat jadwal dalam pengobatanya

DAFTAR PUSTAKA

Budiman, M. 2009. Koyo.Tempel.Optimalkan.Pengobatan.Alzheimer http://kesehatan.kompas.com/read/2009/04/04/17221295/ 29 desember 2010

CHF

GAGAL JANTUNG KONGENTIF(CHF)

Disusun Oleh:
A.Shamsul Arif
Aprilia Wahyu
Churia Agustina
Elis Setyawati
Firman Rochimin
Sofian Eko Ferdiansyah
Siti Nur Wahyuni
Wiwin Sumila
Riza Dwi

PRODI D3 KEPERAWATAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
“INSAN CENDEKIA MEDIKA”
JOMBANG
2010
GAGAL JANTUNG KONGENTIF (CHF)
1.Definisi
Gagal jantung Kongsetif adalah ketidak mampuan jantung untuk memompa darah dalam jumlah yang cukup untuk memenuhi kebutuhan jaringan terhadap oksigen dan nutrient dikarenakan adanya kelainan fungsi jantung yang berakibat jantung gagal memompa darah untuk memenuhi kebutuhan metabolisme jaringan dan atau kemampuannya hanya ada kalau disertai peninggian tekanan pengisian ventrikel kiri (Braundwald).
Definisi alternative menurut Packer,gagal jantung kongensif merupakan suatu sindrom klinis yang rumit yang ditandai dengan adanya abnormalitas fungsi ventrikel kiri dan kelainan regulasi neurohormonal,disertai dengan intoleransi kerja kemampuan kerja fisis(effort intolerance),retensi cairan,dan memendekkan umur hidup(reduced longevity). Termasuk di dalam kedua batasan tersebut adalah suatu spectrum fisiologi klinis yang luas,mulai dari cepat menurunnya daya pompa jantung(misalnya pada infark jantung yang luas,takiaritma atau bradikardia yang mendadak),sampai pada keadaan dimana proses terjadinya kelainan fungsi ini berjalan secara bertahap tetapi progresif(misalnya pada pasien dengan kelainan jantung yang berupa pressure atau volume overload dan hal ini terjadi akibat penyakit pada jantung itu sendiri,seperti hipertensi,kelainan katup aorta atau mitral dll).
Secara singkat menurut sonenblik,gagal jantung itu terjadi apabila jantung tidak lagi mampu memompakan darah yang cukup untuk memenuhi kebutuhan metabolic tubuh pada tekanan pengisian yang normal,padahal aliran balik vena(venous return)ke jantung dalam keadaan normal
2.Etiologi
Kelainan otot Gagal jantung sering terjadi pada penderita kelainan otot jantung, disebabkan menurunnya kontraktilitas jantung. Kondisi yang mendasari penyebab kelainan fungsi otot jantung mencakup ateroslerosis koroner, hipertensi arterial dan penyakit degeneratif atau inflamasi Aterosklerosis koroner mengakibatkan disfungsi miokardium karenaTerganggunya aliran darah ke otot jantung. Terjadi hipoksia dan asidosis (akibat penumpukan asam laktat). Infark miokardium (kematian sel jantung) biasanya mendahului terjadinya gagal jantung. Peradangan degeneratif berhubungandengan gagal jantung karena kondisi yang secara langsung merusak serabut jantung menyebabkan kontraktilitas menurun.Hipertensi Sistemik atau pulmunal (peningkatan after load meningkatkan beban kerja jantung dan pada gilirannya mengakibatkan hipertrofi serabut otot jantung.
Peradangan dan penyakit myocardium degeneratif, berhubungan dengan gagal jantung karena kondisi ini secara langsung merusak serabut jantung, menyebabkan kontraktilitas menurun. Penyakit jantung lain, terjadi sebagai akibat penyakit jantung yang sebenarnya, yang secara langsung mempengaruhi jantung. Mekanisme biasanya terlibat mencakup gangguan aliran darah yang masuk jantung (stenosis katub semiluner), ketidakmampuan jantung untuk mengisi darah (tamponade, pericardium, perikarditif konstriktif atau stenosis AV), peningkatan mendadak after load
Faktor sistemik
Terdapat sejumlah besar factor yang berperan dalam perkembangan dan beratnya gagal jantung. Meningkatnya laju metabolisme (missal : demam, tirotoksikosis). Hipoksia dan anemi juga dapat menurunkan suplai oksigen ke jantung. Asidosis respiratorik atau metabolic dan abnormalita elektronik dapat menurunkan kontraktilitas jantung

3.PATOFISIOLOGI
Dasar patofisiologi gagal jantung
• Apabila ventrikel gagal untuk memompakan darah,maka darah akan terbendung dan tekanan di atrium serta vena-vena dibelakangnya akan naik(hipotesis backward failure oleh James Hope pada tahun1832)
• Menurut teori ini manifestasi gagal jantung timbul akibat berkurangnya aliran darah(cardiac output)ke sistem aterial,sehingga terjadi pengurangan perfusi pada organ-organ yang vital dengan segala akibatnya(hipotesis forward failure oleh Mackkenzie pada tahun 80 an setelah hipotesis backward failure)
Kedua hipotesis ini nsalinng melengkapi serta menjadi dasar patofisiologi gagal jantung:kalau ventrikel gagal mengosongkan darah maka menurut hipotesis
Backward failure :
• Isi dan tekanan (volumedan pressure) pada ahir fase diastolik meninggi.
• Isi dan tekanan akan meninggi pada atrium dibelakang ventrikel yang gagal
• Atrium ini akan bekerja dengan keras
• Tekanan pada vena dan kapiler dibelakang ventrikel yang gagal akan meninggi
• Terjadi transudasi pada jaringan interstitial(baik pulmonal maupun sistemik)
Akibat berkurangnya curah jantung serta aliran darah pada jaringan/ organ yang menyebabkan perfusi(terutama pada ginjal dengan melalui mekanisme yang rumit)yang akan mengakibatkan retensi garam dan cairan serta memperberat ekstravasasi cairan yang sudah terjadi.Selanjutnya terjadi gejala-gejala gagal jantung kongensif sebagai akibat bendungan pada jaringan dan organ
Kedua jenis kegagalan ini jarang bisa dibedakan secara tegas,karena kalau gagal jantung kongensif pada kenyataannya,mekanismenya berperan kecuali pada gagal jantung yang terjadi secara mendadak contoh forward failure:gagal ventrikel kanan akut yang terjadi akibat emboli paru yang masif,karena terjadi peninggian isi dan tekanan pada ventrikel kanan serta tekanan pada atrium kanan dan pembulu darah balik sistemik,tetapi pasien sudah meninggal sebelum terjadi ekstravasasi cairan yang menimbulkan kongesti pada vena-vena sistemik.forward failure tejadi akibat berkurangnya output ventrikel kiri dan renjatan kardiogenik dan yang akan menimbulkan berkurangnya perfusi jaringan/organ.Sedangkan backward failure terjadi akibat adanya output yang tidak sama(inequal) antara kedua ventrikel yang meskipun bersifat sementara berakibat tejadinya edema paru yang akut.
Jantung yang normal dapat berespon terhadap peningkatan kebutuhan metabolisme dengan menggunakan mekanisme kompensasi yang bervariasi untuk mempertahankan kardiak output, yaitu meliputi :
a. Respon system saraf simpatis terhadap barroreseptor atau kemoreseptor
b. Pengencangan dan pelebaran otot jantung untuk menyesuaikan terhadap peningkatan volume
c. Vaskontriksi arterirenal dan aktivasi system rennin angiotensin
d. Respon terhadap serum sodium dan regulasi ADH dan reabsorbsi terhadap cairan
Kegagalan mekanisme kompensasi dapat dipercepat oleh adanya volume darah sirkulasi yang dipompakan untuk melawan peningkatan resistensi vaskuler oleh pengencangan jantung. Kecepatan jantung memperpendek waktu pengisian ventrikel dari arteri coronaria. Menurunnya COP dan menyebabkan oksigenasi yang tidak adekuat ke miokardium. Peningkatan dinding akibat dilatasi menyebabkan peningkatan tuntutan oksigen dan pembesaran jantung (hipertrophi) terutama pada jantung iskemik atau kerusakan yang menyebabkan kegagalan mekanisme pemompaan.

4.JENIS-JENIS GAGAL JANTUNG KONGENTIF
 Gagal Jantung Backward & Foeward
• Apabila ventrikel gagal untuk memompakan darah,maka darah akan terbendung dan tekanan di atrium serta vena-vena dibelakangnya akan naik(hipotesis backward failure oleh James Hope pada tahun1832)
• Menurut teori ini manifestasi gagal jantung timbul akibat berkurangnya aliran darah(cardiac output)ke sistem aterial,sehingga terjadi pengurangan perfusi pada organ-organ yang vital dengan segala akibatnya(hipotesis forward failure oleh Mackkenzie pada tahun 80 an setelah hipotesis backward failure)
 Gagal Jantung Right-Sided Dan Left-Sided
Penjabaran Backward failure adalah adanya cairan bendungan dibelakang ventrikel yang gagal dan merupakan pertanda gagal jantung pada sisi mana yang terkena.Adanya kongesti pulmonal pada infark ventrikel kiri,hipertensi dan kelainan-kelainan pada katup aorta serta mitral menunjukkan gagal jantung kiri.
Apabila keadaan ini berlangsung cukup lama,cairan yang terbendung akan berakumulasi secara sistemik:di kaki,asites,hepatomegali,efusi npleura dll.dan menjadikan gambaran klinisnya sebagai gagal jantung kanan.
 Gagal Jantung Low-output Dan High-output
Gagal jantung golongan ini menunjukkan bagaimana keadaan curah jantung(tinggi atau rendahnya) sebagai penyebab terjadinya manifestasi klinis gagal jantung.Curah jantung yang rendah pada penyakit apa pun(bawaan,hipertensi,katup koroner,kardiomiopati) dapat menimbulkan low-output failure.Sedangkan pada penyakit dengan curah jantung yang tinggi misalnya pada tirokoktitosis,beri-beri, paget’s,anemia dan vistula arteri-vena.gagal jantung yang terjadi dinamakan high-output failfure.
 Gagal Jantung Akut Dan Menahun
Manifestasi klinis gagal jantung disini hanya menunjukkan saat atau lamanya gagal jantung terjadi atau berlangsung.Apabila terjadi mendadak ,misalnya pada infark jantung akut yang luas,dinamakan gagal jantung akut(biasanya sebagai gagal jantung kiri akut).Sedangkan pada penyakit-penyakit jantung katup,kardiomiopati atau gagal jantung akibat infar jantung lama,terjadi gagal jantung secara perlahan atau karena gagal jantungnya bertahan lama dengan pengobatan yang diberikan,dinamakan gagal jantung menahun
 Gagal Jantung Siastolik Dan Diastolik
Secara implisit definisi gagal jantung adalah apabila gagal jantung yang terjadi sebagai akibat abnormalitas fungsi sistolik yaitu ketidakmampuan mengeluarkan darah dari ventrikel,dimana sebagai gagal jantung sistolik .Jenis gagal jantung ini adalah yang paling klasik dan dikenal sehari-hari,penyebabnya adalah gangguan kemampuan intripik miokard.Sedangkan apabila abnormalitas kerja jantung pada fase diastolik,yaitu kemampuan pengisian darah pada ventrikel(terutama ventrikel kiri),misalnya pada iskemik jantung yang mendadak,hipertrofi konsentrik ventrikel kiri daan kardiomiopati restriktif,gagal jantung yang terjadi dinamakan gagal jantung diastolik
5.Manifestasi Klinis
1) Tanda dominan : Meningkatnya volume intravaskuler
Kongestif jaringan akibat tekanan arteri dan vena meningkat akibat penurunan curah jantung. Manifestasi kongesti berbeda tergantung pada kegagalan ventrikel mana yang terjadi.
2) Gagal Jantung Kiri : Kongesti paru menonjol pada gagal ventrikel kiri karena ventrikel kiri tak mampu memompa darah yang dating dari paru. Manifestasi klinis yang terjadi yaitu :
- Dispnea, Terjadi akibat penimbunan cairan dalam alveoli dan
-mengganggu pertukaran gas. Dapat terjadi ortopnoe. Beberapa pasien dapat mengalami ortopnoe -pada malam hari yang dinamakan Paroksimal Nokturnal Dispnea (PND)
- Batuk, Mudah lelah, Terjadi karena curah jantung yang kurang yang menghambat
- jaringan dan sirkulasi normal dan oksigen serta menurunnya pembuangan sisa hasil katabolisme Juga terjadi karena meningkatnya energi yang digunakan untuk bernafas dan insomnia yang terjadikarena distress pernafasan dan batuk
- Kegelisahan atau kecemasan, Terjadi karena akibat gangguan oksigenasi jaringan,
stress akibat kesakitan bernafas dan pengetahuan bahwa jantung tidak berfungsi dengan baik
3) Gagal jantung Kanan : – Kongestif jaringan perifer dan visceral
- Oedema ekstremitas bawah (oedema dependen), biasanya oedema pitting, penambahan BB.
- Hepatomegali dan nyeri tekan pada kuadran kanan atas
- abdomen terjadi akibat pembesaran vena hepar – Anoreksia dan mual, terjadi akibat pembesaran vena dan statis vena dalam rongga abdomen
- Nokturia -Kelemahan
4.Penatalaksanaan
Farmakologi : memberikan terapi antidiuretik, diit dan istirahat,
Dukungan diit : pembatasan natrium untuk mencegah, mengontrol atau menghilangkan oedema. Dukung istirahat untuk mengurangi beban kerja jantung
Meningkatkan kekuatan dan efisiensi kontraktilitas miokardium dengan preparat Terapi Farmakologis:
• Glikosida jantung U/meningkatkan kekuatan kontraksi otot jantung dan memperlambat frekuensi jantung. Efek yang dihasillkan : peningkatan curah jantung, penurunan tekanan vena dan volume darah dan peningkatan diurisi dan mengurangi oedema
• Terapi diuretic
Diberikan untuk memacu ekskresi natrium dan air melalui ginjal. Penggunaan harus hati-hati karena efek samping hiponatremia dan hipokalemia
• Terapi vasodilator
obat-obat fasoaktif digunakan untuk mengurangi impadasi tekanan terhadap penyemburan darah oleh ventrikel. Obat ini memperbaiki pengosongan ventrikel dan peningkatan kapasitas vena sehingga tekanan pengisian ventrikel kiri dapat diturunkan.

5.Asuhan Keperawatan Dengan Pasien CHF
A.Pengkajian
Gagal serambi kiri/kanan dari jantung mengakibtkan ketidakmampuan memberikan keluaran yang cukup untuk memenuhi kebutuhan jaringan dan menyebabkan terjadinya kongesti pulmonal dan sistemik. Karenanya diagnostik dan teraupetik berlnjut . GJK selanjutnya dihubungkan dengan morbiditas dan mortalitas
1. Aktivitas/istirahat
• Gejala: Keletihan/kelelahan terus menerus sepanjang hari, insomnia, nyeri dada dengan aktivitas, dispnea pada saat istirahat.
• Tanda: Gelisah, perubahan status mental misalnya: letargi, tanda vital berubah pad aktivitas.
2. Sirkulasi
• Gejala: Riwayat HT, IM baru/akut, episode GJK sebelumnya, penyakit jantung , bedah jantung , endokarditis, anemia, syok septic, bengkak pada kaki, telapak kaki, abdomen.
• Tanda:TD; mungkin rendah (gagal pemompaan), Tekanan Nadi ; mungkin sempit, Irama Jantung; Disritmia, Frekuensi jantung; Takikardia, Nadi apical ; PMI mungkin menyebar dan merubah posisi secara inferior ke kiri, Bunyi jantung ; S3 (gallop) adalah diagnostik, S4 dapat, terjadi, S1 dan S2 mungkin melemah, Murmur sistolik dan diastolic, Warna; kebiruan, pucat abu-abu, sianotik, Punggung kuku; pucat atau sianotik dengan pengisian, kapiler lambat, Hepar ; pembesaran/dapat teraba, Bunyi napas; krekels, ronkhi, Edema; mungkin dependen, umum atau pitting khususnya pada ekstremitas
3. Integritas ego
• Gejala: Ansietas, kuatir dan takut. Stres yang berhubungan dengan penyakit/keperihatinan finansial (pekerjaan/biaya perawatan medis)
• Tanda: Berbagai manifestasi perilaku, misalnya: ansietas, marah, ketakutan dan mudah tersinggung.
4. Eliminasi
• Gejala: Penurunan berkemih, urine berwana gelap, berkemih malam hari (nokturia), diare/konstipasi.
5. Makanan/cairan
• Gejala: Kehilangan nafsu makan, mual/muntah, penambahan berat badan signifikan, pembengkakan pada ekstremitas bawah, pakaian/sepatu terasa sesak, diet tinggi garam/makanan yang telah diproses dan penggunaan diuretic.
• Tanda: Penambahan berat badan cepat dan distensi abdomen (asites) serta edema (umum, dependen, tekanan dan pitting).
6. Hygiene
• Gejala: Keletihan/kelemahan, kelelahan selama aktivitas Perawatan diri.
• Tanda: Penampilan menandakan kelalaian perawatan personal.
7. Neurosensori
• Gejala: Kelemahan, pening, episode pingsan.
• Tanda: Letargi, kusut pikir, diorientasi, perubahan perilaku dan mudah tersinggung.
8. Nyeri/Kenyamanan
• Gejala: Nyeri dada, angina akut atau kronis, nyeri abdomen kanan atas dan sakit pada otot.
• Tanda: Tidak tenang, gelisah, focus menyempit danperilaku melindungi diri.
9. Pernapasan
• Gejala: Dispnea saat aktivitas, tidur sambil duduk atau dengan beberapa bantal, batuk dengn/tanpa pembentukan sputum, riwayat penyakit kronis, penggunaan bantuan pernapasan.
• Tanda: Pernapasan; takipnea, napas dangkal, penggunaan otot asesori pernapasan. Batuk: Kering/nyaring/non produktif atau mungkin batuk terus menerus dengan/tanpa pemebentukan sputum. Sputum; Mungkin bersemu darah, merah muda/berbuih (edema pulmonal). Bunyi napas; Mungkin tidak terdengar. Fungsi mental; Mungkin menurun, kegelisahan, letargi. Warna kulit; Pucat dan sianosis.
10. Keamanan
• Gejala: Perubahan dalam fungsi mental, kehilangankekuatan/tonus otot, kulit lecet.
11. Interaksi sosial
• Gejala: Penurunan keikutsertaan dalam aktivitas sosial yang biasa dilakukan.
12. Pembelajaran/pengajaran
• Gejala: menggunakan/lupa menggunakan obat-obat jantung, misalnya: penyekat saluran kalsium.
• Tanda: Bukti tentang ketidak berhasilan untuk meningkatkan.
B.DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Penurunan curah jantung berhubungan dengan Perubahan kontraktilitas miokardial/perubahan inotropik, Perubahan frekuensi, irama dan konduksi listrik, Perubahan structural.
2. Aktivitas intoleran berhubungan dengan ketidakseimbangan antar suplai oksigen. Kelemahan umum, Tirah baring lama/immobilisasi
3. Resiko tinggi gangguan pertukaran gas berhubungan dengan perubahan membran kapiler-alveolus.
4. Resiko tinggi terhadap kerusakan integritas kulit berhubungan dengan tirah baring lama, edema dan penurunan perfusi jaringan.
5. Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar) mengenai kondisi dan program pengobatan berhubungan dengan kurang pemahaman/kesalahan persepsi tentang hubungan fungsi jantung/penyakit/gagal.

C.INTERVENSI KEPERAWATAN
DX 1. Penurunan curah jantung berhubungan dengan Perubahan kontraktilitas miokardial/perubahan inotropik, Perubahan frekuensi, irama dan konduksi listrik, Perubahan structural.

Ditandai dengan :
• Peningkatan frekuensi jantung (takikardia): disritmia, perubahan gambaran pola EKG
• Perubahan tekanan darah (hipotensi/hipertensi).Bunyi ekstra (S3 & S4)
• Penurunan keluaran urine
• Nadi perifer tidak teraba
• Kulit dingin kusam
• Ortopnea,krakles, pembesaran hepar, edema dan nyeri dada.
Tujuan :
• Klien akan menunjukkan tanda vital dalam batas yang dapat diterima (disritmia terkontrol atau hilang) dan bebas gejala gagal jantung, melaporkan penurunan epiode dispnea, angina, Ikut serta dalam aktivitas yang mengurangi beban kerja jantung.
Intervensi :
• Auskultasi nadi apical; kaji frekuensi, iram jantung. Rasional: Biasanya terjadi takikardi (meskipun pada saat istirahat) untuk mengkompensasi penurunan kontraktilitas ventrikel.
• Catat bunyi jantung. Rasional: S1 dan S2 mungkin lemah karena menurunnya kerja pompa. Irama Gallop umum (S3 dan S4) dihasilkan sebagai aliran darah ke serambi yang disteni. Mur-mur dapat menunjukkan inkompetensi/stenosis katup.
• Palpasi nadi perifer. Rasional: Penurunan curah jantung dapat menunjukkan menurunnya nadi radial, popliteal, dorsalis, pedis dan posttibial. Nadi mungkin cepat hilang atau tidak teratur untuk dipalpasi dan pulse alternan.
• Pantau TD. Rasional: Pada GJK dini, sedng atu kronis tekanan drah dapat meningkat. Pada HCF lanjut tubuh tidak mampu lagi mengkompensasi dan hipotensi tidak dapat normal lagi.
• Kaji kulit terhadap pucat dan sianosis. Rasional: Pucat menunjukkan menurunnya perfusi perifer sekunder terhadap tidak adekutnya curah jantung; vasokontriksi dan anemia. Sianosis dapt terjadi sebagai refrakstori GJK. Area yang sakit sering berwarna biru atu belang karena peningkatan kongesti vena.
• Berikan oksigen tambahan dengan kanula nasal/masker dan obat sesuai indikasi (kolaborasi). Rasional: Meningkatkn sediaan oksigen untuk kebutuhan miokard untuk melawan efek hipoksia/iskemia. Banyak obat dapat digunakan untuk meningkatkan volume sekuncup, memperbaiki kontraktilitas dan menurunkan kongesti.
DX 2 Aktivitas intoleran berhubungan dengan ketidakseimbangan antar suplai oksigen. Kelemahan umum, Tirah baring lama/immobilisasi
Ditandai dengan :
• Kelemahan, kelelahan, perubahan tanda vital, adanya disritmia, dispnea, pucat, berkeringat.
Tujuan /kriteria evaluasi :
• Klien akan berpartisipasi pada aktivitas yang diinginkan, memenuhi perawatan diri sendiri, mencapai peningkatan toleransi aktivitas yang dapat diukur, dibuktikan oleh menurunnya kelemahan dan kelelahan.
Intervensi :
• Periksa tanda vital sebelum dan segera setelah aktivitas, khususnya bila klien menggunakan vasodilator, diuretic dan penyekat beta. Rasional: Hipotensi ortostatik dapat terjadi dengan aktivitas karena efek obat (vasodilasi), perpindahan cairan (diuretic) atau pengaruh fungsi jantung.
• Catat respons kardiopulmonal terhadap aktivitas, catat takikardi, disritmia, dispnea berkeringat dan pucat. Rasional: Penurunan/ketidakmampuan miokardium untuk meningkatkan volume sekuncup selama aktivitas dpat menyebabkan peningkatan segera frekuensi jantung dan kebutuhan oksigen juga peningkatan kelelahan dan kelemahan.
• Evaluasi peningkatan intoleran aktivitas. Rasional: Dapat menunjukkan peningkatan dekompensasi jantung daripada kelebihan aktivitas.
• Implementasi program rehabilitasi jantung/aktivitas (kolaborasi) Rasional: Peningkatan bertahap pada aktivitas menghindari kerja jantung/konsumsi oksigen berlebihan. Penguatan dan perbaikan fungsi jantung dibawah stress, bila fungsi jantung tidak dapat membaik kembali.
DX 3. Resiko tinggi gangguan pertukaran gas berhubungan dengan perubahan membran kapiler-alveolus
Tujuan /kriteria evaluasi :
• Klien akan mendemonstrasikan ventilasi dan oksigenisasi adekuat pada jaringan ditunjukkan oleh oksimetri dalam rentang normal dan bebas gejala distress pernapasan, berpartisipasi dalam program pengobatan dalam batas kemampuan/situasi.
Intervensi:
• Pantau bunyi nafas, catat krekles. Rasional: menyatakan adnya kongesti paru/pengumpulan secret menunjukkan kebutuhan untuk intervensi lanjut.
• Ajarkan/anjurkan klien batuk efektif, nafas dalam. Rasional: membersihkan jalan nafas dan memudahkan aliran oksigen.
• Dorong perubahan posisi. Rasional: Membantu mencegah atelektasis dan pneumonia.
• Kolaborasi dalam Pantau/gambarkan seri GDA, nadi oksimetri. Rasional: Hipoksemia dapat terjadi berat selama edema paru.
Berikan obat/oksigen tambahan sesuai indikasi
DX 4. Resiko tinggi terhadap kerusakan integritas kulit berhubungan dengan tirah baring lama, edema dan penurunan perfusi jaringan.
Tujuan/kriteria evaluasi :
• Klien akan mempertahankan integritas kulit, mendemonstrasikan perilaku/teknik mencegah kerusakan kulit.
Intervensi :
• Pantau kulit, catat penonjolan tulang, adanya edema, area sirkulasinya terganggu/pigmentasi atau kegemukan/kurus. Rasional: Kulit beresiko karena gangguan sirkulasi perifer, imobilisasi fisik dan gangguan status nutrisi.
• Pijat area kemerahan atau yang memutih. Rasional: meningkatkan aliran darah, meminimalkan hipoksia jaringan.
• Ubah posisi sering ditempat tidur/kursi, bantu latihan rentang gerak pasif/aktif. Rasional: Memperbaiki sirkulasi waktu satu area yang mengganggu aliran darah.
• Berikan perawatan kulit, minimalkan dengan kelembaban/ekskresi. Rasional: Terlalu kering atau lembab merusak kulit/mempercepat kerusakan.
• Hindari obat intramuskuler. Rasional: Edema interstisial dan gangguan sirkulasi memperlambat absorbsi obat dan predisposisi untuk kerusakan kulit/terjadinya infeksi.
DX 5. Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar) mengenai kondisi dan program pengobatan berhubungan dengan kurang pemahaman/kesalahan persepsi tentang hubungan fungsi jantung/penyakit/gagal.

Ditandai dengan :
• Pertanyaan masalah/kesalahan persepsi, terulangnya episode GJK yang dapat dicegah.
Tujuan/kriteria evaluasi :
• Mengidentifikasi hubungan terapi untuk menurunkan episode berulang dan mencegah komplikasi.
• Mengidentifikasi stress pribadi/faktor resiko dan beberapa teknik untuk menangani.
• Melakukan perubahan pola hidup/perilaku yang perlu.
Intervensi :
• Diskusikan fungsi jantung normal. Rasional: Pengetahuan proses penyakit dan harapan dapat memudahkan ketaatan pada program pengobatan.
• Kuatkan rasional pengobatan. Rasional: Klien percaya bahwa perubahan program pasca pulang dibolehkan bila merasa baik dan bebas gejala atau merasa lebih sehat yang dapat meningkatkan resiko eksaserbasi gejala.
• Anjurkan makanan diet pada pagi hari. Rasional: Memberikan waktu adequate untuk efek obat sebelum waktu tidur untuk mencegah/membatasi menghentikan tidur.
• Rujuk pada sumber di masyarakat/kelompok pendukung suatu indikasi. Rasional: dapat menambahkan bantuan dengan pemantauan sendiri/penatalaksanaan dirumah.

DAFTAR PUSTAKA
FKUI(1996,)Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam,Jilid 1,Edisi 111,Jakarta.
Brummer & Suddart. 2002. Edisi 8. Vol 2. Jakarta : EGC.
Carpenito, L. J. 2001. Rencana Asuhan dan Dokumentasi Keperawatan, Diagnosa Keperawatan dan Masalah Keperawatan. Jakarta : EGC. Diane, Boughman. 2000.

Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta : EGC. Doenges, Marlyn. 1999.
Rencana Asuhan Keperawatan. Jakarta : EGC. Long. Barbara C. 1996.
Perawatan Medikal Bedah Vol. 2. Bandung : Yayasan Alummi Pendidikan Keperawatan Padjajaran. Mahasiswa PSIK.B. 2001.
Diagnosa Keperawatan. Nanda. Definisi dan Klafikasi. 2001-2002. Yogyakarta : FK-UGM. Mansjoer Arif. 1999.
Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta : Media Aesculapius : FKUL. Robin dan Kumar. 1995.
Buku Ajar Patologi II. Jakarta : EGC

SISTEM PERKEMIHAN
ASKEP URETRITIS

Disusun Oleh : Kelompok
1. Agus Siswantoro
2. Mashudin F.

PRODI D3 KEPERAWATAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
“INSAN CENDEKIA MEDIKA“
JOMBANG
2009/2010

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT karena berkat rahmat dan nikmatnya kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “URETRITIS” ini dengan baik dan tepat waktu.
Kami menyadari makalah ini masih jauh dari sempurna, untuk itu kritik dan saran yang membangun sangat kami harapkan demi kesempurnaan makalah ini.
Makalah ini tidak akan mungkin selasai tanpa bantuan dari berbagai pihak, untuk itu kami mengucapkan terima kasih kepada :
1. B. Nita, S.Kep.Ns selaku dosen s.Perkemihan
2. Serta teman-teman kelas III A
Dan berbagai pihak lain yang tidak dapat kami sebutkan satu persatu.
Dengan segala kerendahan hati kami berharap makalah ini berguna dan bermanfaat bagi yang memerlukannya.

Jombang, Desember 2010

Penulis

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL i
KATA PENGANTAR ii
DAFTAR ISI iii
BAB I PEMBAHASAN 1
A. Definisi 1
B. Etiologi 1
C. Klasifikasi 1
D. Manifestasi Klinis 3
E. Patofisiologi 3
F. Pemeriksaan Diagnostik 4
ASUHAN KEPERAWATAN 8
A. Pengkajian 8
B. Diagnosa Keperawatan 9
C. Intervensi 9
DAFTAR PUSTAKA 12

BAB I
PEMBAHASAN

1.1 DEFINISI
Uretritis adalah peradangan / inflamasi pada uretra atau suatu infeksi yang menyebar keatas / asending.

1.2 ETIOLOGI
• Kuman Gonorrhoe (N.Gonorhoe)
• Kuman Non-Gonorrhoe (Klamidia Trakomatik / Urea Plasma Urelytikum)
• Tindakan invasif
• Iritasi batu ginjal
• Trihomonas vaginalis
• Organisme gram negatif :
- Escherichia coli
- Entero bakteri
- Pseudomonas
- Klebsiella dan Proteus

1.3 KLASIFIKASI
1. Uretritis Akut
Biasanya terjadi karena asending infeksi, atau sebaliknya oleh karena prostat mengalami infeksi. Keadaan ini sering diderita oleh kaum pria.

# Tanda dan gejala :
- Mukosa merah dan edema.
- Terdapat cairan eksudat yang purulent.
- Ada ulserasi pada uretra.
- Ada rasa gatal yang menggelitik
- Pada pria pembuluh darah kapiler melebar, kelenjar uretra tersumbat oleh
kelompok nanah
- Pada wanita jarang ditemukan uretritis akut, kecuali bila pasien menderita
gonorhoe.

# Pemeriksaan Diagnostik :
Dilakukan pemeriksaan terhadap sekret uretra untuk mengetahui kuman penyebab.

# Tindakan Pengobatan :
a. Pemberian antibiotika
b. Bila terjadi striktura, dilakukan dilatasi uretra dengan menggunakan bougie.

# Komplikasi :
1. Prostatitis
2. Peri uretral abses yang dapat sembuh, kemudian menimbulkan striktura atau
Fistul uretra.

2. Uretritis Kronis
# Penyebab :
- Pengobatan yang tidak sempurna pada masa akut.
- Prostatitis kronis.
- Striktura uretra.

# Tanda dan gejala :
- Mukosa terlihat granuler dan merah
- Getah uretra (+), dapat dilihat pada pagi hari sebelum miksi pertama.

# Prognosa :
Bila tidak diobati dengan baik, infeksi dapat menjalar ke kandung kemih, ureter & ginjal.

# Tindakan pengobatan :
- Pemberian antibiotik
- Banyak minum untuk melarutkan bakteri (+ 3000 cc/ hari).

# Komplikasi :
1. Radang dapat menjalar ke prostate
2. Prostatitis
Prostatitis bakterial akut terjadi dengan gejala-gejala infeksi saluran kemih bagian bawah, nyeri di perineum atau obstruksi. Hasil pemeriksaan menunjukkan prostat yang membengkak dan lunak. Urinalisis biasanya menunjukkan piuria dan bakteriuria dengan hasil kultur uropatogen yang khas.

1.4 MANIFESTASI KLINIK UMUM
1. Mukosa memerah dan edema
2. Terdapat cairan exudat yang purulent
3. Ada ulserasi pada uretra
4. Adanya rasa gatal yang menggelitik
5. Adanya pus pada awal miksi
6. Nyeri pada saat miksi
7. Kesulitan untuk memulai miksi
8. Nyeri pada abdomen bagian bawah

1.5 PATOFISIOLOGI
- Invasi kuman (gonorrhoe, trihomonas vaginalis gram negatif) uretritis
- Iritasi (iritasi batu ginjal, iritasi karena tindakan invasif menyebabkan retak dan
permukaan mukosa pintu masuknya kuman proses peradangan uretritis).
Pada kebanyakan kasus organisme penyebab dapat mencapai kandung kemih melalui uretra. Infeksi ini sebagai sistitis, dapat terbatas di kandung kemih saja / dapat merambat ke atas melalui uretra ke ginjal. Organisme juga dapat sampai ke ginjal atau melalui darah / getah bening, tetapi ini jarang terjadi. Tekanan dari kandung kemih menyebabkan saluran kemih normal dapat mengeluarkan bakteri yang ada sebelum bakteri tersebut sampai menyerang mukosa.
Obstruksi aliran kemih proksimal terhadap kandung kemih mengakibakan penimbunan cairan, bertekanan dalam pelvis ginjal dan ureter. Hal ini dapat menyebabkan atrofi hebat pada parenkim ginjal / hidronefrosis. Disamping itu obstruksi yan6g terjadi di bawah kandung kemih sering disertai refluk vesiko ureter dan infeksi pada ginjal. Penyebab umum obstruksi adalah jaringa parut ginjal dan uretra, batu saluran kemih, neoplasma, hipertrofi prostat, kelainan kongenital pada leher kandung kemih dan uretra serta penyempitan uretra.

1.6 PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
- Kultur urine : Mengidentifikasi organisme penyebab
- Urine analisis/urinalisa : Memperlihatkan bakteriuria, sel darah putih, dan endapan sel darah merah dengan keterlibatan ginjal
- Darah lengkap
- Sinar-X ginjal, ureter dan kandung kemih mengidentifikasi anomali struktur nyata.
- Pielogram intravena (IVP) : Mengidentifikasi perubahan atau abnormalitas struktur.

ASUHAN KEPERAWATAN

A. PENGKAJIAN
1. Identitas
- Usia : Semua usia bisa terkena penyakit ini, biasanya lebih sering pada umur >45 thun.
- Jenis kelamin : Perempuan lebih rentan terkena uretritis dibanding laki-laki.
- Alamat/tempat tinggal : Tempat/daerah yeng sering terjadi/sebagai faktor resiko peyebaran, seperti daerah lokalisasi, daerah perairan, dsb.

2. Riwayat Penyakit
- Riwayat penyakit sekarang : Masuk rumah sakit dengan keluhan nyeri dan panas pada daerah kelamin terutama pada saat berkemih, kadang juga disertai darah dan nanah.
- Riwayat penyakit dahulu : Penyebab penyakit biasanya akibat dari penyakit DM,
- Riwayat penyakit sekarang : Penyakit keluarga biasanya seperti : DM,

3. Observasi & Pemeriksaan Fisik
1. Observasi Tanda-tanda Vital
- S : Suhu meningkat (biasanya antara 37,5-38,5 C)
- N : Nadi meningkat (biasanya >100 x/mnt)
- RR : Pernafasan normal (18-20 x/mnt)
- TD : Tekanan darah normal (110/70-130/90 mmHg)

2. Pemeriksaan Fisik
a). Pemeriksaan S.Pernafasan
- Pernafasan pendek, karena menahan nyeri (nyeri daerah simpisis pubis)
b). Pemeriksaan S.Kardiovaskuler
- Tidak ada gangguan pada sistem kardiovaskuler
c). Pemeriksaan S.Persepsi-sensori
- Tidak ada gangguan pada sistem persersi-sensori
d). Pemeriksaan S.Muskulus
- Tidak ada gangguan pada sisitem muskulus
e). Pemeriksaan S.Pencernaan
- Abdomen tegang dan nyeri tekan pada daerah simpisis pubis/perut bagian bawah.
f). Pemeriksaan S.Perkemihan
- Nyeri dan panas saat berkemih
- Terjadi disuria, hematuria, & piuria
- Mukosa memerah dan edema
- Terdapat cairan eksudat yang purulent
- Ada ulserasi pada uretra
- Adanya rasa gatal yang menggelitik
- Adanya pus pada awal miksi
- Kesulitan untuk memulai miksi
- Nyeri pada abdomen bagian bawah

B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Nyeri b/d proses peradangan
2. Hipertermi b/d proses peradangan
3. Resiko infeksi b/d penyebaran patogen secara sistemik
4. Gangguan eliminasi urine b/d obstruksi/edema/proses peradangan pada saluran kemih.

C. INTERVENSI
1. Dx : Nyeri b/d proses peradangan
Tujuan : Rasa nyeri bisa berkurang / hilang
Kriteria Hasil :
1. Klien mengungkapkan nyeri berkurang/hilang
2. Tidak ada nyeri abdomen bawah / daerah simpisis pubis
3. Mukosa uretra tidak memerah / edema
4. Tidak ada nyeri saat berkemih
5. Ekspresi wajah tenang
DS : Px biasanya mengeluh nyeri dan panas pada daerah kelamin terutama pada saat berkemih.
DO : – Ekspresi wajah meringis, menahan nyeri
- Px sering memegang kelamin, sering memegang perut bagian bawah & sering menggaruk-2 daerah kelamin
Intervensi
a). Mandiri :
1. Kaji tingkat nyeri, lokasi & intensitas
R/ : Untuk membantu mengevaluasi tempat obstruksi & penyebab nyeri
2. Berikan tindakan nyaman, seperti pijatan
R/ : Meningkatkan relaksasi & menurunkan tegangan otot
3. Alihkan perhatian pada hal yang menyenangkan
R/ : Relaksasi, menghindari terlalu merasakan nyeri
4. Pantau pola berkemih secara berkala
R/ : Untuk mengidentifikasi indikasi kemajuan / pengunduran gejala / penyakit.
b). Kolaborasi :
1. Berikan analgetik sesuai kebutuhan & evaluasi keberhasilannya
R/ : Analgetik memblok lintasan nyeri, sehingga mengurangi nyeri

2. Dx : Hipertermi b/d Proses Peradangan
Tujuan : Suhu tubuh normal (36,5-37,2 C)
Kriteria Hasil :
1. Pasien bebas dari demam
2. Pasien mengatakan tubuh tidak terasa panas
3. Mukosa uretra tidak memerah / edema
4. Suhu tubuh dan nadi normal
5. Ekspresi wajah tenang/tidak menyeringai

DS : Px biasanya mengeluh tubuh terasa panas
DO : – Ekspresi wajah meringis/menyeringai
- Suhu meningkat (biasanya antara 37,5-38,5 C)
- Nadi meningkat (biasanya >100 x/mnt)
Intervensi :
1. Kaji timbulnya demam
R/ : Untuk mengidentifikasi pola demam pasien
2. Observasi tanda-tanda vital (suhu, nadi, tekanan darah, & pernafasan)
R/ : Tanda vital merupakan acuan untuk mengetahui kaeadaan umum pasien
3. Anjurkan pasien untuk banyak minum
R/ : Peningkatan suhu tubuh mengakibatkan penguapan tubuh meningkat sehingga perlu diimbangi dengan asupan cairan yang banyak
4. Berikan kompres hangat
R/ : Dengan vasodilatasi dapat meningkatkan penguapan yang dapat mempercepat penurunan suhu tubuh.

3. Dx : Resiko infeksi b/d penyebaran patogen secara sistemik
Tujuan : Tidak ada tanda – tanda infeksi
Kriteria Hasil :
1. Urine berwarna orange jernih / normal
2. Urine tidak mengandung / bercampur darah dan nanah

DS : Px biasanya mengeluh waktu berkemih disertai darah dan nanah
DO : – Adanya sekret / lendir / pus pada awal miksi
- Mukosa merah dan edema pada uretra / saluran kemih
- Urine berwarna merah
Intervensi
a). Mandiri :
1. Tingkatkan kebersihan yang baik pada pasien, keluarga dan tenaga kesehatan
R/ : Menurunkan resiko kontaminasi silang
2. Awasi / pantau tanda-tanda vital
R/ : Demam dengan peningkatan nadi dan pernafasan & tanda vital merupakan acuan untuk mengetahui kaeadaan umum pasien
3. Dorong peningkatan pemasukan cairan
R/ : Meningkatkan hidrasi untuk membilas bakteri
4. Berikan perawatan parineal
R/ : Dapat mencegah kontaminasi uretra
b). Kolaborasi :
1. Lakukan tindakan untuk memelihara asam urine (Tingkatkan masukan sari buah berri dan berikan obat-obat untuk meningkatkan asam urine)
R/ : Asam urine menghalangi, membunuh / mengurangi tumbuhnya kuman, peningkatan masukan sari buah dapat berpegaruh dalam pengobatan infeksi.
2. Berikan antibiotik sesuai kebutuhan & evaluasi keberhasilannya
R/ : Dapat mencegah/mengurangi kolonisasi periuretra agar tidak terjadi kekambuhan infeksi.

4. Dx : Perubahan eliminasi urine b/d obstruksi / edema / proses peradangan pada saluran kemih
Tujuan : Px dapat mempertahankan pola eliminasi urine / BAK secara adekuat
Kriteria Hasil :
1. Klien dapat berkemih / BAK secara lancar
2. Klien tidak kesulitan saat berkemih
3. Pola eliminasi membaik, tidak terjadi tanda-tanda gangguan berkemih (seperti : disuria, piuria, & hematuria)

DS : Px biasanya mengeluh kesulitan untuk memulai miksi / berkemih
DO : – Mukosa merah dan edema pada uretra / saluran kemih
Intervensi
a). Mandiri :
1. Awasi pemasukan dan pengeluaran karakteristik urine
R/ : Memberikan dan mengetahui informasi tentang fungsi ginjal dan adanya komplikasi
2. Dorong peningkatan pemasukan cairan
R/ : Meningkatkan hidrasi untuk membilas bakteri
b). Kolaburasi :
1. Awasi pemeriksaan laboratorium (elektrolit, BUN, keratinin)
R/ : Pengawasan terhadap disfungsi ginjal

DAFTAR PUSTAKA

1. Nursalam & B.B,Fransisca. 2009. Askep pada Pasien dengan Gangguan Sistem Perkemihan. Jakarta : Salemba Medika.
2. E.Dongoes, Marilynn & Moorhouse, Mary Frances & C.Geissler, Alice. 1999. Rencana Askep Pedoman untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien Ed.3. Jakarta : EGC.
3. Http//www.geogle.com, Hari Senin jm 13.00
4. Http//www.geogle.com, Hari Kamis jm 11.00

ASUHAN KEPERAWATAN
KLIEN POST OPERASI TONSILEKTOMI

Di susun oleh:
Didit Novianto
Elis Setyawati
Linda Trijayanti
Rio Maulana
Rohmatul Dwi Sasmita
Wiwin Sumila
Yendra Satria P

PRODI D3 KEPERAWATAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
INSAN CENDEKIA MEDIKA
JOMBANG
2010
KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Kami tim penulis makalah mengenai penyakit mata yang berjudul Asuhan Keperawatan Klien Post Operasi Tonsilektomi mengucapkan puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmat dan karunia-Nya kita dapat menyelesaikan makalah ini.
Makalah ini disajikan dalam bentuk penjelasan, etiologi, patofisiologi, manifestasi klinis, penatalaksanaan serta asuhan keperawatan teori pada klien post operasi tonsilektomi.
Kami menyadari bahwa dengan menyusun atau menulis makalah ini masih banyak kekuranganya, kritik dan saran kami harapkan dari teman-teman dan Dosen pembimbing kami.
Semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua dan bisa mengembangkan pengetahuan kita tentang Asuhan Keperawatan Klien Post Operasi Tonsilektomi

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Jombang, Desember 2010

Tim Penulis

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Tonsilektomi merupakan pembedahan yang paling banyak dan biasa dilakukan di bagian THT (Telinga, Hidung dan Teng-gorok), oleh karena itu sering dianggap sebagai pembedahan kecil saja. Tetapi bagaimanapun juga, tonsilektomi adalah suatu pembedahan yang merupakan tindakan manipulasi yang dapat menimbulkan trauma dengan risiko kerusakan jaringan. Komplikasi mulai dari yang ringan bahkan sampai mengancam kematian atau gejala subyektifpada pasien berupa rasa nyeri pasca bedah dapat saja terjadi.
Tahun 1867 dikatakan bahwa sejak tahun 1000 sebelum masehi orang Indian asiatik sudah terampil dalam melakukan tonsilektomi. Frekuensi tindakan ini mulai menurun sejak ditemukannya antibiotik untuk pengobatan penyakit infeksi.
Di Amerika, tonsilektomi digolongkan operasi mayor karena kekhawatiran komplikasi, sedangkan di Indonesia tonsilektomi digolongkan operasi sedang karena durasi operasi pendek dan tidak sulit.
Di Indonesia data nasional mengenai jumlah operasi tonsilektomi belum ada. Namun data yang didapatkan dari RSUPNCM selama 5 tahun terakhir (1993-2003) menunjukan kecenderungan penurunan jumlah operasi tonsilektomi dengan puncak kenaikan pada tahun kedua (275 kasus) dan terus menurun sampai tahun 2003 ( 152 kasus).
B. Tujuan
a. Mengetahui dan mempelajari mengenai anatomi serta definisi asuhan keperawatan post operasi tonsilektomi.
b. Mengetahui indikasi dan kontraindikasi pada tonsilektomi.
c. Mengetahui etiologi, patofisiologi, pencegahan, pengobatan, penatalaksanaan serta komplikasi yang ditimbulkan pada klien post operasi tonsilektomi.
d. Mengetahui da memahami asuhan keperawatan pada klien post operasi tonsilektomi.

BAB II
RIVIEW ANATOMI
ANATOMI
Tonsil palatina dan adenoid (tonsil faringeal) merupakan bagian terpenting dari cincin waldeyer. Jaringan limfoid yang mengelilingi faring, pertama kali digambarkan anatominya oleh Heinrich von Waldeyer, seorang ahli anatomi Jerman. Jaringan limfoid lainnya yaitu tonsil lingual, pita lateral faring dan kelenjar-kelenjar limfoid. Kelenjar ini tersebar dalam fossa Rossenmuler, dibawah mukosa dinding faring posterior faring dan dekat orificium tuba eustachius (tonsil Gerlach’s).
Tonsil palatina adalah massa jaringan limfoid yang terletak didalam fosa tonsil pada kedua sudut orofaring dan dibatasi oleh pilar anterior (otot palatoglosus) dan pilar posterior (otot palatofaringeus). Palatoglosus mempunyai origo seperti kipas dipermukaan oral palatum mole dan berakhir pada sisi lateral lidah. Palatofaringeus merupakan otot yang tersusun vertikal dan diatas melekat pada palatum mole, tuba eustachius dan dasar tengkorak. Otot ini meluas kebawah sampai kedinding atas esofagus. otot ini lebih penting daripada palatoglosus dan harus diperhatikan pada operasi tonsil agar tidak melukai otot ini. Kedua pilar bertemu diatas untuk bergabung dengan paltum mole. Di inferior akan berpisah dan memasuki jaringan pada dasar lidah dan lateral dinding faring.
Tonsil berbentuk oval dengan panjang 2-5 cm, masing-masing tonsil mempunyai 10-30 kriptus yang meluas kedalam jaringan tonsil. Tonsil tidak mengisi seluruh fosa tonsilaris, daerah yang kosong diatasnya dikenal sebagai fosa supratonsilaris. Bagian luar tonsil terikat longgar pada muskulus konstriktor faring superior, sehingga tertekan setiap kali makan.
Walaupun tonsil terletak di orofaring karena perkembangan yang berlebih tonsil dapat meluas kearah nasofaring sehingga dapat menimbulkan insufisiensi velofaring atau obstruksi hidung walau jarang ditemukan. Arah perkembangan tonsil tersering adalah kearah hipofaring, sehingga sering menyebabkan sering terjaganya anak saat tidur karena gangguan pada jalan nafas.

BAB III
PEMBAHASAN
PENGERTIAN
Tonsilitis atau kalangan masyarakat awam menyebut dengan istilah penyakit Amandel. Tonsillitis adalah infeksi (radang) tonsil (amandel) yang pada umumnya disebabkan oleh mikro-organisme (bakteri dan virus). Terbanyak dialami oleh anak usia 5-15 tahun. Tonsillitis, berdasarkan waktu berlangsungnya (lamanya) penyakit, terbagi menjadi 2, yakni Tonsilitis akut dan Tonsilitis kronis.
Dikategorikan Tonsilitis akut jika penyakit (keluhan) berlangsung kurang dari 3 minggu. Sedangkan Tonsilitis kronis jika infeksi terjadi 7 kali atau lebih dalam 1 tahun, atau 5 kali selama 2 tahun, atau 3 kali dalam 1 tahun secara berturutan selama 3 tahun. Adakalanya terdapat perbedaan penggolongan kategori Tonsilitis akut dan Tonsilitis kronis.
Tonsilektomi adalah operasi pengangkatan tonsil/mandel/amandel. Operasi ini merupakan operasi THT-KL yang paling sering dilakukan pada anak-anak. Para ahli belum sepenuhnya sependapat tentang indikasi tentang tonsilektomi, namun sebagian besar membagi alasan (indikasi) tonsilektomi menjadi: Indikasi absolut dan Indikasi relatif.
Tonsilektomi merupakan pembedahan yang paling banyak dan biasa dilakukan di bagian THT (Telinga, Hidung dan Tenggorok), oleh karena itu sering dianggap sebagai pembedahan kecil saja. Tetapi bagaimanapun juga, tonsilektomi adalah suatu pembedahan yang merupakan tindakan manipulasi yang dapat menimbulkan trauma dengan risiko kerusakan jaringan. Komplikasi mulai dari yang ringan bahkan sampai mengancam kematian atau gejala subyektif pada pasien berupa rasa nyeri pasca bedah dapat saja terjadi.

ETIOLOGI
Menurut Adams George (1999), tonsilitis akut paling sering disebabkan oleh streptokokus beta hemolitikus grup A.
1. Pneumococcus
2. Staphilococcus
3. Haemalphilus influenza
4. Kadang streptococcus non hemoliticus atau streptococcus viridens.
Menurut Iskandar N (1993 Bakteri merupakan penyebab pada 50 % kasus tonsillitis bakteri yang paling sering adalah:
1. Streptococcus B hemoliticus grup A
2. Streptococcus viridens
3. Streptococcus pyogenes
4. Staphilococcus
5. Pneumococcus
Sedangkan Virus yang berperan menyebabkan penyakit ini adalah Golongan Para influenza Virus, Adenovirus dan Herpes simplex.

WOC (Web Of Caution)

TANDA DAN GEJALA TONSILITIS
Keluhan yang dapat dialami penderita Tonsilllitis, antara lain:
• Tengorokan terasa kering, atau rasa mengganjal di tenggorokan (leher)
• Nyeri saat menelan (nelan ludah ataupun makanan dan minuman) sehingga menjadi malas makan.
• Nyeri dapat menjalar ke sekitar leher dan telinga.
• Demam, sakit kepala, kadang menggigil, lemas, nyeri otot.
• Dapat disertai batuk, pilek, suara serak, mulut berbau, mual, kadang nyeri perut, pembesaran kelenjar getah bening (kelenjar limfe) di sekitar leher.
• Adakalanya penderita tonsilitis (kronis) mendengkur saat tidur (terutama jika disertai pembesaran kelenjar adenoid (kelenjar yang berada di dinding bagian belakang antara tenggorokan dan rongga hidung).
• Pada pemeriksaan, dijumpai pembesaran tonsil (amandel), berwarna merah, kadang dijumpai bercak putih (eksudat) pada permukaan tonsil, warna merah yang menandakan peradangan di sekitar tonsil dan tenggorokan.
Tentu tidak semua keluhan dan tanda di atas diborong oleh satu orang penderita. Hal ini karena keluhan bersifat individual dan kebanyakan para orang tua atau penderita akan ke dokter ketika mengalami keluhan demam dan nyeri telan.
PENCEGAHAN
Tak ada cara khusus untuk mencegah infeksi tonsil (amandel). Secara umum disebutkan bahwa pencegahan ditujukan untuk mencegah tertularnya infeksi rongga mulut dan tenggorokan yang dapat memicu terjadinya infeksi tonsil. Namun setidaknya upaya yang dapat dilakukan adalah:
• Mencuci tangan sesering mungkin untuk mencegah penyebaran mikro-organisme yang dapat menimbulkan tonsilitis.
• Menghindari kontak dengan penderita infeksi tanggorokan, setidaknya hingga 24 jam setelah penderita infeksi tenggorokan (yang disebabkan kuman) mendapatkan antibiotika.
PENATALAKSANAAN
• Pada penderita tonsillitis, terlebih dahulu harus diperhatikan pernafasan dan status nutrisinya. Jika perbesaran tonsil menutupi jalan nafas, maka perlu dilakukan tonsilektomi, demikian juga jika pembesaran tonsil menyebabkan kesulitan menelan dan nyeri saat menelan, menyebabkan penurunan nafsu makan / anoreksia. Pada penderita tonsillitis yang tidak memerlukan tindakan operatif (tonsilektomi), perlu dilakukan oral hygiene untuk menghindari perluasan infeksi, sedangkan untuk mengubahnya dapat diberikan antibiotic, obat kumur dan vitamin C dan B.
• Pemantauan pada penderita pasca tonsilektomi secara kontinu diperlukan karena resiko komplikasi hemorraghi. Posisi yang paling memberikan kenyamanan adalah kepala dipalingkan kesamping untuk memungkinkan drainage dari mulut dan faring untuk mencegah aspirasi. Jalan nafas oral tidak dilepaskan sampai pasien menunjukkan reflek menelanya telah pulih.
• Jika pasien memuntahkan banyak darah dengan warna yang berubah atau berwarna merah terang pada interval yang sering, atau bila frekuensi nadi dan pernafasan meningkat dan pasien gelisah, segera beritahu dokter bedah. Perawat harus mempunyai alat yang disiapkan untuk memeriksa temapt operasi terhadap perdarahan, sumber cahaya, cermin, kasa, nemostat lengkung dan basin pembuang. Jika perlu dilakukan tugas, maka pasien dibawa ke ruang operasi, dilakukan anastesi umur untukmenjahit pembuluh yang berdarah. Jika tidak terjadi perdarahan berlanjut beri pasien air dan sesapan es. Pasien diinstruksikan untuk menghindari banyak bicara dan bentuk karena hal ini akan menyebabkan nyeri tengkorak.
• Setelah dilakukan tonsilektomi, membilas mulut dengan alkalin dan larutan normal salin hangat sangat berguna dalam mengatasi lender yang kental yang mungkin ada. Diet cairan atau semi cair diberikan selama beberapa hari serbet dan gelatin adalah makanan yang dapat diberikan. Makanan pedas, panas, dingin, asam atau mentah harus dihindari. Susu dan produk lunak (es krim) mungkin dibatasi karena makanan ini cenderung meningkatkan jumlah mucus yang terbentuk.
PEMERIKSAAN PENUNJANG
Berdasarkan hasil kajian HTA Indonesia 2003 tentang persiapan rutin prabedah elektif, maka pemeriksaan penunjang yang direkomendasikan untuk tonsilektomi adalah sebagai berikut:
1)Pemeriksaan darah tepi: Hb, Ht, leukosit, hitung jenis, trombosit
2)Pemeriksaan hemostasis: BT/CT, PT/APTT
JENIS TEKNIK OPERASI

1). Cara Guillotine
• Diperkenalkan pertama kali oleh Philip Physick (1828) dari Philadelphia, sedangkan cara yang masih digunakan sampai sekarang adalah modifikasi Sluder. Di negara-negara maju cara ini sudah jarang digunakan dan di Indonesia cara ini hanya digunakan pada anak-anak dalam anestesi umum. Tehniknya adalah sbb :
• Posisi pasien telentang dalam anestesi umum. Operator di sisi kanan berhadapan dengan pasien.
• Setelah relaksasi sempurna otot faring dan mulut, mulut difiksasi dengan pembuka mulut. Lidah ditekan dengan spatula.
• Untuk tonsil kanan, alat guillotine dimasukkan ke dalam mulut melalui sudut kiri.
• Ujung alat diletakkan diantara tonsil dan pilar posterior, kemudian kutub bawah tonsil dimasukkan ke dalam Iubang guillotine. Dengan jari telunjuk tangan kiri pilar anterior ditekan sehingga seluruh jaringan tonsil masuk ke dalam Iubang guillotine.
• Picu alat ditekan, pisau akan menutup lubang hingga tonsil terjepit.
• Setelah diyakini seluruh tonsil masuk dan terjepit dalam lubang guillotine, dengan bantuan jari, tonsil dilepaskan dari jaringan sekitarnya dan diangkat keluar. Perdarahan dirawat.
2) Cara diseksi
Cara ini diperkenalkan pertama kali oleh Waugh (1909). Cara ini digunakan pada pembedahan tonsil orang dewasa, baik dalam anestesi umum maupun lokal. Tehniknya adalah sbb :
• Bila menggunakan anestesi umum, posisi pasien terlentang dengan kepala sedikit ekstensi. Posisi operator di proksimal pasien.
• Dipasang alat pembuka mulut Boyle-Davis gag.
• Tonsil dijepit dengan cunam tonsil dan ditarik ke medial
• Dengan menggunakan respatorium/enukleator tonsil, tonsil dilepaskan dari fosanya secara tumpul sampai kutub bawah dan selanjutnya dengan menggunakan jerat tonsil, tonsil diangkat. Perdarahan dirawat.
3) Cryogenic tonsilectomy
Tindakan pembedahan tonsil dapat menggunakan cara cryosurgery yaitu proses pendinginan jaringan tubuh sehingga terjadi nekrosis. Bahan pendingin yang dipakai adalah freon dan cairan nitrogen.

4). Teknik elektrokauter
Teknik ini memakai metode membakar seluruh jaringan tonsil disertai kauterisasi untuk mengontrol perdarahan. Pada bedah listrik transfer energi berupa radiasi elektromagnetik untuk menghasilkan efek pada jaringan. Frekuensi radio yang digunakan dalam spektrum elektromagnetik berkisar pada 0,1 hingga 4 Mhz. Penggunaan gelombang pada frekuensi ini mencegah terjadinya gangguan konduksi saraf atau jantung.
5) Radiofrekuensi
Pada teknik ini radiofrekuensi elektrode disisipkan langsung kejaringan. Densitas baru disekitar ujung elektrode cukup tinggi untuk membuka kerusakan bagian jaringan melalui pembentukan panas. Selama periode 4-6 minggu, daerah jaringan yang rusak mengecil dan
total volume jaringan berkurang.
6) Skapel harmonik
Skapel harmonik menggunakan teknologi ultrasonik untuk memotong dan mengkoagulasi jaringan dengan kerusakan jaringan minimal.
7) Teknik Coblation
Coblation atau cold ablation merupakan suatu modalitas yang unuk karena dapat memanfaatkan plasma atau molekul sodium yang terionisasi untuk mengikis jaringan.
Mekanisme kerja dari coblation ini adalah menggunakan energi dari radiofrekuensi bipolar untuk mengubah sodium sebagai media perantara yang akan membentuk kelompok plasma dan terkumpul disekitar elektroda. Kelompok plasma tersebutakan mengandung suatu partikel yang terionisasi dan kandungan plasma dengan partikel yang terionisasi yang akan memecah ikatan molekul jaringan tonsil. Selain memecah ikatan molekuler pada jaringan juga menyebabkan disintegrasi molekul pada suhu rendah yaitu 40-70%, sehingga dapat meminimalkan kerusakan jaringan sekitar.
8) Intracapsular partial tonsillectomy
Intracapsular tonsilektomi merupakan tensilektomi parsial yang dilakukan dengan menggunakan microdebrider endoskopi. Microdebrider endoskopi bukan merupakan peralatan ideal untuk tindakan tonsilektomi, namun tidak ada alat lain yang dapat menyamai ketepatan dan ketelitian alat ini dalam membersihkan jaringan tonsil tanpa melukai kapsulnya.
9) Laser (CO2-KTP)
Laser tonsil ablation (LTA) menggunakan CO2 atau KTP (Potassium Titanyl Phosphat) untuk menguapkan dan mengangkat jaringan tonsil. Tehnik ini mengurangi volume tonsil dan menghilangkan recesses pada tonsil yang menyebabkan infeksi kronik dan rekuren.

Yang penting pada perawatan pasca tonsilektomi adalah
 baringkan pasien pada satu sisi tanpa bantal,
 ukur nadi dan tekanan darah secara teratur,
 awasi adanya gerakan menelan karena pasien mungkin menelan darah yang terkumpul di faring dan
 napas yang berbunyi menunjukkan adanya lendir atau darah di tenggorok. Bila diduga ada perdarahan, periksa fosa tonsil. Bekuan darah di fosa tonsil diangkat, karena tindakan ini dapat menyebabkan jaringan berkontraksi dan perdarahan berhenti spontan. Bila perdarahan belum berhenti, dapat dilakukan penekanan dengan tampon yang mengandung adrenalin 1:1000. Selanjutnya bila masih gagal dapat dicoba dengan pemberian hemostatik topikal di fosa tonsil dan hemostatik parenteral dapat diberikan. Bila dengan cara di atas perdarahan belum berhasil dihentikan, pasien dibawa ke kamar operasi dan dilakukan perawatan perdarahan seperti saat operasi.Mengenai hubungan perdarahan primer dengan cara operasi, laporan di berbagai kepustakaan menunjukkan hasil yang berbeda-beda, tetapi umumnya perdarahan primer lebih sering dijumpai pada cara guillotine. Komplikasi yang berhubungan dengan tindakan anestesi segera pasca bedah umumnya dikaitkan dengan perawatan terhadap jalan napas. Lendir, bekuan darah atau kadang-kadang tampon yang tertinggal dapat menyebabkan asfiksi.

KOMPLIKASI
Tonsilektomi merupakan tindakan bedah yang dilakukan dengan anestesi lokal maupun umum, sehingga komplikasi yang ditimbulkan merupakan gabungan komplikasi tindakan bedah dan anestesi.
Komplikasi anestesi
Komplikasi anestesi ini terkait dengan keadaan status kesehatan pasien. Komplikasi yang
dapat ditemukan berupa :
Laringosspasme
• Gelisah pasca operasi
• Mual muntah
• Kematian saat induksi pada pasien dengan hipovolemi
• Induksi intravena dengan pentotal bisa menyebabkan hipotensi dan henti jantung
• Hipersensitif terhadap obat anestesi.
Komplikasi Bedah
 Perdarahan
Merupakan komplikasi tersering (0,1-8,1 % dari jumlah kasus). Perdarahan dapat terjadi selama operasi,segera sesudah operasi atau dirumah. Kematian akibat perdarahan terjadi pada 1:35. 000 pasien. sebanyak 1 dari 100 pasien kembali karena perdarahan dan dalam jumlah yang sama membutuhkan transfusi darah.
 Nyeri
Nyeri pasca operasi muncul karena kerusakan mukosa dan serabut saraf glosofaringeus atau vagal, inflamasi dan spasme otot faringeus yang menyebabkan iskemia dan siklus nyeri berlanjut sampai otot diliputi kembali oleh mukosa, biasanya 14-21 hari setelah operasi
Komplikasi pasca bedah
Pasca bedah, komplikasi yang terjadi kemudian (intermediate complication) dapat berupa perdarahan sekunder, hematom dan edem uvula, infeksi, komplikasi paru dan otalgia. Perdarahan sekunder adalah perdarahan yang terjadi setelah 24 jam pasca bedah. Umumnya terjadi pada hari ke 5 ¬ 10. Jarang terjadi dan penyebab tersering adalah infeksi serta trauma akibat makanan; dapat juga oleh karena ikatan jahitan yang terlepas, jaringan granulasi yang menutupi fosa tonsil terlalu cepat terlepas sebelum luka sembuh sehingga pembuluh darah di bawah-nya terbuka dan terjadi perdarahan. Perdarahan hebat jarang terjadi karena umumnya berasal dari pembuluh darah permukaan.
Cara penanganannya sama dengan perdarahan primer. Pada pengamatan pasca tonsilektomi, pada hari ke dua uvula mengalami edem. Nekrosis uvula jarang terjadi, dan biladijumpai biasanya akibat kerusakan bilateral pembuluh darah yang mendarahi uvula. Meskipun jarang terjadi, komplikasi infeksi melalui bakteremia dapat mengenai organ-organ lain seperti ginjal dan sendi atau mungkin dapat terjadi endokarditis.
Gejala otalgia biasanya merupakan nyeri alih dari fosa tonsil, tetapi kadang-kadang merupakan gejala otitis media akut karena penjalaran infeksi melalui tuba Eustachius. Abses parafaring akibat tonsilektomi mungkin terjadi, karena secara anatomik fosa tonsil berhubungan dengan ruang parafaring. Dengan kemajuan teknik anestesi, komplikasi paru jarang terjadi dan ini biasanya akibat aspirasi darah atau potongan jaringan tonsil.
Late complication pasca tonsilektomi dapat berupa jaringan parut di palatum mole. Bila berat, gerakan palatum terbatas dan menimbulkan ri nolalia. Komplikasi lain adalah adanya sisa jaringan tonsil. Bila sedikit umumnya tidak menimbulkan gejala, tetapi bilacukup banyak dapat mengakibatkan tonsilitis akut atau abses peritonsil.
Komplikasi lain
Dehidrasi,demam, kesulitan bernapas,gangguan terhadap suara (1:10. 000), aspirasi, otalgia, pembengkakan uvula, insufisiensi velopharingeal, stenosis faring, lesi dibibir, lidah,
gigi dan pneumonia.

ASUHAN KEPERAWATAN
PENGKAJIAN
a). Aktivitas / istirahat
Gejala : – kelemahan
– kelelahan (fatigue)
b). Sirkulasi
Tanda : – Takikardia
– Hiperfentilasi (respons terhadap aktivitas)
c). Integritas Ego
Gejala : – Stress
– Perasaan tidak berdaya
Tanda : – Tanda- tanda ansietas, mual : gelisah, pucat, berkeringat,
perhatian menyempit.
d).Eliminasi
Gejal: Perubahan pola berkemih
Tanda : Warna urine mungkin pekat
e). Maknan / cairan
Gejala : – Anoreksia
– Masalah menelan
– Penurunan menelan
Tanda : – Membran mukosa kering
– Turgor kulit jelek
f). Nyeri / kenyamanan
Gejala : – Nyeri pada daerah tenggorokan saat digunakan untuk menelan.
– Nyeri tekan pada daerah sub mandibula.
– Faktor pencetus : menelan ; makanan dan minuman yang
dimasukkan melalui oral, obat-obatan.
Tanda :
– Wajah berkerut, berhati-hati pada area yang sakit, pucat,
berkeringat, perhatian menyempit.

DIAGNOSA KEPERAWATAN
a. Nyeri berhubungan dengan pembengkakan jaringan; insisi bedah
b. Resiko perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan dengan anoreksia ; kesulitan menelan.
c. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang pemahaman, pemajaran / mengingat.
d. Resiko kekurangan vol. cairan berhubungan dengan resiko perdarahan akibat tindakan operatif tonsilektomi.

INTERVENSI KEPERAWATAN
Dx :Nyeri berhubungan dengan pembengkakan jaringan; insisi bedah.
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan diharapkan nyeri pasien berkurang dan pembengkakan hilang.
Kriteria Hasil :
• Melaporkan / menunjukkan nyeri hilang/ terkotrol
• Melaporkan bias beristurahat

Intervensi :
 Mandiri
• Berikan tindakan nyaman (pijatan punggung,perubhan posisi) dan aktifitas hiburan
R/ Meningkatkan relaksasi dan membantu pasien memfokuskan perhatian pd sesuatu disamping diri sendiri/ketidaknyamanan.
• Dorong pasien untuk mengeluarkan saliva atau penghisap mulut dengan hati-hati bila tidak mampu menelan.
R/ Menelan menyebabkan aktifitas otot yang dapat menimbulkan nyeri karena adanya edema/regangan jahitan.
• Selidiki perubahan karakteristik nyeri,periksa mulut jahitan atau trauma baru
R/ Dapat menunjukkan terjadinya komplikasi yg memerlukan evaluasi lanjut/intervensi jaringan yang terinflamasi dan kongesti,dapat dengan mudah mengalami trauma dengan penghisapan kateter,selang makanan.
• Catat indikator non verbal dan respon automatik terhadap nyeri,evaluasi efek analgesik .
R/ Alat menentukan adanya nyeri,kebutuhan terhadap keefektifan obat.
• Jadwalkan aktifitas perawatan untuk keseimbangan dengan periode tidur manajemen stress contoh : teknik relaksasi, bimbingan imajinasi.
R/ mencegah kelekahan / terlalu lelah dan dapat meningkatkan koping
terhadap stress / ketidaknyamanan
 Kolaborasi
• Berikan irigasi oral, anestesi sprei dan kumur-kumur. Anjurkan pasien melakukan irigasi sendiri.
R/ Memperbaiki kenyamanan, meningkatkan penyembuhan dan menurunkan bau mulut. Bahan pencuci mulut berisi alcohol / fenol harus dihindari karena mempunyai efek mengeringkan
• Berikan analgetik terhadap stress / ketidaknyamanan.
R/ Meningkatkan rasa sehat, tidak menurunkan kebutuhan analgesic dan meningkatkan penyembuhan.
• Meningkatkan rasa sehat, tidak menurunkan kebutuhan analgesic dan meningkatkan penyembuhan.
R/ Derajat nyeri sehubungan dengan luas dan dampak psikologi pembedahan sesuai dengan kondisi tubuh.
Dx : . Bersihan jalan bafas tidak efektif berhubungan dengan dengan obstruksi
nafas karena adanya benda asing; produksi secret.
Tujuan : Mempertahankan kepatenan jalan nafas dengan bunyi nafas bersih/jelas
Kriteria Hasil :
• Mengeluarkan/membersihnya secret dan bebas aspirasi
• Menunjukkan perilaku untuk memperbaiki/mempertahankan jalan nafas bersih dalam tingkat kemampuan/situasi

Intervensi :
 Mandiri
• Awasi frekuensi/kedalaman pernafasan.catat kemudahan bernafas.auskultasi bunyi nafas.selidiki kegelisahan
R/ Perubahan pada pernafasan.penggunaan otot aksesori pernafasan,dan/adanya ronki/mengi diduga ada retensi sekret.Obstruksi jalan nafas( meskipun sebagian)dapat menimbulkan tidak efektifnya pol;a pernafasan dan gangguan pertukaran gas,contoh henti nafas.
• Dorong menelan bila pasien mampu
R/ Mencegah pengumpulan sekret oral,menurunkan resiko aspirasi
Catatan: menelan terganggu bila epiglotis diangkat dan/edema pasca operasi bermakna dan nyeri terjadi
• Dorong batuk efektif dan nafas dalam
R/ Mobilisasi sekret untuk membersihkan jalan nafas dan membantu mencegah komplikasi pernafasan.
 Kolaborasi
• Berikan humidifikasi tambahan,contoh tekanan udara/oksigen penahan leher berupa,humidifier ruangan,peningkatan masukan cairan.
R/ Fisiologi normal( hidung/jalan hidung)berarti menyaring atau melembabkan udara yang lewat.tambahan kelembaban menurunkan mengerasnya mukosa dan memudahkan batuk/penghisapan sekret melalui stoma.
• Awasi seri GDA/nadi oksimetri,foto dada
R/ Pengumpulan sekret/adanya atelektasis dapat menimbulkan pneumonia yang memerlukan tindakan terapi lebih agresif

Dx : Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang pemahaman, pemajaran / mengingat.
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan, pasien atau keluarga dapat memahami penyakit yang di derita.
Kriteria Hasil :
• Pasien atau keluarga memahami mengenai penyakit yang di derita pasien
Intervensi
 Mandiri
• Kaji ulang prosedur pembedahan khusus dan harapan pascaoperasi
R/ Memberikan dasar pengetahuan dimana pilihan informasi dapat dibuat dan tujuan dapat disusun
• Berikan perhatian tentang gangguan ukuran/gambaran tubuh
R/ Antisipasi masalah dapat membantu dalam menerima situasi yang memburuk
• Kaji ulang program pengobatan,dosis,dan efek samping
R/ Pengetahuan dapat meningkatkan kerja sama dengan program terapi dan mempertahankan jadwal
• Anjurkan menghindari alkohol
R/ Dapat mempengaruhi disfungsi hati/pankreas
• Diskusikan tanggungjawab untuk perawatan diri dengan pasien/orang terdekat
R/ Kerja sama sangat penting untuk keberhasilan hasil setelah prosedur
• Dorong latihan progresif/keseimbangan program aktivitas dengan periode istirahat adekuat
R/ Meningkatkan berat badan,meningkatkan tonus otot dan meminimalkan pascaoperasi yang juga mencegah kelemahan yang tak perlu
Dx : Resiko kekurangan vol. cairan berhubungan dengan resiko perdarahan akibat tindakan operatif tonsilektomi.
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan 2×24 jam kekurangan volume cairan pada pasien teratasi.
Kriteria Hasil :
• Keseimbangan cairan yang adekuat
• Pengeluaran urine individu yang sesuai
INTERVENSI
 Mandiri
• Catat karakteristik muntah dan atau drinase
R/ Membantu dalam membedakan penyebab distres gaster kandungan empedu kuning kehijauan menunjukkan bahwa pylorus terbuka
• Awasi tanda vital:bandingkan dengan hasil normal pasien/sebelumnya.ukut TD dengan posisi duduk,berbaring,berdiri bila perlu
R/ Perubahan TD dann nadi dapat digunakan untuk perkiraan kasar kehilangan darah
• Ukur kehilangan darah/cairan melalui muntah,penghisapan gaster/lavase dan deteksi
R/ Memberikan pedoman untuk penggantian cairan
• Pertahankan pencatatan akurat subtotal cairan/darah selama terapi penggantian
R/ Potensial kelebihan tranfusi cairan,khususnya bila volume tambahan diberikan sebelum tranfusi darah
• Catat tanda perdarahan baru setelah terhentinya pendarahan awal
R/ Meningkatkan kepenuhan/distensi abdominal,mual/muntah baru dan diare baru dapat menunjukkan perdarahan ulang
 Kolaborasi
• Berikan cairan atau darah sesuai indikasi
R/ Penggantian cairan tergantung pada derajat hipovolemia dan lamanya perdarahan(akut atau kronis)
• Darah lengkap segar atau kemasan sel darah merah
R/ Darah lengkap segar diindikasikan untuk perdarahan akut dengan syok karena darah simpanan dapat kekurangan factor pembekuan
• Masukkan/pertahankan selang NG pada perdarahan akut
R/ Memberikan kesempatan untuk menghilangkan sekresi iritan gaster,darah,bekuan.

DAFTAR PUSTAKA
http://id.shvoong.com/medicine-and-health/1759630-operasi-amandel-yang-berujung kematian/

http://klikharry.wordpress.com/2007/09/05/tonsilektomi-tonsillectomy/

http://www.merck.com/mmpe/sec08/ch089b.html

Carpenito, Lynda Juall (2000), Buku Saku Diagnosa Keperawatan . Jakarta : EGC
Doengoes, Marilynn E (1999). Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman Untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien Jakarta : EGC
Drake A. Tonsillectomy. avaible from: http://www. emedicine. com/ent/topic315. htm/emed tonsilektomi
Kornblut A,Kornblut AD. Tonsillectomy and adenoidectomy. In: Paparella,Gluckman S,Mayerhoff, eds. Otolaryngology head and neck surgery. Philadelphia, WB Saunders 3rd edition,1991:2149-56
Tukel DE,Little JP. Pediatric head and neck emergency. In : Eiscle DW and McQuone SJ. Emergency of the head and neck. Mosby. USA. 2000:324-326

Terapi musik Pasien Dalam Demensia
Demensia terjadi pada beberapa orang karena alasan seperti ketidakteraturan metabolisme, kerusakan tengkorak atau dapat bahkan tumor di otak. Sebuah kerusakan di dalam tengkorak hasil penghancuran neuron di otak. Seperti jenis kerusakan menyebabkan kerusakan akut dalam perilaku kognitif beberapa orang seperti kecerdasan berkurang, ketidakseimbangan emosional dan perubahan kepribadian. Orang yang menderita demensia umumnya memiliki luas bagian otak yang terganggu yang menyebar di kedua belahan.
Orang gila tidak mungkin dapat merespon dengan baik untuk bahasa karena bahasa dirasakan oleh sebagian besar belahan otak kiri. Namun, mereka merespon dengan baik untuk musik karena unsur-unsur musik yang berbeda seperti melodi, ritme dan nada semua diproses di berbagai bagian otak manusia. Musik memiliki kekuatan untuk menembus di bagian otak yang sehat dan karenanya musik memainkan peran penting dalam mengobati pasien menderita dari demensia.
Sejak hasil demensia ke penurunan nilai memahami keterampilan seseorang, musik dengan penampilan non-verbal dapat sangat mudah menggantikan bahasa. Orang gila menemukan kesulitan untuk belajar bahasa tapi dia bisa sangat baik memahami konotasi musik seperti irama, melodi dan lapangan. Oleh karena itu, musik dapat digunakan sebagai stimulan untuk pasien tersebut untuk bereaksi dan terhubung ke negara sosial dan emosional. Musik dapat membantu dalam relaksasi otak yang sangat diperlukan untuk pasien ini karena mereka sering cenderung tetap bingung dan gelisah.
Artikel:
• Terapi Musik Penyakit Dan Mental
• Musik Terapi Untuk autism
• Terapi musik Pasien Dalam Demensia
• Masa Depan Dari Musik
http://www.scumdoctor.com/Indonesian/alternative-medicine/music-therapy/Music-Therapy-In-Dementia-Pa tients.htmlApa itu Musik Terapi?

CHF

GAGAL JANTUNG KONGENTIF(CHF)

Disusun Oleh:
A.Shamsul Arif
Aprilia Wahyu
Churia Agustina
Elis Setyawati
Firman Rochimin
Sofian Eko Ferdiansyah
Siti Nur Wahyuni
Wiwin Sumila
Riza Dwi

PRODI D3 KEPERAWATAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
“INSAN CENDEKIA MEDIKA”
JOMBANG
2010
GAGAL JANTUNG KONGENTIF (CHF)
1.Definisi
Gagal jantung Kongsetif adalah ketidak mampuan jantung untuk memompa darah dalam jumlah yang cukup untuk memenuhi kebutuhan jaringan terhadap oksigen dan nutrient dikarenakan adanya kelainan fungsi jantung yang berakibat jantung gagal memompa darah untuk memenuhi kebutuhan metabolisme jaringan dan atau kemampuannya hanya ada kalau disertai peninggian tekanan pengisian ventrikel kiri (Braundwald).
Definisi alternative menurut Packer,gagal jantung kongensif merupakan suatu sindrom klinis yang rumit yang ditandai dengan adanya abnormalitas fungsi ventrikel kiri dan kelainan regulasi neurohormonal,disertai dengan intoleransi kerja kemampuan kerja fisis(effort intolerance),retensi cairan,dan memendekkan umur hidup(reduced longevity). Termasuk di dalam kedua batasan tersebut adalah suatu spectrum fisiologi klinis yang luas,mulai dari cepat menurunnya daya pompa jantung(misalnya pada infark jantung yang luas,takiaritma atau bradikardia yang mendadak),sampai pada keadaan dimana proses terjadinya kelainan fungsi ini berjalan secara bertahap tetapi progresif(misalnya pada pasien dengan kelainan jantung yang berupa pressure atau volume overload dan hal ini terjadi akibat penyakit pada jantung itu sendiri,seperti hipertensi,kelainan katup aorta atau mitral dll).
Secara singkat menurut sonenblik,gagal jantung itu terjadi apabila jantung tidak lagi mampu memompakan darah yang cukup untuk memenuhi kebutuhan metabolic tubuh pada tekanan pengisian yang normal,padahal aliran balik vena(venous return)ke jantung dalam keadaan normal
2.Etiologi
Kelainan otot Gagal jantung sering terjadi pada penderita kelainan otot jantung, disebabkan menurunnya kontraktilitas jantung. Kondisi yang mendasari penyebab kelainan fungsi otot jantung mencakup ateroslerosis koroner, hipertensi arterial dan penyakit degeneratif atau inflamasi Aterosklerosis koroner mengakibatkan disfungsi miokardium karenaTerganggunya aliran darah ke otot jantung. Terjadi hipoksia dan asidosis (akibat penumpukan asam laktat). Infark miokardium (kematian sel jantung) biasanya mendahului terjadinya gagal jantung. Peradangan degeneratif berhubungandengan gagal jantung karena kondisi yang secara langsung merusak serabut jantung menyebabkan kontraktilitas menurun.Hipertensi Sistemik atau pulmunal (peningkatan after load meningkatkan beban kerja jantung dan pada gilirannya mengakibatkan hipertrofi serabut otot jantung.
Peradangan dan penyakit myocardium degeneratif, berhubungan dengan gagal jantung karena kondisi ini secara langsung merusak serabut jantung, menyebabkan kontraktilitas menurun. Penyakit jantung lain, terjadi sebagai akibat penyakit jantung yang sebenarnya, yang secara langsung mempengaruhi jantung. Mekanisme biasanya terlibat mencakup gangguan aliran darah yang masuk jantung (stenosis katub semiluner), ketidakmampuan jantung untuk mengisi darah (tamponade, pericardium, perikarditif konstriktif atau stenosis AV), peningkatan mendadak after load
Faktor sistemik
Terdapat sejumlah besar factor yang berperan dalam perkembangan dan beratnya gagal jantung. Meningkatnya laju metabolisme (missal : demam, tirotoksikosis). Hipoksia dan anemi juga dapat menurunkan suplai oksigen ke jantung. Asidosis respiratorik atau metabolic dan abnormalita elektronik dapat menurunkan kontraktilitas jantung

3.PATOFISIOLOGI
Dasar patofisiologi gagal jantung
• Apabila ventrikel gagal untuk memompakan darah,maka darah akan terbendung dan tekanan di atrium serta vena-vena dibelakangnya akan naik(hipotesis backward failure oleh James Hope pada tahun1832)
• Menurut teori ini manifestasi gagal jantung timbul akibat berkurangnya aliran darah(cardiac output)ke sistem aterial,sehingga terjadi pengurangan perfusi pada organ-organ yang vital dengan segala akibatnya(hipotesis forward failure oleh Mackkenzie pada tahun 80 an setelah hipotesis backward failure)
Kedua hipotesis ini nsalinng melengkapi serta menjadi dasar patofisiologi gagal jantung:kalau ventrikel gagal mengosongkan darah maka menurut hipotesis
Backward failure :
• Isi dan tekanan (volumedan pressure) pada ahir fase diastolik meninggi.
• Isi dan tekanan akan meninggi pada atrium dibelakang ventrikel yang gagal
• Atrium ini akan bekerja dengan keras
• Tekanan pada vena dan kapiler dibelakang ventrikel yang gagal akan meninggi
• Terjadi transudasi pada jaringan interstitial(baik pulmonal maupun sistemik)
Akibat berkurangnya curah jantung serta aliran darah pada jaringan/ organ yang menyebabkan perfusi(terutama pada ginjal dengan melalui mekanisme yang rumit)yang akan mengakibatkan retensi garam dan cairan serta memperberat ekstravasasi cairan yang sudah terjadi.Selanjutnya terjadi gejala-gejala gagal jantung kongensif sebagai akibat bendungan pada jaringan dan organ
Kedua jenis kegagalan ini jarang bisa dibedakan secara tegas,karena kalau gagal jantung kongensif pada kenyataannya,mekanismenya berperan kecuali pada gagal jantung yang terjadi secara mendadak contoh forward failure:gagal ventrikel kanan akut yang terjadi akibat emboli paru yang masif,karena terjadi peninggian isi dan tekanan pada ventrikel kanan serta tekanan pada atrium kanan dan pembulu darah balik sistemik,tetapi pasien sudah meninggal sebelum terjadi ekstravasasi cairan yang menimbulkan kongesti pada vena-vena sistemik.forward failure tejadi akibat berkurangnya output ventrikel kiri dan renjatan kardiogenik dan yang akan menimbulkan berkurangnya perfusi jaringan/organ.Sedangkan backward failure terjadi akibat adanya output yang tidak sama(inequal) antara kedua ventrikel yang meskipun bersifat sementara berakibat tejadinya edema paru yang akut.
Jantung yang normal dapat berespon terhadap peningkatan kebutuhan metabolisme dengan menggunakan mekanisme kompensasi yang bervariasi untuk mempertahankan kardiak output, yaitu meliputi :
a. Respon system saraf simpatis terhadap barroreseptor atau kemoreseptor
b. Pengencangan dan pelebaran otot jantung untuk menyesuaikan terhadap peningkatan volume
c. Vaskontriksi arterirenal dan aktivasi system rennin angiotensin
d. Respon terhadap serum sodium dan regulasi ADH dan reabsorbsi terhadap cairan
Kegagalan mekanisme kompensasi dapat dipercepat oleh adanya volume darah sirkulasi yang dipompakan untuk melawan peningkatan resistensi vaskuler oleh pengencangan jantung. Kecepatan jantung memperpendek waktu pengisian ventrikel dari arteri coronaria. Menurunnya COP dan menyebabkan oksigenasi yang tidak adekuat ke miokardium. Peningkatan dinding akibat dilatasi menyebabkan peningkatan tuntutan oksigen dan pembesaran jantung (hipertrophi) terutama pada jantung iskemik atau kerusakan yang menyebabkan kegagalan mekanisme pemompaan.

4.JENIS-JENIS GAGAL JANTUNG KONGENTIF
 Gagal Jantung Backward & Foeward
• Apabila ventrikel gagal untuk memompakan darah,maka darah akan terbendung dan tekanan di atrium serta vena-vena dibelakangnya akan naik(hipotesis backward failure oleh James Hope pada tahun1832)
• Menurut teori ini manifestasi gagal jantung timbul akibat berkurangnya aliran darah(cardiac output)ke sistem aterial,sehingga terjadi pengurangan perfusi pada organ-organ yang vital dengan segala akibatnya(hipotesis forward failure oleh Mackkenzie pada tahun 80 an setelah hipotesis backward failure)
 Gagal Jantung Right-Sided Dan Left-Sided
Penjabaran Backward failure adalah adanya cairan bendungan dibelakang ventrikel yang gagal dan merupakan pertanda gagal jantung pada sisi mana yang terkena.Adanya kongesti pulmonal pada infark ventrikel kiri,hipertensi dan kelainan-kelainan pada katup aorta serta mitral menunjukkan gagal jantung kiri.
Apabila keadaan ini berlangsung cukup lama,cairan yang terbendung akan berakumulasi secara sistemik:di kaki,asites,hepatomegali,efusi npleura dll.dan menjadikan gambaran klinisnya sebagai gagal jantung kanan.
 Gagal Jantung Low-output Dan High-output
Gagal jantung golongan ini menunjukkan bagaimana keadaan curah jantung(tinggi atau rendahnya) sebagai penyebab terjadinya manifestasi klinis gagal jantung.Curah jantung yang rendah pada penyakit apa pun(bawaan,hipertensi,katup koroner,kardiomiopati) dapat menimbulkan low-output failure.Sedangkan pada penyakit dengan curah jantung yang tinggi misalnya pada tirokoktitosis,beri-beri, paget’s,anemia dan vistula arteri-vena.gagal jantung yang terjadi dinamakan high-output failfure.
 Gagal Jantung Akut Dan Menahun
Manifestasi klinis gagal jantung disini hanya menunjukkan saat atau lamanya gagal jantung terjadi atau berlangsung.Apabila terjadi mendadak ,misalnya pada infark jantung akut yang luas,dinamakan gagal jantung akut(biasanya sebagai gagal jantung kiri akut).Sedangkan pada penyakit-penyakit jantung katup,kardiomiopati atau gagal jantung akibat infar jantung lama,terjadi gagal jantung secara perlahan atau karena gagal jantungnya bertahan lama dengan pengobatan yang diberikan,dinamakan gagal jantung menahun
 Gagal Jantung Siastolik Dan Diastolik
Secara implisit definisi gagal jantung adalah apabila gagal jantung yang terjadi sebagai akibat abnormalitas fungsi sistolik yaitu ketidakmampuan mengeluarkan darah dari ventrikel,dimana sebagai gagal jantung sistolik .Jenis gagal jantung ini adalah yang paling klasik dan dikenal sehari-hari,penyebabnya adalah gangguan kemampuan intripik miokard.Sedangkan apabila abnormalitas kerja jantung pada fase diastolik,yaitu kemampuan pengisian darah pada ventrikel(terutama ventrikel kiri),misalnya pada iskemik jantung yang mendadak,hipertrofi konsentrik ventrikel kiri daan kardiomiopati restriktif,gagal jantung yang terjadi dinamakan gagal jantung diastolik
5.Manifestasi Klinis
1) Tanda dominan : Meningkatnya volume intravaskuler
Kongestif jaringan akibat tekanan arteri dan vena meningkat akibat penurunan curah jantung. Manifestasi kongesti berbeda tergantung pada kegagalan ventrikel mana yang terjadi.
2) Gagal Jantung Kiri : Kongesti paru menonjol pada gagal ventrikel kiri karena ventrikel kiri tak mampu memompa darah yang dating dari paru. Manifestasi klinis yang terjadi yaitu :
- Dispnea, Terjadi akibat penimbunan cairan dalam alveoli dan
-mengganggu pertukaran gas. Dapat terjadi ortopnoe. Beberapa pasien dapat mengalami ortopnoe -pada malam hari yang dinamakan Paroksimal Nokturnal Dispnea (PND)
- Batuk, Mudah lelah, Terjadi karena curah jantung yang kurang yang menghambat
- jaringan dan sirkulasi normal dan oksigen serta menurunnya pembuangan sisa hasil katabolisme Juga terjadi karena meningkatnya energi yang digunakan untuk bernafas dan insomnia yang terjadikarena distress pernafasan dan batuk
- Kegelisahan atau kecemasan, Terjadi karena akibat gangguan oksigenasi jaringan,
stress akibat kesakitan bernafas dan pengetahuan bahwa jantung tidak berfungsi dengan baik
3) Gagal jantung Kanan : – Kongestif jaringan perifer dan visceral
- Oedema ekstremitas bawah (oedema dependen), biasanya oedema pitting, penambahan BB.
- Hepatomegali dan nyeri tekan pada kuadran kanan atas
- abdomen terjadi akibat pembesaran vena hepar – Anoreksia dan mual, terjadi akibat pembesaran vena dan statis vena dalam rongga abdomen
- Nokturia -Kelemahan
4.Penatalaksanaan
Farmakologi : memberikan terapi antidiuretik, diit dan istirahat,
Dukungan diit : pembatasan natrium untuk mencegah, mengontrol atau menghilangkan oedema. Dukung istirahat untuk mengurangi beban kerja jantung
Meningkatkan kekuatan dan efisiensi kontraktilitas miokardium dengan preparat Terapi Farmakologis:
• Glikosida jantung U/meningkatkan kekuatan kontraksi otot jantung dan memperlambat frekuensi jantung. Efek yang dihasillkan : peningkatan curah jantung, penurunan tekanan vena dan volume darah dan peningkatan diurisi dan mengurangi oedema
• Terapi diuretic
Diberikan untuk memacu ekskresi natrium dan air melalui ginjal. Penggunaan harus hati-hati karena efek samping hiponatremia dan hipokalemia
• Terapi vasodilator
obat-obat fasoaktif digunakan untuk mengurangi impadasi tekanan terhadap penyemburan darah oleh ventrikel. Obat ini memperbaiki pengosongan ventrikel dan peningkatan kapasitas vena sehingga tekanan pengisian ventrikel kiri dapat diturunkan.

5.Asuhan Keperawatan Dengan Pasien CHF
A.Pengkajian
Gagal serambi kiri/kanan dari jantung mengakibtkan ketidakmampuan memberikan keluaran yang cukup untuk memenuhi kebutuhan jaringan dan menyebabkan terjadinya kongesti pulmonal dan sistemik. Karenanya diagnostik dan teraupetik berlnjut . GJK selanjutnya dihubungkan dengan morbiditas dan mortalitas
1. Aktivitas/istirahat
• Gejala: Keletihan/kelelahan terus menerus sepanjang hari, insomnia, nyeri dada dengan aktivitas, dispnea pada saat istirahat.
• Tanda: Gelisah, perubahan status mental misalnya: letargi, tanda vital berubah pad aktivitas.
2. Sirkulasi
• Gejala: Riwayat HT, IM baru/akut, episode GJK sebelumnya, penyakit jantung , bedah jantung , endokarditis, anemia, syok septic, bengkak pada kaki, telapak kaki, abdomen.
• Tanda:TD; mungkin rendah (gagal pemompaan), Tekanan Nadi ; mungkin sempit, Irama Jantung; Disritmia, Frekuensi jantung; Takikardia, Nadi apical ; PMI mungkin menyebar dan merubah posisi secara inferior ke kiri, Bunyi jantung ; S3 (gallop) adalah diagnostik, S4 dapat, terjadi, S1 dan S2 mungkin melemah, Murmur sistolik dan diastolic, Warna; kebiruan, pucat abu-abu, sianotik, Punggung kuku; pucat atau sianotik dengan pengisian, kapiler lambat, Hepar ; pembesaran/dapat teraba, Bunyi napas; krekels, ronkhi, Edema; mungkin dependen, umum atau pitting khususnya pada ekstremitas
3. Integritas ego
• Gejala: Ansietas, kuatir dan takut. Stres yang berhubungan dengan penyakit/keperihatinan finansial (pekerjaan/biaya perawatan medis)
• Tanda: Berbagai manifestasi perilaku, misalnya: ansietas, marah, ketakutan dan mudah tersinggung.
4. Eliminasi
• Gejala: Penurunan berkemih, urine berwana gelap, berkemih malam hari (nokturia), diare/konstipasi.
5. Makanan/cairan
• Gejala: Kehilangan nafsu makan, mual/muntah, penambahan berat badan signifikan, pembengkakan pada ekstremitas bawah, pakaian/sepatu terasa sesak, diet tinggi garam/makanan yang telah diproses dan penggunaan diuretic.
• Tanda: Penambahan berat badan cepat dan distensi abdomen (asites) serta edema (umum, dependen, tekanan dan pitting).
6. Hygiene
• Gejala: Keletihan/kelemahan, kelelahan selama aktivitas Perawatan diri.
• Tanda: Penampilan menandakan kelalaian perawatan personal.
7. Neurosensori
• Gejala: Kelemahan, pening, episode pingsan.
• Tanda: Letargi, kusut pikir, diorientasi, perubahan perilaku dan mudah tersinggung.
8. Nyeri/Kenyamanan
• Gejala: Nyeri dada, angina akut atau kronis, nyeri abdomen kanan atas dan sakit pada otot.
• Tanda: Tidak tenang, gelisah, focus menyempit danperilaku melindungi diri.
9. Pernapasan
• Gejala: Dispnea saat aktivitas, tidur sambil duduk atau dengan beberapa bantal, batuk dengn/tanpa pembentukan sputum, riwayat penyakit kronis, penggunaan bantuan pernapasan.
• Tanda: Pernapasan; takipnea, napas dangkal, penggunaan otot asesori pernapasan. Batuk: Kering/nyaring/non produktif atau mungkin batuk terus menerus dengan/tanpa pemebentukan sputum. Sputum; Mungkin bersemu darah, merah muda/berbuih (edema pulmonal). Bunyi napas; Mungkin tidak terdengar. Fungsi mental; Mungkin menurun, kegelisahan, letargi. Warna kulit; Pucat dan sianosis.
10. Keamanan
• Gejala: Perubahan dalam fungsi mental, kehilangankekuatan/tonus otot, kulit lecet.
11. Interaksi sosial
• Gejala: Penurunan keikutsertaan dalam aktivitas sosial yang biasa dilakukan.
12. Pembelajaran/pengajaran
• Gejala: menggunakan/lupa menggunakan obat-obat jantung, misalnya: penyekat saluran kalsium.
• Tanda: Bukti tentang ketidak berhasilan untuk meningkatkan.
B.DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Penurunan curah jantung berhubungan dengan Perubahan kontraktilitas miokardial/perubahan inotropik, Perubahan frekuensi, irama dan konduksi listrik, Perubahan structural.
2. Aktivitas intoleran berhubungan dengan ketidakseimbangan antar suplai oksigen. Kelemahan umum, Tirah baring lama/immobilisasi
3. Resiko tinggi gangguan pertukaran gas berhubungan dengan perubahan membran kapiler-alveolus.
4. Resiko tinggi terhadap kerusakan integritas kulit berhubungan dengan tirah baring lama, edema dan penurunan perfusi jaringan.
5. Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar) mengenai kondisi dan program pengobatan berhubungan dengan kurang pemahaman/kesalahan persepsi tentang hubungan fungsi jantung/penyakit/gagal.

C.INTERVENSI KEPERAWATAN
DX 1. Penurunan curah jantung berhubungan dengan Perubahan kontraktilitas miokardial/perubahan inotropik, Perubahan frekuensi, irama dan konduksi listrik, Perubahan structural.

Ditandai dengan :
• Peningkatan frekuensi jantung (takikardia): disritmia, perubahan gambaran pola EKG
• Perubahan tekanan darah (hipotensi/hipertensi).Bunyi ekstra (S3 & S4)
• Penurunan keluaran urine
• Nadi perifer tidak teraba
• Kulit dingin kusam
• Ortopnea,krakles, pembesaran hepar, edema dan nyeri dada.
Tujuan :
• Klien akan menunjukkan tanda vital dalam batas yang dapat diterima (disritmia terkontrol atau hilang) dan bebas gejala gagal jantung, melaporkan penurunan epiode dispnea, angina, Ikut serta dalam aktivitas yang mengurangi beban kerja jantung.
Intervensi :
• Auskultasi nadi apical; kaji frekuensi, iram jantung. Rasional: Biasanya terjadi takikardi (meskipun pada saat istirahat) untuk mengkompensasi penurunan kontraktilitas ventrikel.
• Catat bunyi jantung. Rasional: S1 dan S2 mungkin lemah karena menurunnya kerja pompa. Irama Gallop umum (S3 dan S4) dihasilkan sebagai aliran darah ke serambi yang disteni. Mur-mur dapat menunjukkan inkompetensi/stenosis katup.
• Palpasi nadi perifer. Rasional: Penurunan curah jantung dapat menunjukkan menurunnya nadi radial, popliteal, dorsalis, pedis dan posttibial. Nadi mungkin cepat hilang atau tidak teratur untuk dipalpasi dan pulse alternan.
• Pantau TD. Rasional: Pada GJK dini, sedng atu kronis tekanan drah dapat meningkat. Pada HCF lanjut tubuh tidak mampu lagi mengkompensasi dan hipotensi tidak dapat normal lagi.
• Kaji kulit terhadap pucat dan sianosis. Rasional: Pucat menunjukkan menurunnya perfusi perifer sekunder terhadap tidak adekutnya curah jantung; vasokontriksi dan anemia. Sianosis dapt terjadi sebagai refrakstori GJK. Area yang sakit sering berwarna biru atu belang karena peningkatan kongesti vena.
• Berikan oksigen tambahan dengan kanula nasal/masker dan obat sesuai indikasi (kolaborasi). Rasional: Meningkatkn sediaan oksigen untuk kebutuhan miokard untuk melawan efek hipoksia/iskemia. Banyak obat dapat digunakan untuk meningkatkan volume sekuncup, memperbaiki kontraktilitas dan menurunkan kongesti.
DX 2 Aktivitas intoleran berhubungan dengan ketidakseimbangan antar suplai oksigen. Kelemahan umum, Tirah baring lama/immobilisasi
Ditandai dengan :
• Kelemahan, kelelahan, perubahan tanda vital, adanya disritmia, dispnea, pucat, berkeringat.
Tujuan /kriteria evaluasi :
• Klien akan berpartisipasi pada aktivitas yang diinginkan, memenuhi perawatan diri sendiri, mencapai peningkatan toleransi aktivitas yang dapat diukur, dibuktikan oleh menurunnya kelemahan dan kelelahan.
Intervensi :
• Periksa tanda vital sebelum dan segera setelah aktivitas, khususnya bila klien menggunakan vasodilator, diuretic dan penyekat beta. Rasional: Hipotensi ortostatik dapat terjadi dengan aktivitas karena efek obat (vasodilasi), perpindahan cairan (diuretic) atau pengaruh fungsi jantung.
• Catat respons kardiopulmonal terhadap aktivitas, catat takikardi, disritmia, dispnea berkeringat dan pucat. Rasional: Penurunan/ketidakmampuan miokardium untuk meningkatkan volume sekuncup selama aktivitas dpat menyebabkan peningkatan segera frekuensi jantung dan kebutuhan oksigen juga peningkatan kelelahan dan kelemahan.
• Evaluasi peningkatan intoleran aktivitas. Rasional: Dapat menunjukkan peningkatan dekompensasi jantung daripada kelebihan aktivitas.
• Implementasi program rehabilitasi jantung/aktivitas (kolaborasi) Rasional: Peningkatan bertahap pada aktivitas menghindari kerja jantung/konsumsi oksigen berlebihan. Penguatan dan perbaikan fungsi jantung dibawah stress, bila fungsi jantung tidak dapat membaik kembali.
DX 3. Resiko tinggi gangguan pertukaran gas berhubungan dengan perubahan membran kapiler-alveolus
Tujuan /kriteria evaluasi :
• Klien akan mendemonstrasikan ventilasi dan oksigenisasi adekuat pada jaringan ditunjukkan oleh oksimetri dalam rentang normal dan bebas gejala distress pernapasan, berpartisipasi dalam program pengobatan dalam batas kemampuan/situasi.
Intervensi:
• Pantau bunyi nafas, catat krekles. Rasional: menyatakan adnya kongesti paru/pengumpulan secret menunjukkan kebutuhan untuk intervensi lanjut.
• Ajarkan/anjurkan klien batuk efektif, nafas dalam. Rasional: membersihkan jalan nafas dan memudahkan aliran oksigen.
• Dorong perubahan posisi. Rasional: Membantu mencegah atelektasis dan pneumonia.
• Kolaborasi dalam Pantau/gambarkan seri GDA, nadi oksimetri. Rasional: Hipoksemia dapat terjadi berat selama edema paru.
Berikan obat/oksigen tambahan sesuai indikasi
DX 4. Resiko tinggi terhadap kerusakan integritas kulit berhubungan dengan tirah baring lama, edema dan penurunan perfusi jaringan.
Tujuan/kriteria evaluasi :
• Klien akan mempertahankan integritas kulit, mendemonstrasikan perilaku/teknik mencegah kerusakan kulit.
Intervensi :
• Pantau kulit, catat penonjolan tulang, adanya edema, area sirkulasinya terganggu/pigmentasi atau kegemukan/kurus. Rasional: Kulit beresiko karena gangguan sirkulasi perifer, imobilisasi fisik dan gangguan status nutrisi.
• Pijat area kemerahan atau yang memutih. Rasional: meningkatkan aliran darah, meminimalkan hipoksia jaringan.
• Ubah posisi sering ditempat tidur/kursi, bantu latihan rentang gerak pasif/aktif. Rasional: Memperbaiki sirkulasi waktu satu area yang mengganggu aliran darah.
• Berikan perawatan kulit, minimalkan dengan kelembaban/ekskresi. Rasional: Terlalu kering atau lembab merusak kulit/mempercepat kerusakan.
• Hindari obat intramuskuler. Rasional: Edema interstisial dan gangguan sirkulasi memperlambat absorbsi obat dan predisposisi untuk kerusakan kulit/terjadinya infeksi.
DX 5. Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar) mengenai kondisi dan program pengobatan berhubungan dengan kurang pemahaman/kesalahan persepsi tentang hubungan fungsi jantung/penyakit/gagal.

Ditandai dengan :
• Pertanyaan masalah/kesalahan persepsi, terulangnya episode GJK yang dapat dicegah.
Tujuan/kriteria evaluasi :
• Mengidentifikasi hubungan terapi untuk menurunkan episode berulang dan mencegah komplikasi.
• Mengidentifikasi stress pribadi/faktor resiko dan beberapa teknik untuk menangani.
• Melakukan perubahan pola hidup/perilaku yang perlu.
Intervensi :
• Diskusikan fungsi jantung normal. Rasional: Pengetahuan proses penyakit dan harapan dapat memudahkan ketaatan pada program pengobatan.
• Kuatkan rasional pengobatan. Rasional: Klien percaya bahwa perubahan program pasca pulang dibolehkan bila merasa baik dan bebas gejala atau merasa lebih sehat yang dapat meningkatkan resiko eksaserbasi gejala.
• Anjurkan makanan diet pada pagi hari. Rasional: Memberikan waktu adequate untuk efek obat sebelum waktu tidur untuk mencegah/membatasi menghentikan tidur.
• Rujuk pada sumber di masyarakat/kelompok pendukung suatu indikasi. Rasional: dapat menambahkan bantuan dengan pemantauan sendiri/penatalaksanaan dirumah.

DAFTAR PUSTAKA
FKUI(1996,)Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam,Jilid 1,Edisi 111,Jakarta.
Brummer & Suddart. 2002. Edisi 8. Vol 2. Jakarta : EGC.
Carpenito, L. J. 2001. Rencana Asuhan dan Dokumentasi Keperawatan, Diagnosa Keperawatan dan Masalah Keperawatan. Jakarta : EGC. Diane, Boughman. 2000.

Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta : EGC. Doenges, Marlyn. 1999.
Rencana Asuhan Keperawatan. Jakarta : EGC. Long. Barbara C. 1996.
Perawatan Medikal Bedah Vol. 2. Bandung : Yayasan Alummi Pendidikan Keperawatan Padjajaran. Mahasiswa PSIK.B. 2001.
Diagnosa Keperawatan. Nanda. Definisi dan Klafikasi. 2001-2002. Yogyakarta : FK-UGM. Mansjoer Arif. 1999.
Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta : Media Aesculapius : FKUL. Robin dan Kumar. 1995.
Buku Ajar Patologi II. Jakarta : EGC

SISTEM PERKEMIHAN ASKEP URETRITIS Disusun Oleh : Kelompok 1. Agus Siswantoro 2. Mashudin F. PRODI D3 KEPERAWATAN SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN “INSAN CENDEKIA MEDIKA“ JOMBANG 2009/2010 KATA PENGANTAR Puji syukur kehadirat Allah SWT karena berkat rahmat dan nikmatnya kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “URETRITIS” ini dengan baik dan tepat waktu. Kami menyadari makalah ini masih jauh dari sempurna, untuk itu kritik dan saran yang membangun sangat kami harapkan demi kesempurnaan makalah ini. Makalah ini tidak akan mungkin selasai tanpa bantuan dari berbagai pihak, untuk itu kami mengucapkan terima kasih kepada : 1. B. Nita, S.Kep.Ns selaku dosen s.Perkemihan 2. Serta teman-teman kelas III A Dan berbagai pihak lain yang tidak dapat kami sebutkan satu persatu. Dengan segala kerendahan hati kami berharap makalah ini berguna dan bermanfaat bagi yang memerlukannya. Jombang, Desember 2010 Penulis DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL i KATA PENGANTAR ii DAFTAR ISI iii BAB I PEMBAHASAN 1 A. Definisi 1 B. Etiologi 1 C. Klasifikasi 1 D. Manifestasi Klinis 3 E. Patofisiologi 3 F. Pemeriksaan Diagnostik 4 ASUHAN KEPERAWATAN 8 A. Pengkajian 8 B. Diagnosa Keperawatan 9 C. Intervensi 9 DAFTAR PUSTAKA 12 BAB I PEMBAHASAN 1.1 DEFINISI Uretritis adalah peradangan / inflamasi pada uretra atau suatu infeksi yang menyebar keatas / asending. 1.2 ETIOLOGI • Kuman Gonorrhoe (N.Gonorhoe) • Kuman Non-Gonorrhoe (Klamidia Trakomatik / Urea Plasma Urelytikum) • Tindakan invasif • Iritasi batu ginjal • Trihomonas vaginalis • Organisme gram negatif : - Escherichia coli - Entero bakteri - Pseudomonas - Klebsiella dan Proteus 1.3 KLASIFIKASI 1. Uretritis Akut Biasanya terjadi karena asending infeksi, atau sebaliknya oleh karena prostat mengalami infeksi. Keadaan ini sering diderita oleh kaum pria. # Tanda dan gejala : – Mukosa merah dan edema. – Terdapat cairan eksudat yang purulent. – Ada ulserasi pada uretra. – Ada rasa gatal yang menggelitik – Pada pria pembuluh darah kapiler melebar, kelenjar uretra tersumbat oleh kelompok nanah – Pada wanita jarang ditemukan uretritis akut, kecuali bila pasien menderita gonorhoe. # Pemeriksaan Diagnostik : Dilakukan pemeriksaan terhadap sekret uretra untuk mengetahui kuman penyebab. # Tindakan Pengobatan : a. Pemberian antibiotika b. Bila terjadi striktura, dilakukan dilatasi uretra dengan menggunakan bougie. # Komplikasi : 1. Prostatitis 2. Peri uretral abses yang dapat sembuh, kemudian menimbulkan striktura atau Fistul uretra. 2. Uretritis Kronis # Penyebab : – Pengobatan yang tidak sempurna pada masa akut. – Prostatitis kronis. – Striktura uretra. # Tanda dan gejala : – Mukosa terlihat granuler dan merah – Getah uretra (+), dapat dilihat pada pagi hari sebelum miksi pertama. # Prognosa : Bila tidak diobati dengan baik, infeksi dapat menjalar ke kandung kemih, ureter & ginjal. # Tindakan pengobatan : – Pemberian antibiotik – Banyak minum untuk melarutkan bakteri (+ 3000 cc/ hari). # Komplikasi : 1. Radang dapat menjalar ke prostate 2. Prostatitis Prostatitis bakterial akut terjadi dengan gejala-gejala infeksi saluran kemih bagian bawah, nyeri di perineum atau obstruksi. Hasil pemeriksaan menunjukkan prostat yang membengkak dan lunak. Urinalisis biasanya menunjukkan piuria dan bakteriuria dengan hasil kultur uropatogen yang khas. 1.4 MANIFESTASI KLINIK UMUM 1. Mukosa memerah dan edema 2. Terdapat cairan exudat yang purulent 3. Ada ulserasi pada uretra 4. Adanya rasa gatal yang menggelitik 5. Adanya pus pada awal miksi 6. Nyeri pada saat miksi 7. Kesulitan untuk memulai miksi 8. Nyeri pada abdomen bagian bawah 1.5 PATOFISIOLOGI – Invasi kuman (gonorrhoe, trihomonas vaginalis gram negatif) uretritis – Iritasi (iritasi batu ginjal, iritasi karena tindakan invasif menyebabkan retak dan permukaan mukosa pintu masuknya kuman proses peradangan uretritis). Pada kebanyakan kasus organisme penyebab dapat mencapai kandung kemih melalui uretra. Infeksi ini sebagai sistitis, dapat terbatas di kandung kemih saja / dapat merambat ke atas melalui uretra ke ginjal. Organisme juga dapat sampai ke ginjal atau melalui darah / getah bening, tetapi ini jarang terjadi. Tekanan dari kandung kemih menyebabkan saluran kemih normal dapat mengeluarkan bakteri yang ada sebelum bakteri tersebut sampai menyerang mukosa. Obstruksi aliran kemih proksimal terhadap kandung kemih mengakibakan penimbunan cairan, bertekanan dalam pelvis ginjal dan ureter. Hal ini dapat menyebabkan atrofi hebat pada parenkim ginjal / hidronefrosis. Disamping itu obstruksi yan6g terjadi di bawah kandung kemih sering disertai refluk vesiko ureter dan infeksi pada ginjal. Penyebab umum obstruksi adalah jaringa parut ginjal dan uretra, batu saluran kemih, neoplasma, hipertrofi prostat, kelainan kongenital pada leher kandung kemih dan uretra serta penyempitan uretra. 1.6 PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK – Kultur urine : Mengidentifikasi organisme penyebab – Urine analisis/urinalisa : Memperlihatkan bakteriuria, sel darah putih, dan endapan sel darah merah dengan keterlibatan ginjal – Darah lengkap – Sinar-X ginjal, ureter dan kandung kemih mengidentifikasi anomali struktur nyata. – Pielogram intravena (IVP) : Mengidentifikasi perubahan atau abnormalitas struktur. ASUHAN KEPERAWATAN A. PENGKAJIAN 1. Identitas - Usia : Semua usia bisa terkena penyakit ini, biasanya lebih sering pada umur >45 thun. - Jenis kelamin : Perempuan lebih rentan terkena uretritis dibanding laki-laki. - Alamat/tempat tinggal : Tempat/daerah yeng sering terjadi/sebagai faktor resiko peyebaran, seperti daerah lokalisasi, daerah perairan, dsb. 2. Riwayat Penyakit - Riwayat penyakit sekarang : Masuk rumah sakit dengan keluhan nyeri dan panas pada daerah kelamin terutama pada saat berkemih, kadang juga disertai darah dan nanah. - Riwayat penyakit dahulu : Penyebab penyakit biasanya akibat dari penyakit DM, - Riwayat penyakit sekarang : Penyakit keluarga biasanya seperti : DM, 3. Observasi & Pemeriksaan Fisik 1. Observasi Tanda-tanda Vital - S : Suhu meningkat (biasanya antara 37,5-38,5 C) - N : Nadi meningkat (biasanya >100 x/mnt) - RR : Pernafasan normal (18-20 x/mnt) - TD : Tekanan darah normal (110/70-130/90 mmHg) 2. Pemeriksaan Fisik a). Pemeriksaan S.Pernafasan - Pernafasan pendek, karena menahan nyeri (nyeri daerah simpisis pubis) b). Pemeriksaan S.Kardiovaskuler - Tidak ada gangguan pada sistem kardiovaskuler c). Pemeriksaan S.Persepsi-sensori - Tidak ada gangguan pada sistem persersi-sensori d). Pemeriksaan S.Muskulus - Tidak ada gangguan pada sisitem muskulus e). Pemeriksaan S.Pencernaan – Abdomen tegang dan nyeri tekan pada daerah simpisis pubis/perut bagian bawah. f). Pemeriksaan S.Perkemihan - Nyeri dan panas saat berkemih - Terjadi disuria, hematuria, & piuria – Mukosa memerah dan edema – Terdapat cairan eksudat yang purulent – Ada ulserasi pada uretra – Adanya rasa gatal yang menggelitik – Adanya pus pada awal miksi – Kesulitan untuk memulai miksi – Nyeri pada abdomen bagian bawah B. DIAGNOSA KEPERAWATAN 1. Nyeri b/d proses peradangan 2. Hipertermi b/d proses peradangan 3. Resiko infeksi b/d penyebaran patogen secara sistemik 4. Gangguan eliminasi urine b/d obstruksi/edema/proses peradangan pada saluran kemih. C. INTERVENSI 1. Dx : Nyeri b/d proses peradangan Tujuan : Rasa nyeri bisa berkurang / hilang Kriteria Hasil : 1. Klien mengungkapkan nyeri berkurang/hilang 2. Tidak ada nyeri abdomen bawah / daerah simpisis pubis 3. Mukosa uretra tidak memerah / edema 4. Tidak ada nyeri saat berkemih 5. Ekspresi wajah tenang DS : Px biasanya mengeluh nyeri dan panas pada daerah kelamin terutama pada saat berkemih. DO : – Ekspresi wajah meringis, menahan nyeri - Px sering memegang kelamin, sering memegang perut bagian bawah & sering menggaruk-2 daerah kelamin Intervensi a). Mandiri : 1. Kaji tingkat nyeri, lokasi & intensitas R/ : Untuk membantu mengevaluasi tempat obstruksi & penyebab nyeri 2. Berikan tindakan nyaman, seperti pijatan R/ : Meningkatkan relaksasi & menurunkan tegangan otot 3. Alihkan perhatian pada hal yang menyenangkan R/ : Relaksasi, menghindari terlalu merasakan nyeri 4. Pantau pola berkemih secara berkala R/ : Untuk mengidentifikasi indikasi kemajuan / pengunduran gejala / penyakit. b). Kolaborasi : 1. Berikan analgetik sesuai kebutuhan & evaluasi keberhasilannya R/ : Analgetik memblok lintasan nyeri, sehingga mengurangi nyeri 2. Dx : Hipertermi b/d Proses Peradangan Tujuan : Suhu tubuh normal (36,5-37,2 C) Kriteria Hasil : 1. Pasien bebas dari demam 2. Pasien mengatakan tubuh tidak terasa panas 3. Mukosa uretra tidak memerah / edema 4. Suhu tubuh dan nadi normal 5. Ekspresi wajah tenang/tidak menyeringai DS : Px biasanya mengeluh tubuh terasa panas DO : – Ekspresi wajah meringis/menyeringai - Suhu meningkat (biasanya antara 37,5-38,5 C) - Nadi meningkat (biasanya >100 x/mnt) Intervensi : 1. Kaji timbulnya demam R/ : Untuk mengidentifikasi pola demam pasien 2. Observasi tanda-tanda vital (suhu, nadi, tekanan darah, & pernafasan) R/ : Tanda vital merupakan acuan untuk mengetahui kaeadaan umum pasien 3. Anjurkan pasien untuk banyak minum R/ : Peningkatan suhu tubuh mengakibatkan penguapan tubuh meningkat sehingga perlu diimbangi dengan asupan cairan yang banyak 4. Berikan kompres hangat R/ : Dengan vasodilatasi dapat meningkatkan penguapan yang dapat mempercepat penurunan suhu tubuh. 3. Dx : Resiko infeksi b/d penyebaran patogen secara sistemik Tujuan : Tidak ada tanda – tanda infeksi Kriteria Hasil : 1. Urine berwarna orange jernih / normal 2. Urine tidak mengandung / bercampur darah dan nanah DS : Px biasanya mengeluh waktu berkemih disertai darah dan nanah DO : – Adanya sekret / lendir / pus pada awal miksi - Mukosa merah dan edema pada uretra / saluran kemih - Urine berwarna merah Intervensi a). Mandiri : 1. Tingkatkan kebersihan yang baik pada pasien, keluarga dan tenaga kesehatan R/ : Menurunkan resiko kontaminasi silang 2. Awasi / pantau tanda-tanda vital R/ : Demam dengan peningkatan nadi dan pernafasan & tanda vital merupakan acuan untuk mengetahui kaeadaan umum pasien 3. Dorong peningkatan pemasukan cairan R/ : Meningkatkan hidrasi untuk membilas bakteri 4. Berikan perawatan parineal R/ : Dapat mencegah kontaminasi uretra b). Kolaborasi : 1. Lakukan tindakan untuk memelihara asam urine (Tingkatkan masukan sari buah berri dan berikan obat-obat untuk meningkatkan asam urine) R/ : Asam urine menghalangi, membunuh / mengurangi tumbuhnya kuman, peningkatan masukan sari buah dapat berpegaruh dalam pengobatan infeksi. 2. Berikan antibiotik sesuai kebutuhan & evaluasi keberhasilannya R/ : Dapat mencegah/mengurangi kolonisasi periuretra agar tidak terjadi kekambuhan infeksi. 4. Dx : Perubahan eliminasi urine b/d obstruksi / edema / proses peradangan pada saluran kemih Tujuan : Px dapat mempertahankan pola eliminasi urine / BAK secara adekuat Kriteria Hasil : 1. Klien dapat berkemih / BAK secara lancar 2. Klien tidak kesulitan saat berkemih 3. Pola eliminasi membaik, tidak terjadi tanda-tanda gangguan berkemih (seperti : disuria, piuria, & hematuria) DS : Px biasanya mengeluh kesulitan untuk memulai miksi / berkemih DO : – Mukosa merah dan edema pada uretra / saluran kemih Intervensi a). Mandiri : 1. Awasi pemasukan dan pengeluaran karakteristik urine R/ : Memberikan dan mengetahui informasi tentang fungsi ginjal dan adanya komplikasi 2. Dorong peningkatan pemasukan cairan R/ : Meningkatkan hidrasi untuk membilas bakteri b). Kolaburasi : 1. Awasi pemeriksaan laboratorium (elektrolit, BUN, keratinin) R/ : Pengawasan terhadap disfungsi ginjal DAFTAR PUSTAKA 1. Nursalam & B.B,Fransisca. 2009. Askep pada Pasien dengan Gangguan Sistem Perkemihan. Jakarta : Salemba Medika. 2. E.Dongoes, Marilynn & Moorhouse, Mary Frances & C.Geissler, Alice. 1999. Rencana Askep Pedoman untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien Ed.3. Jakarta : EGC. 3. Http//www.geogle.com, Hari Senin jm 13.00 4. Http//www.geogle.com, Hari Kamis jm 11.00

SISTEM PERKEMIHAN
ASKEP URETRITIS

Disusun Oleh : Kelompok
1. Agus Siswantoro
2. Mashudin F.

PRODI D3 KEPERAWATAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
“INSAN CENDEKIA MEDIKA“
JOMBANG
2009/2010

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT karena berkat rahmat dan nikmatnya kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “URETRITIS” ini dengan baik dan tepat waktu.
Kami menyadari makalah ini masih jauh dari sempurna, untuk itu kritik dan saran yang membangun sangat kami harapkan demi kesempurnaan makalah ini.
Makalah ini tidak akan mungkin selasai tanpa bantuan dari berbagai pihak, untuk itu kami mengucapkan terima kasih kepada :
1. B. Nita, S.Kep.Ns selaku dosen s.Perkemihan
2. Serta teman-teman kelas III A
Dan berbagai pihak lain yang tidak dapat kami sebutkan satu persatu.
Dengan segala kerendahan hati kami berharap makalah ini berguna dan bermanfaat bagi yang memerlukannya.

Jombang, Desember 2010

Penulis

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL i
KATA PENGANTAR ii
DAFTAR ISI iii
BAB I PEMBAHASAN 1
A. Definisi 1
B. Etiologi 1
C. Klasifikasi 1
D. Manifestasi Klinis 3
E. Patofisiologi 3
F. Pemeriksaan Diagnostik 4
ASUHAN KEPERAWATAN 8
A. Pengkajian 8
B. Diagnosa Keperawatan 9
C. Intervensi 9
DAFTAR PUSTAKA 12

BAB I
PEMBAHASAN

1.1 DEFINISI
Uretritis adalah peradangan / inflamasi pada uretra atau suatu infeksi yang menyebar keatas / asending.

1.2 ETIOLOGI
• Kuman Gonorrhoe (N.Gonorhoe)
• Kuman Non-Gonorrhoe (Klamidia Trakomatik / Urea Plasma Urelytikum)
• Tindakan invasif
• Iritasi batu ginjal
• Trihomonas vaginalis
• Organisme gram negatif :
- Escherichia coli
- Entero bakteri
- Pseudomonas
- Klebsiella dan Proteus

1.3 KLASIFIKASI
1. Uretritis Akut
Biasanya terjadi karena asending infeksi, atau sebaliknya oleh karena prostat mengalami infeksi. Keadaan ini sering diderita oleh kaum pria.

# Tanda dan gejala :
- Mukosa merah dan edema.
- Terdapat cairan eksudat yang purulent.
- Ada ulserasi pada uretra.
- Ada rasa gatal yang menggelitik
- Pada pria pembuluh darah kapiler melebar, kelenjar uretra tersumbat oleh
kelompok nanah
- Pada wanita jarang ditemukan uretritis akut, kecuali bila pasien menderita
gonorhoe.

# Pemeriksaan Diagnostik :
Dilakukan pemeriksaan terhadap sekret uretra untuk mengetahui kuman penyebab.

# Tindakan Pengobatan :
a. Pemberian antibiotika
b. Bila terjadi striktura, dilakukan dilatasi uretra dengan menggunakan bougie.

# Komplikasi :
1. Prostatitis
2. Peri uretral abses yang dapat sembuh, kemudian menimbulkan striktura atau
Fistul uretra.

2. Uretritis Kronis
# Penyebab :
- Pengobatan yang tidak sempurna pada masa akut.
- Prostatitis kronis.
- Striktura uretra.

# Tanda dan gejala :
- Mukosa terlihat granuler dan merah
- Getah uretra (+), dapat dilihat pada pagi hari sebelum miksi pertama.

# Prognosa :
Bila tidak diobati dengan baik, infeksi dapat menjalar ke kandung kemih, ureter & ginjal.

# Tindakan pengobatan :
- Pemberian antibiotik
- Banyak minum untuk melarutkan bakteri (+ 3000 cc/ hari).

# Komplikasi :
1. Radang dapat menjalar ke prostate
2. Prostatitis
Prostatitis bakterial akut terjadi dengan gejala-gejala infeksi saluran kemih bagian bawah, nyeri di perineum atau obstruksi. Hasil pemeriksaan menunjukkan prostat yang membengkak dan lunak. Urinalisis biasanya menunjukkan piuria dan bakteriuria dengan hasil kultur uropatogen yang khas.

1.4 MANIFESTASI KLINIK UMUM
1. Mukosa memerah dan edema
2. Terdapat cairan exudat yang purulent
3. Ada ulserasi pada uretra
4. Adanya rasa gatal yang menggelitik
5. Adanya pus pada awal miksi
6. Nyeri pada saat miksi
7. Kesulitan untuk memulai miksi
8. Nyeri pada abdomen bagian bawah

1.5 PATOFISIOLOGI
- Invasi kuman (gonorrhoe, trihomonas vaginalis gram negatif) uretritis
- Iritasi (iritasi batu ginjal, iritasi karena tindakan invasif menyebabkan retak dan
permukaan mukosa pintu masuknya kuman proses peradangan uretritis).
Pada kebanyakan kasus organisme penyebab dapat mencapai kandung kemih melalui uretra. Infeksi ini sebagai sistitis, dapat terbatas di kandung kemih saja / dapat merambat ke atas melalui uretra ke ginjal. Organisme juga dapat sampai ke ginjal atau melalui darah / getah bening, tetapi ini jarang terjadi. Tekanan dari kandung kemih menyebabkan saluran kemih normal dapat mengeluarkan bakteri yang ada sebelum bakteri tersebut sampai menyerang mukosa.
Obstruksi aliran kemih proksimal terhadap kandung kemih mengakibakan penimbunan cairan, bertekanan dalam pelvis ginjal dan ureter. Hal ini dapat menyebabkan atrofi hebat pada parenkim ginjal / hidronefrosis. Disamping itu obstruksi yan6g terjadi di bawah kandung kemih sering disertai refluk vesiko ureter dan infeksi pada ginjal. Penyebab umum obstruksi adalah jaringa parut ginjal dan uretra, batu saluran kemih, neoplasma, hipertrofi prostat, kelainan kongenital pada leher kandung kemih dan uretra serta penyempitan uretra.

1.6 PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
- Kultur urine : Mengidentifikasi organisme penyebab
- Urine analisis/urinalisa : Memperlihatkan bakteriuria, sel darah putih, dan endapan sel darah merah dengan keterlibatan ginjal
- Darah lengkap
- Sinar-X ginjal, ureter dan kandung kemih mengidentifikasi anomali struktur nyata.
- Pielogram intravena (IVP) : Mengidentifikasi perubahan atau abnormalitas struktur.

ASUHAN KEPERAWATAN

A. PENGKAJIAN
1. Identitas
- Usia : Semua usia bisa terkena penyakit ini, biasanya lebih sering pada umur >45 thun.
- Jenis kelamin : Perempuan lebih rentan terkena uretritis dibanding laki-laki.
- Alamat/tempat tinggal : Tempat/daerah yeng sering terjadi/sebagai faktor resiko peyebaran, seperti daerah lokalisasi, daerah perairan, dsb.

2. Riwayat Penyakit
- Riwayat penyakit sekarang : Masuk rumah sakit dengan keluhan nyeri dan panas pada daerah kelamin terutama pada saat berkemih, kadang juga disertai darah dan nanah.
- Riwayat penyakit dahulu : Penyebab penyakit biasanya akibat dari penyakit DM,
- Riwayat penyakit sekarang : Penyakit keluarga biasanya seperti : DM,

3. Observasi & Pemeriksaan Fisik
1. Observasi Tanda-tanda Vital
- S : Suhu meningkat (biasanya antara 37,5-38,5 C)
- N : Nadi meningkat (biasanya >100 x/mnt)
- RR : Pernafasan normal (18-20 x/mnt)
- TD : Tekanan darah normal (110/70-130/90 mmHg)

2. Pemeriksaan Fisik
a). Pemeriksaan S.Pernafasan
- Pernafasan pendek, karena menahan nyeri (nyeri daerah simpisis pubis)
b). Pemeriksaan S.Kardiovaskuler
- Tidak ada gangguan pada sistem kardiovaskuler
c). Pemeriksaan S.Persepsi-sensori
- Tidak ada gangguan pada sistem persersi-sensori
d). Pemeriksaan S.Muskulus
- Tidak ada gangguan pada sisitem muskulus
e). Pemeriksaan S.Pencernaan
- Abdomen tegang dan nyeri tekan pada daerah simpisis pubis/perut bagian bawah.
f). Pemeriksaan S.Perkemihan
- Nyeri dan panas saat berkemih
- Terjadi disuria, hematuria, & piuria
- Mukosa memerah dan edema
- Terdapat cairan eksudat yang purulent
- Ada ulserasi pada uretra
- Adanya rasa gatal yang menggelitik
- Adanya pus pada awal miksi
- Kesulitan untuk memulai miksi
- Nyeri pada abdomen bagian bawah

B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Nyeri b/d proses peradangan
2. Hipertermi b/d proses peradangan
3. Resiko infeksi b/d penyebaran patogen secara sistemik
4. Gangguan eliminasi urine b/d obstruksi/edema/proses peradangan pada saluran kemih.

C. INTERVENSI
1. Dx : Nyeri b/d proses peradangan
Tujuan : Rasa nyeri bisa berkurang / hilang
Kriteria Hasil :
1. Klien mengungkapkan nyeri berkurang/hilang
2. Tidak ada nyeri abdomen bawah / daerah simpisis pubis
3. Mukosa uretra tidak memerah / edema
4. Tidak ada nyeri saat berkemih
5. Ekspresi wajah tenang
DS : Px biasanya mengeluh nyeri dan panas pada daerah kelamin terutama pada saat berkemih.
DO : – Ekspresi wajah meringis, menahan nyeri
- Px sering memegang kelamin, sering memegang perut bagian bawah & sering menggaruk-2 daerah kelamin
Intervensi
a). Mandiri :
1. Kaji tingkat nyeri, lokasi & intensitas
R/ : Untuk membantu mengevaluasi tempat obstruksi & penyebab nyeri
2. Berikan tindakan nyaman, seperti pijatan
R/ : Meningkatkan relaksasi & menurunkan tegangan otot
3. Alihkan perhatian pada hal yang menyenangkan
R/ : Relaksasi, menghindari terlalu merasakan nyeri
4. Pantau pola berkemih secara berkala
R/ : Untuk mengidentifikasi indikasi kemajuan / pengunduran gejala / penyakit.
b). Kolaborasi :
1. Berikan analgetik sesuai kebutuhan & evaluasi keberhasilannya
R/ : Analgetik memblok lintasan nyeri, sehingga mengurangi nyeri

2. Dx : Hipertermi b/d Proses Peradangan
Tujuan : Suhu tubuh normal (36,5-37,2 C)
Kriteria Hasil :
1. Pasien bebas dari demam
2. Pasien mengatakan tubuh tidak terasa panas
3. Mukosa uretra tidak memerah / edema
4. Suhu tubuh dan nadi normal
5. Ekspresi wajah tenang/tidak menyeringai

DS : Px biasanya mengeluh tubuh terasa panas
DO : – Ekspresi wajah meringis/menyeringai
- Suhu meningkat (biasanya antara 37,5-38,5 C)
- Nadi meningkat (biasanya >100 x/mnt)
Intervensi :
1. Kaji timbulnya demam
R/ : Untuk mengidentifikasi pola demam pasien
2. Observasi tanda-tanda vital (suhu, nadi, tekanan darah, & pernafasan)
R/ : Tanda vital merupakan acuan untuk mengetahui kaeadaan umum pasien
3. Anjurkan pasien untuk banyak minum
R/ : Peningkatan suhu tubuh mengakibatkan penguapan tubuh meningkat sehingga perlu diimbangi dengan asupan cairan yang banyak
4. Berikan kompres hangat
R/ : Dengan vasodilatasi dapat meningkatkan penguapan yang dapat mempercepat penurunan suhu tubuh.

3. Dx : Resiko infeksi b/d penyebaran patogen secara sistemik
Tujuan : Tidak ada tanda – tanda infeksi
Kriteria Hasil :
1. Urine berwarna orange jernih / normal
2. Urine tidak mengandung / bercampur darah dan nanah

DS : Px biasanya mengeluh waktu berkemih disertai darah dan nanah
DO : – Adanya sekret / lendir / pus pada awal miksi
- Mukosa merah dan edema pada uretra / saluran kemih
- Urine berwarna merah
Intervensi
a). Mandiri :
1. Tingkatkan kebersihan yang baik pada pasien, keluarga dan tenaga kesehatan
R/ : Menurunkan resiko kontaminasi silang
2. Awasi / pantau tanda-tanda vital
R/ : Demam dengan peningkatan nadi dan pernafasan & tanda vital merupakan acuan untuk mengetahui kaeadaan umum pasien
3. Dorong peningkatan pemasukan cairan
R/ : Meningkatkan hidrasi untuk membilas bakteri
4. Berikan perawatan parineal
R/ : Dapat mencegah kontaminasi uretra
b). Kolaborasi :
1. Lakukan tindakan untuk memelihara asam urine (Tingkatkan masukan sari buah berri dan berikan obat-obat untuk meningkatkan asam urine)
R/ : Asam urine menghalangi, membunuh / mengurangi tumbuhnya kuman, peningkatan masukan sari buah dapat berpegaruh dalam pengobatan infeksi.
2. Berikan antibiotik sesuai kebutuhan & evaluasi keberhasilannya
R/ : Dapat mencegah/mengurangi kolonisasi periuretra agar tidak terjadi kekambuhan infeksi.

4. Dx : Perubahan eliminasi urine b/d obstruksi / edema / proses peradangan pada saluran kemih
Tujuan : Px dapat mempertahankan pola eliminasi urine / BAK secara adekuat
Kriteria Hasil :
1. Klien dapat berkemih / BAK secara lancar
2. Klien tidak kesulitan saat berkemih
3. Pola eliminasi membaik, tidak terjadi tanda-tanda gangguan berkemih (seperti : disuria, piuria, & hematuria)

DS : Px biasanya mengeluh kesulitan untuk memulai miksi / berkemih
DO : – Mukosa merah dan edema pada uretra / saluran kemih
Intervensi
a). Mandiri :
1. Awasi pemasukan dan pengeluaran karakteristik urine
R/ : Memberikan dan mengetahui informasi tentang fungsi ginjal dan adanya komplikasi
2. Dorong peningkatan pemasukan cairan
R/ : Meningkatkan hidrasi untuk membilas bakteri
b). Kolaburasi :
1. Awasi pemeriksaan laboratorium (elektrolit, BUN, keratinin)
R/ : Pengawasan terhadap disfungsi ginjal

DAFTAR PUSTAKA

1. Nursalam & B.B,Fransisca. 2009. Askep pada Pasien dengan Gangguan Sistem Perkemihan. Jakarta : Salemba Medika.
2. E.Dongoes, Marilynn & Moorhouse, Mary Frances & C.Geissler, Alice. 1999. Rencana Askep Pedoman untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien Ed.3. Jakarta : EGC.
3. Http//www.geogle.com, Hari Senin jm 13.00
4. Http//www.geogle.com, Hari Kamis jm 11.00

http://sweetspearls.com/health/terapi-ozon-terapi-alternatif-untuk-gangguan-pembuluh-darah

Terapi ozon bermanfaat untuk membantu menangkal radikal bebas dan mempercepat proses pengobatan stroke, hipertensi, dan penyakit degeneratif lainnya.Seperti sampah yang meracuni lingkungan, udara yang kotor dan gaya hidup tidak sehat juga merusak kesehatan kita. Berbagai zat beracun seperti sampah metabolisme dan zat radikal bebas lainnya yang masuk ke dalam tubuh melalui pernapasan dan kulit, dapat mengurangi kadar oksigen di dalam darah menjadi sangat rendah.Menurut Dr Mulyadi Tedjapranata, MD, dari Medizone, Clinic Specialist in Ozone Therapy di Jakarta, masalah ini sering menjadi pemicu utama munculnya sindrom metabolik dan penyakit degeneratif seperti, obesitas, diabetes melitus, stroke, hipertensi, jantung koroner, hingga penyakit kanker.Pendapatnya ini, antara lain, didasarkan pada hasil penelitian Dr Otto Warburg dari Kaiser Institute, Berlin, Jerman. Peraih Hadiah Nobel 1931 di bidang kesehatan ini, pada tahun 1926 telah berhasil membuktikan bahwa sel tubuh penderita penyakit degeneratif dan kanker sangat rendah kadar oksigennya. Pada tahun 1953, hasil penelitian Dr Stephen A. Levine, PhD, ahli biologi molekuler, dipublikasikan oleh The Journal of Experimental Medicine (1953). Penelitian ini berhasil membuktikan bahwa pada setiap penderita penyakit berat didapati status oksigen yang rendah.
“Hipoksia atau kekurangan oksigen di dalam jaringan tubuh inilah yang menjadi salah satu pemicu utama berbagai penyakit degeneratif dan proses penuaan dini,“ tulis Dr Stephen dalam laporan ilmiahnya. Karenanya, untuk mengatasi masalah ini, aliran oksigen di semua jaringan tubuh harus dinormalkan kembali, agar tubuh bisa menghasilkan energi secara maksimal untuk membuang racun dan sampah metabolisme yang mengendap di dalam tubuh. Salah satu metode pembersihan tubuh yang bisa dicoba adalah terapi ozon – terapi pengayaan oksigen atau ozononisasi dalam darah untuk memperbaiki sel-sel tubuh yang mengalami kekurangan oksigen.
Populer di Eropa
Ozon yang digunakan adalah medical ozone atau ozon medis, berupa campuran 0.05-5% ozon (O3) dan 99,95-95% oksigen (O2) yang terbentuk setelah melewati medan listrik (ozone generator) berkekuatan sekitar 14.000 Volt. Ozon (O3) ini setelah masuk ke tubuh melalui darah akan terpecah menjadi O2 dan satu atom tunggal (O). Oksigen bermanfaat bagi kelangsungan hidup sel, sedangkan satu atom tunggal (O) merupakan oxydizer berenergi tinggi yang dapat membakar sampah, toksin, polusi dan mikroorganisme dalam tubuh.
Dr Mulyadi menjelaskan, semua sel di dalam tubuh memerlukan oksigen untuk kelangsungan hidup dan menjalankan fungsinya. “Sebaliknya, berbagai mikroorganisme seperti virus, bakteri, jamur, parasit yang menyebabkan penyakit adalah organisme primitif yang anaerobe – bisa hidup tanpa oksigen.
Karenanya, jika mikroorganisme itu dibanjiri ozon secara terus menerus dalam jangka waktu tertentu, mikroorganisme tersebut akan musnah karena mereka tidak dapat hidup dalam oksigen. ”Termasuk sel-sel kanker. Seiring terjadinya proses regenerasi atau pertumbuhan sel-sel baru setelah mendapat rangsangan melalui terapi ozon, sel-sel kanker tersebut digantikan oleh sel sehat, “ demikian Dr Mulyadi menjelakan.
Dan kini, terapi ozon telah dipakai sebagai terapi komplementer dan terapi pendukung (supportive) pada pengobatan konvensional, tidak saja di negara-negera Eropa, tetapi juga telah menyebar sampai ke Amerika Serikat, Kanada, Meksiko, dan ke Asia – mulai dari Jepang, Singapura, Malaysia, hingga ke Indonesia.
Metode terapi
Lalu bagaimana metode terapinya? Sebetulnya ada beberapa metode terapi ozon, tetapi yang paling popular adalah Polyatomic Apheresis (PA atau Re-Circulatory Autohemo Perfusion) dan Major Autohemotherapy (AHT). Kedua metode ini juga sudah ada di Indonesia, antara lain di Stanford Medical Center-Russian Technology of Ozone Therapy, dan di Medizone – Clinic Specialist in Ozone Apheresis.
Pada Polyatomic Apheresis atau PA, darah diambil dari pembuluh darah balik di lengan, dialirkan ke dalam tabung dialyser yang khusus diberi medical ozon sesuai kebutuhan. Darah hasil terapi yang sudah dibio-oksidasi warnanya lebih cerah karena mengandung oksigen lebih banyak dari sebelumnya serta kandungan radikal bebas dan sampah metabolismenya telah dinetralkan.” Selanjutnya, darah hasil terapi ini dikembalikan lagi ke dalam pembuluh darah balik, lewat lengan tangan lainnya dengan kecepatan aliran 90 cc per menit, sehingga dalam waktu satu jam darah yang berhasil diterapi sekitar 5.400 cc,” kata Dr Mulyadi.
Sedangkan pada metode Autohemo Therapy (AHT), darah dikeluarkan dari pembuluh balik sekitar 150 cc, lalu ditampung dalam botol vakum dan segera diberi ozon dengan konsentrasi 27-40 mcg per ml. Setelah warnanya merah cerah, darah segera dimasukkan kembali ke dalam pembuluh darah balik. Pada metode AHT, prosesnya hanya berlangsung sekitar 15 menit.
Dr Mulyadi menjelaskan, proses terapi ozon aman karena semua alat medis telah disterilkan dan sekali pakai, sehingga tidak ada risiko kontak dengan darah orang lain. Selain itu, semua alat dan mesin yang digunakan adalah buatan Jerman dan telah dipatenkan di Amerika Serikat. Karenanya wajar jika terapi ozon ini tergolong relatif mahal. (Sumber Nirmala)

http://himagizi.lk.ipb.ac.id/category/artikel/Taburan Bumbu Kesehatan
June 24th, 2010 | Author: himagizi
Pernahkah kita menyangka, kehadiran sedikit saus pada burger bisa menjadi manfaat kesehatan yang tersembunyi?
Penelitian terbaru menunjukkan beberapa bumbu dapur dan tumbuhan herbal tidak hanya mampu meningkatkan rasa, tapi juga akan membantu mengontrol nafsu makan, melancarkan pencernaan, meningkatkan kemampuan daya ingat, dan bahkan melawan penyakit jantung hingga kanker. Inilah bumbu sehat yang dimaksud :
Saus tomat.
Manfaat : menurunkan risiko penyakit kardiovaskular.
Dosis harian : 3-4 sendok makan.
Kandungan likopen dalam saus tomat merupakan senyawa antioksidan penting yang dapat memperlambat proses terjadinya aterosklerosis (kondisi dimana dinding arteri mengalami penebalan dan tidak lentur), jelas Betty Ishida, PhD, ahli biologi dari penelitian USDA. Studi dalam Journal of Agricultural and Food Chemistry menemukan, saus tomat versi organik mengandung likopen 60% lebih banyak setiap gramnya, jika dibandingkan dengan saus tomat pada umumnya. Hal lain yang juga ditemukan peneliti adalah adanya kandungan vitamin A, C, dan E yang tinggi pada saus tomat organik.
Tip penyajian : Dapatkan likopen terbaik dari saus tomat yang memiliki warna gelap. Nikmati sehatnya saus tomat bersama buger dan kentang panggang. Atau kita bisa campurkan dengan mayones tanpa lemak dan sajikan sebagai dressing, saran Tanya Zuckerbrot, RD, ahli diet dari New York City.
Madu Buckwheat
Manfaat : melawan penuaan.
Dosis harian : 2-4 sendok makan.
Setelah meneliti 19 jenis madu, para peneliti dari University of Illinois Urbana-Champaign menyimpulkan madu berwarna gelap -seperti buckwheat atau blueberry – mengandung antioksidan paling banyak. Dan fungsi dari antioksidan adalah melindungi sel dari kerusakan akibat radikal bebas, serta menurunkan risiko penyakit jantung, kanker, penurunan kognitif, dan degenerasi makula.
Tip penyajian : Karena sudah memiliki cita rasa yang kuat, jadi kita hanya perlu menambahkan sedikit madu pada oatmeal, yogurt tanpa rasa, dan teh. Ini lebih baik dibanding kita menggunakan gula, saran Daniel Stern, koki eksekutif dari restoran MidAtlantic dan R2L di Philadelphia. Atau kita bisa menghadirkan madu sebagai dressing manis dalam salad kita.
Kayu Manis.
Manfaat : menstabilkan kadar gula darah.
Dosis harian : 1 sendok teh.
Serangkaian studi yang dicatat dalam American Journal of Clinical Nutrition menemukkan, orang yang memasukkan kayu manis (½ – 1 sendok teh) pada hidangan manis mereka akan mengalami peningkatan gula darah yang lebih lambat dibanding dengan orang yang tidak mengonsumsi sama sekali. Rempah ini mampu meningkatkan sensitivitas insulin dan membuat kita menggunakan glukosa dalam darah lebih banyak sehingga mampu menjaga kestabilan gula darah, kata Joanna Hlebowicz, PhD, ketua penelitian di Lund University di Swedia. Menambahkan kayu manis pada makanan berkarbohidrat tinggi atau yang mengandung zat tepung, juga bisa membantu kita menstabilkan gula darah setiap kali kita usai memakannya. Dan bagi penderita diabetes, ini artinya kita mengurangi kebutuhan kita akan insulin.
Tip penyajian : Taburkan kayu manis pada kue, sereal, atau latte.
Lada Hitam.
Manfaat : pelindung melawan kanker.
Dosis harian : sebagai perasa.
Temuan terbaru dari University of Michigan menyatakan, kandungan piperine dalam lada hitam bisa menghentikan proses pembaharuan dari sel batang kanker. “Dengan mengurangi jumlah sel batang kanker, berarti kita juga membatasi jumlah sel yang berpotensi menjadi tumor,” jelas Madhuri Kakarala, MD, PhD, ketua penelitian dari University of Michigan Medical School.
Tip penyajian : Bisa ditaburkan di atas makanan kegemaran. Atau kita juga bisa mencampurkan ke dalam yogurt tanpa rasa dan menjadi topping buah segar, tambah Stern.(Astrid Anastasia)

Terapisengat lebah http://www.kiwod.com/cerita-online/terapi-sengat-lebah-mengobati-rematik-hingga-stroke/
Disebutkan dalam Al quran surat An Nahl ayat 68-69, di dalam madu lebah terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Ayat tersebut menjabarkan pada manusia, lebah memiliki khasiat yang dapat menyembuhkan bermacam-macam penyakit dan untuk Terapi Stroke.
Produk turunan yang dihasilkan lebah ada 13, di antaranya madu, propolis, royal jelly, pollen, bee venom, lilin lebah, madu sarang, roti lebah, larva lebah, dan phedra.
Pengobatan dengan menggunakan lebah biasa disebut Aphitherapy (apiterapi), yang berasal dari perpaduan bahasa Latin, aphis berarti lebah dan therapy, pengobatan.
Apiterapi didefinisikan sebagai upaya pengobatan komplementer untuk tujuan prefentif, kuratif, dan rehabilitasi menggunakan lebah dan produk turunannya.
Selain itu, Dr. Philip Tere dari Perancis pernah meneliti hubungan antara sengat lebah dan rematik. Sebelumnya, tahun 1864, Prof. Libowsky melaporkan kesembuhan pasiennya yang menderita rematik dan neuralgia setelah diterapi dengan sengatan lebah.
Pengobatan menggunakan sengat (bisa) lebah dikenal sebagai apipuntur. Apipuntur, kata Oman adalah bagian dari apiterapi. Apipuntur memanfaatkan bee venom dan metode akupuntur. Lebah untuk terapi ini jenis Apis mellifera dan Apis cerana. Apipuntur sendiri merupakan bagian dari apiterapi.
Sengat atau racun lebah sangat baik untuk menormalkan segala aktivitas pembuluh darah dan saraf.
“Hasil penelitian menunjukkan bahwa sengat lebah mengandung melitin, apamin, peptida 401 (MDC), inhibitor protease, dan norepinephrine,” kata terapis yang mendalami pengobatan sengat lebah sejak tahun 2000 itu.
Apiterapi secara umum dimanfaatkan untuk meredakan gangguan rematik, masuk angin, flu, salah urat, hingga penyakit berat, seperti darah tinggi, diabetes, dan kanker. Cara itu pun diklaim efektif untuk mengobati penyakit degeneratif, seperti stroke atau untuk Terapi Stroke.
Seseorang yang mempunyai keluhan tidak semerta langsung diterapi. Oman memilki cara untuk mendeteksi penyakit yang diderita pasien. “Kalau ditekan ditempat yang menjadi sumber penyakit terasa sakit, di tempat itu dilalukan sengatan, jadi tidak sembarangan,” jelasnya.
Jumlah sengatan tergantung pada jenis penyakit. Namun, satu sengatan di titik-titik tertentu dianggap cukup sebagai perkenalan.
“Buat yang baru terapi biasanya diberi satu atau dua sengatan, kalau yang sudah biasa biasa sampi tujuh tapi tidak boleh lebih dari 10, kalau terlalu banyak bisa meriang meski daya tahan tubuh pasien kuat,” jelasnya.
Sengatan lebah yang sedang bereaksi di tubuh ditandai dengan ketidaknormalan sejenak yang sifatnya individual. Reaksi pasien berbeda-beda, apakah sebelumnya pernah disengat lebah atau tidak.
Biasanya pasien akan mengalami reaksi lokal dan sistemik. Ciri reaksi lokal adalah pembengkakan di sekitar lokasi sengatan, gejala klinisnya gatal, nyeri, dan kaku. Reaksi sistemik berupa demam, lemas, telinga berdengung, dan pusing.
Untuk menetralkan kondisi tersebut, dia menganjurkan konsumsi madu dan mengoleskan minyak gosok di bagian yang bengkak dan gatal. Karena itu, terapi sengat lebah akan lebih efektif bila dikombinasikan dengan pemberian madu, propolis, pollen, atau royal jelly.
“Pasien yang pertama kali disengat dan daya tahan tubuhnya jelek biasanya suka meriang. Saya menganjurkan pasien untuk minum madu dan jangan mandi,” imbuh Oman.

http://www.kiwod.com/cerita-online/terapi-air-hangat-sembuhkan-stroke/

AIR hangat adalah satu media Terapi Stroke yang bisa menyembuhkan penyakit stroke. Efek hidrostatik, hidrodinamik dan hangatnya membuat tubuh bisa bergerak lancar, memperlancar peredaran darah dan memberikan ketenangan. Itulah hidropterapi. Bagaimanakah proses terapi stroke ini?
Menurut dr Peni Kusumastuti SpRM, spesialis rehabilitasi medik dari Klinik Dharma Daya Lestari Jakarta, menyembuhkan stroke memang tidak semudah membalikkan telapak tangan. Butuh kesadaran dan kedisiplinan. Salah satu terapi stroke yang dapat memulihkan otot dan sendi yang kaku adalah hidroterapi.
Hidroterapi, kata dr Peni merrupakan salah satu bentuk terapi stroke latihan dengan menggunakan modalitas air hangat. Terapi stoke yang ditawarkan adalah therapeutical pool (terapi latihan di kolam).
Air, lanjutnya, adalah media terapi stroke yang tepat untuk pemulihan cedera. Pengaruh gaya apung air membuat beban terhadap sendi tubuh seorang pasien berkurang.
“Air yang digunakan memiliki suhu 31 derajat celsius. Kisaran suhu ini cukup aman dan memberikan efek relaksasi bagi pasien, melancarkan sirkulasi darah, menurunkan rasa nyeri dan meningkatkan kemampuan alat gerak,” katanya.
Dasar utama penggunaan air hangat untuk pengobatan adalah efek hidrostatik dan hidrodinamik. Secara ilmiah, jelas dr Peni, air hangat mempunyai dampak fisiologis bagi tubuh. Pertama, berdampak pada pembuluhdarah. Hangatnya air membuat sirkulasi darah menjadi lancar. Kedua, faktor pembebanan di dalam air akan menguatkan otot-otot dan ligament yang mempengaruhi sendi-sendi tubuh. Tak heran, pasien dengan menggunakan encok dan rematik sangat baik bila diterapi dengan air hangat.
Ketiga latihan di dalam air berdampak positif terhadap otot jantung dan paru-paru. Latihan di dalam air membuat sirkulasi pernapasan menjadi lebih baik.
“Efek hidrostatik dan hidrodinamik pada terapi stroke ini juga membantu menopang berat badan saat latihan jalan,” ujar Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Rehabilitasi Medik Indonesia (PERDOSRI)ini.
Selain hal-hal positif di atas, air bersuhu 31 derajat Celsius mempengaruhi oksigenisasi jaringan sehingga dapat mencegah kekakuan otot, menghilangkan rasa nyeri, menenangkan jiwa dan merilekskan tubuh.
” terapi stroke dengan air hangat banyak memiliki keunggulan, yakni menurunkan rasa nyeri, memperbaiki bentuk tubuh dan meningkatkan kemampuan alat gerak,” pungkasnya.
/lifestyle.okezone.com

Sekitar 50 persen pasien pasca stroke mengalami depresi sehingga menghambat proses pemulihan. Dengan bermain angklung, depresi bisa dikurangi dan proses pemulihan bisa berjalan lebih cepat.
Rasa sesal memang selalu datang belakangan. Itulah yang pernah dirasakan oleh Berry Tanukusuma (69, tahun), salah seorang pasien stroke yang tengah menjalani terapi di Sekolah Stroke, Klinik Neuropsikiatri dan Revitalisasi Karmel, Trio Sada, Kebun Jeruk, Jakarta Barat. ”Kalau bisa kembali ke masa lalu, niscara saya akan menjalani hidup lebih sehat, ” katanya.
Dulu, saat usianya masih relatif muda (46, tahun), ” Saya memang tidak peduli dengan gaya hidup sehat, ” tuturnya. Tanpa disadari, gaya hidup inilah yang menyebabkan kehidupannya berubah total. Tiba-tiba stroke menyerang dan membuatnya koma selama tiga hari. Dokter menemukan adanya penyumbatan pembuluh darah di otak sebelah kanan yang disebabkan oleh hiperkolesterol (450 mg/dl) yang dideritanya sejak beberapa bulan belakangan.
Berry pun mejalani perawatan intensif di rumah sakit selama enam bulan, masing-masing 3,5 bulan di Jakata dan 2,5 bulan di Singapura. ”Setiap hari saya hanya bisa menangis dan menyesal karena setelah sembuh pun saya tidak bisa apa-apa. Makan dan ke kamar mandi tidak bisa sendiri, ” katanya.
Sampai, akhirnya, ia menemukan tempat terapi yang unik. Hingga sikap murungnya pun berubah menjadi lebih menerima dan optimistik dalam memandang hidup, setelah menjalani rangkaian terapi bermain musik dan angklung di Sekolah Stroke, Klinik Neuropsikiatri dan Revitalisasi Karmel, Trio Sada, yang didirikan oleh Dr Hermawan Suryadi, SpS.
Mengapa terapi musik
Menurut Hermawan, terapi musik dalam dunia kedokteran ini sudah mulai diperkenalkan di Jepang sekitar tahun 1960-an. Saat itu, para dokter di Jepang mulai memperkenalkan karaoke sebagai terapi pendukung pada pasien gangguan jantung, stroke, sakit kepala, dan depresi. Dari serangkaian pemeriksaan setelah treatment dengan musik diberikan, ternyata terapi ini terbukti dapat mempercepat proses pemulihannya secara signifikan.
”Sejak itu terapi dengan memanfaatkan sarana musik terus dikembangkan dan kemudian diakui oleh European Neurological Association, yang kemudian mendorong diselenggarakannya lebih banyak penelitian ilmiah terhadap sistem terapi ini di berbagai negara,” katanya.
Yang terpenting adalah penelitian yang dilakukan oleh tim peneliti dari Finlandia awal 2008 lalu, yang berhasil membuktikan bahwa penderita stroke yang rajin mendengarkan musik setiap hari, ternyata mengalami peningkatan pada ingatan verbalnya dan memiliki mood yang lebih baik ketimbang penderita yang tidak menikmati musik.
Ada apa dengan angklung
Mengapa sesi terapi dengan bermain musik berefek positif bagi pasien penderita stroke? Menurut Hermawan, secara teoritis, bermain angklung dapat melatih pasien untuk melakukan gerakan menyilang garis tengah (cross midline), misalnya tangan kanan digerakkan ke arah kiri, yang merupakan inti dari senam kebugaran otak yang berkhasiat mengaktifkan jembatan otak (golden bridge). Jembatan ini menghubungkan otak bagian kiri dan kanan,yang akan membantu proses rehabilitasi pasien stroke.
Jika otak kiri adalah pusat bahasa, rasio, matematika, kemampuan baca dan tulis, otak kanan merupakan pusat intuisi dan kemampuan merasakan, memadukan dan ekspresi tubuh seperti menari, menyanyi dan melukis. ”Dalam konteks ini, bermain angklung berarti menggabungkan aktivitas otak kiri (lewat syair lagu) dan otak kanan (tangga nada) sehingga jembatan otak menjadi aktif, ” katanya.
Dengan bermain angklung – yang relatif mudah karena hanya terdiri dari satu tangga nada itu – banyak saraf di otak pasien yang bisa diaktifkan misalnya, saraf motorik tangan saat pasien menggerakkan angklung untuk membunyikan nada tertentu. Bersamaan dengan itu, saraf mata juga akan diaktifakan karena harus memperhatikan instruksi dari dirijen atau saat harus memperhatikan notasi dan teks lagu yang dinyanyikan. Ini sekaligus dapat memperbaiki gangguan verbal (ucapan) dan audio (pendengaran) yang biasa diderita pasien stroke.
“Dengan bermain angkung, saraf mata diintegrasikan dengan saraf bicara, dan saraf gerak. Begitu juga dengan saraf-saraf yang lain. Integrasi saraf inilah ( neuro sensory integration) yang memungkinkan terjadinya proses pemulihan atau rehabilitasi untuk penderita stroke,” jelas Hermawan.
Lebih tenang dan percaya diri
Selain itu, karena melibatkan orang banyak – satu tangga nada bisa dimainkan oleh beberapa orang – bermain angklung sangat baik sebagai sarana untuk bersosialisasi, mengenal lingkungan bagi sesama penderita stroke. ”Penelitian menunjukkan sekitar 50 persen pasien pasca stroke mengalami depresi, cenderung menutup diri, dan enggan bersosialisasi sehingga menghambat proses pemulihannya, ” katanya.
Dengan bermain angklung, sesama insan penderita stroke (IPS) akan didorong untuk saling berinteraksi, dan bertukar cerita satu sama lain sehingga mereka menjadi lebih tenang dan percaya diri. “Bahkan, apa yang ceritakan oleh sesama penderita stroke, biasanya, akan memberikan motivasi yang lebih besar dibandingkan nasehat dokter atau keluarga,” kata Hermawan. Lagi pula, dengan kemampuan bermain angklung, mereka bisa lebih mudah bersosialisasi dengan lingkungan keluarga dan masyarakat. (Sumber Nirmala)

http://sweetspearls.com/health/manfaat-bermain-angklung-untuk-terapi-pasca-stroke/

Terapi Intravena Deksametason untuk Meningitis

KILAS – Edisi November 2010 (Vol.10 No.4)
________________________________________

http://www.majalah-farmacia.com/rubrik/one_news.asp?IDNews=1901

Penerapan terapi intravena (I.V) pada orang yang terinfeksi meningitis memang telah diperdebatkan karena dalam beberapa penelitian besar, hal tersebut terbukti tidak efektif. Tapi sebuah temuan baru dari para peneliti Belanda menemukan bahwa temuan yang kemudian disebut dengan deksametason ini dapat memutus risiko kematian akibat bakteri meningitis.
“Temuan kami menampilkan bukti berharga yang menunjukkan bahwa deksametason efektif pada kasus meningitis bakteri bagi orang dewasa, dan mestinya terapi ditindaklanjuti untuk digunakan,” ujar Diederik van de Beek, MD, PhD, penulis studi dari Academic Medical Center, University of Amsterdam di Belanda dan anggota American Academy of Neurology dalam edisi online medical journal of the American Academy of Neurology, 29 september 2010.
Demi kepentingan studinya, para peneliti mengevaluasi 357 orang Belanda berusia 16 atau lebih tua yang mengidap meningitis pneumokokus antara tahun 2006 dan 2009. Sebanyak 84 persen dari orang-orang ini kemudian diberi deksametason melalui intravena dengan atau sebelum dosis pertama antibiotik. Hasilnya dibandingkan dengan hasil studi sebelumnya dari 352 orang yang mendapat perawatan meningitis bakteri pada 1998-2002.
sebelum guideline Belanda menyarankan penggunaan dexamethasone. Dalam penelitian tersebut, hanya tiga persen dari orang-orang itu yang diberi deksametason.
Dalam kedua studi, para peserta dinilai berdasarkan skor penilaian satu sampai lima. Skor satu untuk kematian, dua untuk koma, tiga untuk cacat berat, empat untuk cacat sedang dan lima untuk cacat ringan atau tidak ada cacat. Dalam studi terbaru, hanya 39 persen memiliki “hasil yang tidak menguntungkan,” atau skor empat, dibandingkan 50 persen dalam kelompok studi sebelumnya.
Studi ini menemukan bahwa tingkat kematian bagi mereka yang diberi deksametason adalah 10 persen lebih rendah dibandingkan pada mereka dalam kelompok studi awal. Tingkat gangguan pendengaran juga hampir 10 persen lebih rendah bagi mereka dalam kelompok studi nanti.
Meningitis bakteri atau radang selaput otak dan sumsum tulang belakang dikategorikan sebagai keadaan darurat medis. Meningitis didiagnosis dengan kultur bakteri yang diambil dari cairan tulang belakang atau dengan mengamati perubahan dalam cairan tulang belakangi.
Meningitis bakteri dapat mematikan, atau mengakibatkan gangguan pendengaran, kerusakan otak dan ketidakmampuan belajar. Di antara berbagai jenis meningitis bakteri, meningitis pneumokokus merupakan bentuk yang paling umum dan paling berat. Diperkirakan bahwa sekitar 25 sampai 30 persen orang meninggal akibat penyakit tersebut.
Gejala meningitis bakteri adalah kekakuan leher, demam dan keadaan mental yang berubah. Meningitis bakteri harus diobati dengan antibiotik selain obat seperti deksametason, yang merupakan obat dari kelas glukokortikosteroid.
Musik live digunakan di rumah sakit setelah kedua dari Perang Dunia, sebagai bagian dari rezim untuk beberapa tentara pulih. Klinis terapi musik di Inggris seperti yang dipahami saat ini dipelopori di 60-an dan 70-an dengan pemain cello Perancis Juliette Alvin, yang pengaruhnya pada generasi saat ini dosen terapi musik Inggris tetap kuat.
Mary Priestley, salah satu mahasiswa Juliette Alvin, datang untuk menemukan / menciptakan “terapi musik analitis”. terapi musik analitis adalah bentuk terapi musik yang bersama-sama dengan Sekolah Nordoff-Robbins Music Therapy, membentuk dua bentuk utama dari terapi musik yang digunakan saat ini.
Mary Priestley buku”Musik Terapi di Aksi”, pertama kali diterbitkan oleh polisi dan perusahaan © 1975 (ISBN 0-09-459900-9) dan””Esai tentang Terapi Musik Analitik, Penerbit Barcelona © 1994 (ISBN 0-9624080 -2-6) merupakan bagian dari pekerjaan inti saja untuk siswa dari terapi musik analitis seluruh dunia.
Pendekatan Nordoff-Robbins untuk terapi musik dikembangkan dari karya Paulus Nordoff dan Clive Robbins di 1950/60s. Hal ini didasarkan pada keyakinan bahwa semua orang dapat merespon musik, tidak peduli seberapa sakit atau cacat.
Kualitas unik musik sebagai terapi dapat meningkatkan komunikasi, perubahan dukungan, dan memungkinkan orang untuk hidup lebih resourcefully dan kreatif. Nordoff-Robbins sekarang menjalankan sesi terapi musik di seluruh Inggris, Amerika Serikat, Afrika Selatan, Australia dan Jerman. Kantor pusatnya berada di London di mana ia juga menyediakan pelatihan dan program pendidikan lebih lanjut, termasuk satu-satunya PhD dalam terapi musik yang tersedia di Inggris.
Musik terapis, banyak dari mereka bekerja dengan model improvisatory, aktif khususnya di bidang anak dan pembelajaran orang dewasa cacat, tetapi juga di psikiatri psikiatri dan forensik, geriatri, perawatan paliatif dan daerah lainnya.
Praktisi terdaftar dengan profesi Kesehatan Dewan dan dari 2007 pendaftar baru biasanya harus memegang gelar master dalam terapi musik.
Ada beberapa program tingkat master dalam terapi musik di Bristol, Cambridge, Cardiff, Edinburgh dan London, dan ada terapis seluruh Inggris.
Tubuh profesional di Inggris adalah Asosiasi Profesional Therapist Musik sedangkan Masyarakat Inggris untuk Musik Therapy adalah amal memberikan informasi tentang terapi musik.
Pada tahun 2002, Kongres Dunia Musik diadakan di Oxford, dengan tema Dialog dan Debat.
Pada bulan November 2006, Dr Michael J. Crawford dan koleganya lagi menemukan bahwa terapi musik membantu hasil dari penderita skizofrenia.
Pada tahun 2009, ia dan timnya meneliti kegunaan musik improvisasi dalam membantu pasien dengan agitasi dan juga mereka dengan demensia.

Ketika “Tumor Otak” telah menyerang

Tumor bisa menyerang organ apa saja pada tubuh manusia. Namun tak ada yang paling lebih ditakutkan dari tumor yang menyerang organ manusia yang menjadi pusat kendali aktivitas dan fungsi kehidupan manusia, yaitu otak.
Adanya tumor sudah pasti akan mengganggu fungsi organ inang yang ada di dekatnya. Sehingga dapat dipastikan, tumor otak sedikit banyak akan menimbulkan defisit neurologis penderitanya, baik jika tumor tersebut bisa diterapi maupun tidak.
Tumor otak yang timbul pada anak dan dewasa umumnya mempunyai ‘trend’ yang berbeda. Lebih dari separuh tumor otak pada anak timbul di fossa posterior. Jenis yang paling sering muncul adalah cerebellar astrocytoma. Tumor ini mudah diterapi dan memiliki prognosis yang baik. Pada umur kurang dari 5 tahun jenis tumor otak yang sering muncul adalah medullablastoma. Sedangkan jenis lain adalah retinoblastoma.
Tumor otak primer pada dewasa umumnya adalah glioma (60%) dan astrocytoma pada dewasa muda. Tumor primer secara statistik menduduki 65-75% dari keseluruhan kasus tumor otak, sedangkan sisanya adalah metastase tumor lain. Tumor metastase paling banyak berasal dari paru (40-60%). Selain itu, pada pria bisa berasal dari keganasan di saluran cerna dan prostat. Pada wanita, metastase berasal dari payudara, saluran cerna, melanoma di kulit serta kanker leher rahim.
Dalam Pertemuan Ilmiah Nasional Central Nervous System (CNS) di bidang Neuroonkologi yang diselenggarakan di Hotel Hyatt Surabaya, pada 23-25 Februari lalu, dr. Subagjo, ahli rehabilitasi medik RSU DR Soetomo memaparkan bahwa masalah utama pada tumor otak adalah diagnosis yang mengarah ke penemuan kasus (case finding). Seringkali kasus-kasus tumor otak ditemukan sudah sangat terlambat, yaitu saat timbul gejala klinis yang sudah mengganggu sekali. Untungnya 80% tumor otak sudah bisa dideteksi di pemeriksaan awal. Masalah penting lain pada tumor otak adalah terapi dan prognosisnya. Pada tumor karena metastase dari karsinoma paru, melanoma dan ginjal prognosisnya lebih buruk daripada karsinoma yang berasal dari payudara, usus besar dan sarcoma (keganasan jaringan ikat).
Mekanisme terjadinya gejala pada tumor otak berdasarkan pada pendesakan mekanis, herniasi massa yang besar, peningkatan tekanan intrakranial, berkurangnya aliran darah otak, edema cerebri tipe vasogenik, dan perubahan metabolik di otak. Gejala yang sering muncul adalah gangguan kognitif (70%), hemiparesis (66%), nyeri kepala (53%), kelumpuhan/kelemahan ekstremitas (40%), hipoestesi (27%), papiledema (26%), ataxia (24%), kejang (15%), pandangan kabur (12%), gangguan mental (31%), gangguan keseimbangan (20%), serta gangguan bicara (10%).

Prinsip Terapi

Prinsip dari terapi adalah terdiri dari terapi medikamentosa misalnya steroid, analgesik NSAID, anti kejang, kemoterapi, dan terapi osmotik dengan menggunakan manitol. Terapi definitf lain adalah dengan radioterapi, psikoterapi, terapi fisik dan pembedahan. Beberapa terapi seperti kemoterapi dan radioterapi seringkali memberikan efek gangguan neurologi seperti toxic neuropati, transient myelopati, gangguan visus, gangguan persepsi dan hilangnya sebagian memori dan kemampuan judgement. Namun, semua pasien yang diterapi tersebut tentunya masih membutuhkan terapi fisik atau rehabilitasi medik untuk memperbaiki defisit neurologis yang timbul.
Profesi yang berperan dalam rehabilitasi pasien tumor otak dan tumot syaraf pada umumnya adalah psikiatrist, fisioterapis, perawat rehabilitasi, occupational therapist, ahli terapi wicara, orthotist-prosthetis dan social worker. Menurut Subagjo yang menjadi ketua persatuan dokter spesialis rehabilitasi medik Jawa Timur khusus untuk program rehabilitasi medik untuk kasus tumor saraf bertujuan untuk mencegah dan mengeliminasi ketidakmampuan fisik penderita sedini mungkin. Selain itu juga bertujuan untuk meminimalkan kecacatan. Arah dari program ini adalah mencegah berkembangnya komplikasi karena prolonged imobilisasi (ulkus decubitus, kontraktur, atrofi otot, hipotensi orthostatik, dan pneumonia hipostatik). Komplikasi ini dapat dicegah dengan mobilisasi dini secara progresif, occupational terapi, dan perbaikan kualitas hidup. Program rehabilitasi yang lebih spesifik yaitu mengembalikan kemampuan mobilisasi, mempertahankan konsumsi nutrisi yang adequat, menyediakan peralatan fungsional yang mendukung sistem jantung dan paru serta kontrol untuk saluran cerna dan saluran urin. Bila terjadi komplikasi sesak dan batuk, medikamentosa yang umum dipakai adalah mukolitik dan bronkodilator. Nyeri dan gejala klinis yang mengganggu yang biasanya karena tumor metastasis juga dikontrol. Program rehabilitasi paliatif dilakukan pada fase terminal untuk mempertahankan kondisi dan fungsi yang nyaman bagi pasien dengan kemampuan pasien yang masih tersisa.

Manajemen Nyeri

Nyeri pada tumor otak disebabkan oleh space occupying process (proses pendesakan) di otak. Namun nyeri bisa pula karena sitostatika/kemoterapi dan radioterapi yang diberikan atau adanya faktor komorbid yang muncul bersamaan dengan tumor. Terapi medikamentosa sebagai terapi lini pertama merujuk pada pedoman The Step ladder of WHO.
Pada awalnya nyeri ringan diterapi dengan NSAID (obat antiinflamasi non steroid), jika perlu ditambahkan terapi adjuvan. Jika tidak ada respon atau nyeri meningkat, maka perlu dipertimbangkan penambahan anagesik opioid lemah (kodein). Pada nyeri kronik persisten yang terus meningkat kiranya perlu dipertimbangkan penggunaan kombinasi analgesik opioid kuat, NSAID dan terapi adjuvan.
Modalitas terapi yang berperan sebagai terapi adjuan yang disinggung sebelum ini adalah untuk melawan sensasi nyeri yang terdiri dari interferential current therapy, TENS dan laser energi rendah. Terapi deep diathermy tidak disarankan dan merupakan kontra indikasi pada kasus tumor otak yang maligna atau terdapat kecenderungan menjadi ganas. Interferential current therapy, TENS atau kinetizer adalah sejenis stimulasi elektrik. Output dari pasien yang berkurang nyerinya diketahui dengan Visual Analog Scale (VAS).

Komplikasi

Jika terjadi komplikasi destruksi tulang, utamanya vertebra cervical dan thoracolumbal, orthosis bisa menjadi pilihan. Pada kondisi ini tulang verteba sebagai penyangga tubuh memerlukan bantuan sebagai body support. Orthosis juga mengurangi deformitas skeletal dan mempertahankan posisi tubuh.
Komplikasi lain pada pasien tumor adalah bisa terjadi lymphedema, yaitu obstruksi di pembuluh limfe karena metastase. Pembuntuan ini menyebabkan penumpukan cairan yang mengandung banyak protein di jaringan ekstremitas dan meningkatkan aktivitas fibrogenesis dan menghasilkan proses fibrosis yang luas. Terapi yang dilakukan adalah dengan mobilisasi gerak secara pasif, artinya fisioterapis atau orang lain yang melakukan. Penekanan secara intermiten mungkin bisa mengurangi volume edema. Caranya bisa dengan pemijatan secara manual, pembebatan intermiten, job’s sleeve dressing, dan intermittent comppression unit (ekstremiter). Selain itu cara manual dan sederhana juga bisa dilakukan yaitu dengan mengelevasi ke atas ekstremitas yang terkena serta diuretik lemah untuk sedikit menurunkan volume cairan.
Terdapat sekitar 20% pasien dengan kanker stadium lanjut yang mengeluh inkontinensia urine. Macamnya bisa dalam bentuk overflow incontinence, urge incontinence, stress incontinence serta functional incontinence. Dasar penyebab inkontinensia ini adalah adanya invasi sel-sel kanker ke kandung buli-buli atau uretra atau struktur di sekitarnya yang mengontrol pengaturan ekskresi urine. Penyebab lain adalah karena pemberian terapi untuk kanker atau gejalanya dan bisa pula karena komplikasi sistitis (radang buli-buli). Opioid dan obat-obat antikolinergik menimbulkan obstruksi di leher buli. Kemoterapi menggunakan siklofosfamid dan radioterapi ditengarai dapat menyebabkan fibrosis dinding buli sehingga berujung pula pada inkontinensia. Penatalaksanaan jika terjadi komplikasi ini adalah dengan kateterisasi sesuai dengan ukuran uretra. Cara lain yang bisa dilakukan adalah dengan melakukan buang air kecil yang terjadwal serta melatih pasien menggunakan kamar mandi dengan benar (toilet training).
Gangguan kognitif yang dialami pasien tumor otak bisa dievaluasi dengan berbagai tes. Di antaranya adalah Sickness Impact Profile, Minesota Multiphasic Personality Inventory (MMPI), dan Mini mental State Examination (MMSE). Komponen kognitif yang dievaluasi adalah kesadaran, orientasi lingkungan, level aktivitas, kemampuan bicara dan bahasa, memori dan kemampuan berpikir, emosional afeksi serta persepsi.
Gangguan wicara sering menjadi komplikasi pasien tumor otak. Dalam hal ini kita mengenal istilah disartria dan aphasia. Disartria adalah gangguan wicara karena kerusakan di otak atau neuromuscular perifer yang bertanggung jawab dalam proses bicara. Tiga langkah yang menjadi prinsip dalam terapi disartria adalah meningkatkan kemampuan verbal, mengoptimalkan fonasi, serta memperbaiki suara normal. Afasia merupakan gangguan bahasa, bisa berbentuk afasia motorik atau sensorik tergantung dari area pusat bahasa di otak yang mengalami kerusakan. Fungsi bahasa yang terlibat adalah kelancaran (fluency), keterpaduan (komprehensi) dan pengulangan (repetitif). Pendekatan terapi untuk afasia meliputi perbaikan fungsi dalam berkomunikasi, mengurangi ketergantungan pada lingkungan dan memastikan sinyal-sinyal komunikasi serta menyediakan peralatan yang mendukung terapi dan metode alternatif. Terapi wicara terdiri atas dua komponen yaitu bicara prefocal dan latihan menelan.
Disfagi merupakan komplikasi lain dari penderita ini. Yaitu ketidakmampuan menelan makanan karena hilangnya refleks menelan. Gangguan bisa terjadi di fase oral, pharingeal atau oesophageal. Komplikasi ini akan menyebabkan terhambatnya asupan nutrisi bagi penderita serta berisiko aspirasi pula karena muntahnya makanan ke paru. Etiologi yang mungkin adalah parese nervus glossopharynx dan nervus vagus. Bisa juga karena komplikasi radioterapi. Diagnosis ditegakkan dengan videofluoroscopy. Gejala ini sering bersamaan dengan dispepsia karena space occupying process dan kemoterapi yang menyebabkan hilangnya selera makan serta iritasi lambung. Terapi untuk gejala ini adalah dengan sonde lambung untuk pemberian nutrisi enteral, stimulasi, dan modifikasi kepadatan makanan (makanan yang dipilih lebih cair/lunak).
Kelemahan otot pada pasien tumor otak umumnya dan yang mengenai saraf khususnya ditandai dengan hemiparesis, paraparesis dan tetraparesis. Pendekatan terapi yang dilakukan menggunakan prinsip stimulasi neuromusculer dan inhibisi spastisitas. Cara lain adalah dengan EMG biofeedback, latihan kekuatan otot, koordinasi endurasi dan pergerakan sendi. Kekuatan mempertahankan posisi tubuh yang tegak juga dipertahankan dengan gait training. Jika perlu diberikan pula stimulasi elektrik dan orthosis. Misalnya untuk melatih otot paha dengan melatih otot quadriceps femoris. Penggunaan alat galvanic/faradic current therapy juga untuk mengatasi kelemahan ekstremitas. Latihan kekuatan tangan dilakukan dengan overhead pulley exercise dan hand sthrengtening exercise.
Terapi Occupational bertujuan untuk mempersiapkan penderita kembali ke rumah. Sehingga aktivitas terapi ini adalah dengan membiasakan penderita dengan aktivitas sehari-hari di rumah, misalnya menggunakan peralatan makan, menggunakan toilet dan lain-lain.
Pada sesi terakhir symposium, Subagjo yang juga anggota tim stroke dan paliatif untuk kanker tersebut menegaskan bahwa manajemen terapi yang sudah dibahas di atas menghasilkan output prognosis yang berbeda-beda. Hal ini tergantung dari jenis tumor. Tumor yang soliter memiliki prognosis yang bagus. Adanya sakit kepala dan gangguan visual merujuk pada prognosis yang buruk. Indikator prognosis termasuk status neurologis, keparahan penyakit sistemik, interval dari deteksi awal hingga munculnya gejala metastase serebral dan jenis tumor primer yang ganas. Survival rate jika tidak diterapi jangka waktunya cukup pendek yaitu 1- 2 bulan. Dengan pemberian steroid akan bertahan 2-5 bulan, dan dengan kombinasi radioterapi dan steroid bisa mencapai 3-6 bulan. Jika diterapi dengan pembedahan yang dikombinasi dengan radioterapi dan steroid prognosis akan jauh lebih baik dan usia harapan hidup selanjutnya diperkirakan lebih dari 6 bulan.

Komentar

Tumor bisa menyerang organ apa saja pada tubuh manusia. Namun tak ada yang paling lebih ditakutkan dari tumor yang menyerang organ manusia yang menjadi pusat kendali aktivitas dan fungsi kehidupan manusia, yaitu otak. Oleh karena itu salah satu penanganannya yaitu dengan cara pemberian terapi untuk mencegah terjadinya komplikasi pada tumor otak. Misalnya kita bisa memberikan terapi steroid atau pembedahan agar prognosis akan jauh lebih baik dan usia harapan hidup selanjutnya diperkirakan lebih dari 6 bulan.
Arah dari program ini adalah mencegah berkembangnya komplikasi karena prolonged imobilisasi (ulkus decubitus, kontraktur, atrofi otot, hipotensi orthostatik, dan pneumonia hipostatik). Komplikasi ini dapat dicegah dengan mobilisasi dini secara progresif, occupational terapi, dan perbaikan kualitas hidup. Program rehabilitasi yang lebih spesifik yaitu mengembalikan kemampuan mobilisasi, mempertahankan konsumsi nutrisi yang adequat, menyediakan peralatan fungsional yang mendukung sistem jantung dan paru serta kontrol untuk saluran cerna dan saluran urin. Bila terjadi komplikasi sesak dan batuk, medikamentosa yang umum dipakai adalah mukolitik dan bronkodilator. Nyeri dan gejala klinis yang mengganggu yang biasanya karena tumor metastasis juga dikontrol. Program rehabilitasi paliatif dilakukan pada fase terminal untuk mempertahankan kondisi dan fungsi yang nyaman bagi pasien dengan kemampuan pasien yang masih tersisa.
Jadi kami setuju dengan tindakan tersebut,karena dengan terapi pasien dengan penyakit tumor otak setidaknya bisa terselamatkan. Dan sebaiknya masyarakatpun juga harus mengembangkan terapi tersebut sedini mungkin agar angka kematian pada penderita tumor otak berkurang.

DAFTAR PUSTAKA

SIMPOSIA

http://www.google.com(diakses tgl 24 des 2010 jam 10.00WIB)

Edisi April 2007 (Vol.6 No.9)

Majalah Farmacia Edisi April 2007 , Halaman: 56 (2979 hits)

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.