DAMPAK SEKS BEBAS
TERHADAP
KESEHATAN REPRODUKSI REMAJA

Di Susun Oleh :
• Diyah Retno Palupi (Penyaji 2 dan Dokter)
• Dwi Lestari Ningsih (Operator,Notulen 1 dan Ibu Asrama)
• Fitria Apriliani (Ibu Ana)
• Ika Reza Susanti (Ana dan Notulen 2)
• Nurlaila Puspitasari (Teman Ana )
• Rohmatul Dwi Sasmita (Penyaji 1 dan pembaca alur cerita)
• Thony Setyawan (Moderator dan Wawan)
PROGRAM STUDI D3 KEPERAWATAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
INSAN CENDEKIA MEDIKA
JOMBANG
2009

KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Kami tim penulis makalah yang berjudul Dampak Seks Bebas Terhadap Kesehatan Reproduksi Remaja mengucapkan puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmat dan karunia-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini.
Makalah ini disajikan dalam bentuk penjelasan atau paparan tentang Dampak Seks Bebas Tehadap Kesehatan Reproduksi Remaja
Kami menyadari bahwa dengan menyusun atau menulis makalah ini masih banyak kekuranganya, kritik dan saran kami harapkan dari teman-teman dan Dosen pembimbing kami.
Semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua dan bisa mengembangkan pengetahuan kita tentang Dampak Seks Bebas Terhadap kesehatan Reproduksi Remaja.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Jombang, Nopember 2009

Tim Penulis

DAFTAR ISI
Halaman judul …………………………………………………………….…i
Kata Pengantar………………………………………………………………ii
Daftar Isi…………………….………………………………………………iii
BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang…..….……………………………………………1
1.2. Masalah…………….……………………………………………1
1.3. Rumusan Masalah..………………………………………………2
BAB II PEMBAHASAN
2.1. Kurangnya Pengetahuan Remaja Mengenai Dampak Seks Bebas………………………………………………………….…3
2.2. Akibat Hubungan Seks Usia Muda ……………….…………….4
2.3. Bagaimana Aids Menular……….……………………………….5
2.4. Bagaimana Mencegah Aids…….……………………………….6
2.5. Pelayanan Kesehatan Reproduksi Bagi Remaja………………….7
BAB III PENUTUP…………………………………………………………8
3.1. Simpulan………………..………………………………………………9
3.2. Saran ………………..…………………………………………………10
Daftar Pustaka

BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Masa remaja adalah masa transisi antara masa kanak-kanak dengan dewasa dan relatif belum mencapai tahap kematangan mental dan sosial sehingga mereka harus menghadapi tekanan-tekanan emosi dan sosial yang saling bertentangan. Banyak sekali life events yang akan terjadi yang tidak saja akan menentukan kehidupan masa dewasa tetapi juga kualitas hidup generasi berikutnya sehingga menempatkan masa ini sebagai masa kritis.
Di negera-negara berkembang masa transisi ini berlangsung sangat cepat. Bahkan usia saat berhubungan seks pertama ternyata selalu lebih muda daripada usia ideal menikah (Kiragu, 1995:10, dikutip dari Iskandar, 1997).
Pengaruh informasi global (paparan media audio-visual) yang semakin mudah diakses justru memancing anak dan remaja untuk mengadaptasi kebiasaan-kebiaasaan tidak sehat seperti merokok, minum minuman berakohol, penyalahgunaan obat dan suntikan terlarang, perkelahian antar-remaja atau tawuran (Iskandar, 1997). Pada akhirnya, secara kumulatif kebiasaan-kebiasaan tersebut akan mempercepat usia awal seksual aktif serta mengantarkan mereka pada kebiasaan berperilaku seksual yang berisiko tinggi, karena kebanyakan remaja tidak memiliki pengetahuan yang akurat mengenai kesehatan reproduksi dan seksualitas serta tidak memiliki akses terhadap informasi dan pelayanan kesehatan reproduksi, termasuk kontrasepsi. Maka dari itu kelompok kami memilih judul makalah tentang Dampak Seks Bebas Terhadap Kesehatan Reproduksi Remaja.
1.2. MASALAH
 Kurangnya Pengetahuan Remaja Mengenai Dampak Seks Bebas
 Akibat Hubungan Seks Usia Muda
 Penularan aids yang Semakin Pesat
 Kurangnya Upaya Pencegahan Aids
 Kurangnya Pelayanan Kesehatan Reproduksi Bagi Remaja

1.3. Rumusan Masalah
 Bagaimana Menanggulangi Kurangnya Pengetahuan Remaja Mengenai dampak Seks Bebas?
 Apa Akibat Hubungan Seks Usia Muda?
 Bagaimana Menanggulangi Penularan Aids yang Semakin Pesat?
 Bagaimana Menanggulangi Kurangnya Upaya Pencegahan Aids?
 Bagaimana Menanggulangi Kurangnya Pelayanan Kesehatan Reproduksi Bagi Remaja?

BAB II
PEMBAHASAN
Seksualitas dan kesehatan reproduksi remaja didefinisikan sebagai keadaan sejahtera fisik dan psikis seorang remaja, termasuk keadaan terbebas dari kehamilan yang tak dikehendaki, aborsi yang tidak aman, penyakit menular seksual (PMS) ter-masuk HIV/AIDS, serta semua bentuk kekerasan dan pemaksaan seksual.remaja memang sosok yang sangat menarik untuk diperbincangkan karena Remaja adalah masa pencarian jati diri yang mendorongnya mempunyai rasa keingintahuan yang tinggi, ingin tampil menonjol, dan diakui eksistensinya. Namun disisi lain remaja mengalami ketidakstabilan emosi sehingga mudah dipengaruhi teman dan mengutamakan solidaritas kelompok. Diusia remaja, akibat pengaruh hormonal, juga mengalami perubahan fisik yang cepat dan mendadak. Perubahan ini ditunjukkan dari perkembangan organ seksual menuju kesempurnaan fungsi serta tumbuhnya organ genetalia sekunder. Hal ini menjadikan remaja sangat dekat dengan permasalahan seputar seksual. Namun terbatasnya bekal yang dimiliki menjadikan remaja memang masih memerlukan perhatian dan pengarahan.
2.1 Kurangnya Pengetahuan Remaja Mengenai Dampak Seks Bebas
2.1.1 Faktor-faktor yang mempengaruhi:
• Ketidakpekaan orang tua dan pendidik terhadap kondisi remaja menyebabkan remaja sering terjatuh pada kegiatan tuna sosial.
• keengganan dan kecanggungan remaja untuk bertanya pada orang yang tepat
Semakin menguatkan alasan kenapa remaja sering bersikap tidak tepat terhadap organ reproduksinya. Data menunjukkan dari remaja usia 12-18 tahun, 16% remaja mendapat informasi seputar seks dari teman, 35% dari film porno, dan hanya 5% dari orang tua.
• Pengetahuan remaja mengenai dampak seks bebas masih sangat rendah.
Yang paling menonjol dari kegiatan seks bebas ini adalah meningkatnya angka kehamilan yang tidak diinginkan. Setiap tahun ada sekitar 2,3 juta kasus aborsi di Indonesia dimana 20 persennya dilakukan remaja. Di Amerika, 1 dari 2 pernikahan berujung pada perceraian, 1 dari 2 anak hasil perzinahan, 75 % gadis mengandung di luar nikah, setiap hari terjadi 1,5 juta hubungan seks dengan pelacuran. Di Inggris 3 dari 4 anak hasil perzinahan, 1 dari 3 kehamilan berakhir dengan aborsi, dan sejak tahun 1996 penyakit syphillis meningkat hingga 486%. Di Perancis, penyakit gonorhoe meningkat 170% dalam jangka waktu satu tahun. Di negara liberal, pelacuran, homoseksual/ lesbian, incest, orgy, bistiability, merupakan hal yang lumrah bahkan menjadi industri yang menghasilkan keuntungan ratusan juta US dolar dan disyahkan oleh undang-undang.
Lebih dari 200 wanita mati setiap hari disebabkan komplikasi pengguguran (aborsi) bayi secara tidak aman. Meskipun tindakan aborsi dilakukan oleh tenaga ahlipun masih menyisakan dampak yang membahayakan terhadap keselamatan jiwa ibu. Apalagi jika dilakukan oleh tenaga tidak profesional (unsafe abortion).
Secara fisik tindakan aborsi ini memberikan dampak jangka pendek secara langsung berupa perdarahan, infeksi pasca aborsi, sepsis sampai kematian. Dampak jangka panjang berupa mengganggu kesuburan sampai terjadinya infertilitas.
Secara psikologis seks pra nikah memberikan dampak hilangnya harga diri, perasaan dihantui dosa, perasaan takut hamil, lemahnya ikatan kedua belah pihak yang menyebabkan kegagalan setelah menikah, serta penghinaan terhadap masyarakat.
Setyawan mengatakan, problem yang dihadapi remaja lebih banyak adalah persoalan seks, bukannya permasalahan hubungan antara orang tua dan anaknya. ”Saya beberapa kali menemui adanya orang yang hamil, sedangkan selaput daranya tidak pecah. Nah, nempel-nempel itu bisa hamil lo,” ujarnya bagaimana kalau pacar memaksa pasangan remaja yang sedang pacaran harus bisa saling menjaga. Sebab wanita pun kalau sudah punya mau bisa tak terkendali. Karena itu alangkah indahnya jika mereka yang sedang dimabuk asmara bisa saling mengingatkan. Sebab pasangan lain jenis kalau sudah dekat, maka setan pun akan berusaha lebih merapatkan lagi. ”Jangan biarkan calon suami atau istri kalian nantinya diberi barang bekas”. Maka seringlah berpuasa dalam rangka menjaga syahwat.
2.2 Akibat Hubungan Seks Usia Muda
2.2.1.Resiko Kesehatan Fisik
Resiko gangguan aborsi dan setelah melakukan aborsi ada beberapa resiko yang akan dihadapi seorang wanita, seperti yang dijelaskan dalam buku Facts of Life
 Kematian mendadak karena pendarahan hebat
 Kematian mendadak karena pembiusan yang gagal
 Kematian secara lambat akibat infeksi serius disekitar kandungan
 Rahim yang sobek (Uterine Perforation)
 Kerusakan leher rahim (Cervical Lacerations) yang akan menyebabkan cacat pada anak berikutnya
 Kanker payudara (karena ketidakseimbangan hormon estrogen pada wanita)
 Kanker indung telur (Ovarian Cancer)
 Kanker leher rahim (Cervical Cancer)
 Kanker hati (Liver Cancer)
 Kelainan pada placenta/ ari-ari (Placenta Previa) yang akan menyebabkan cacat pada anak berikutnya dan pendarahan hebat pada saat kehamilan berikutnya
 Menjadi mandul/tidak mampu memiliki keturunan lagi (Ectopic Pregnancy)
 Infeksi rongga panggul (Pelvic Inflammatory Disease)
 Infeksi pada lapisan rahim (Endometriosis).
2.2.2. Terjadi Gangguan Mental
Pada dasarnya seorang wanita yang melakukan aborsi akan mengalami hal-hal seperti berikut:
 Kehilangan harga diri (82%)
 Berteriak-teriak histeris (51 %)
 Mimpi buruk berkali-kali mengenai bayi (63%)
 Ingin melakukan bunuh diri (28%)
 Mulai mencoba menggunakan obat-obat terlarang (41%)
 Tidak bisa menikmati lagi hubungan seksual (59%)
2.2.3 Hubungan Seks Usia Muda Berisiko Kanker.
Hubungan atau kontak seksual pada usia di bawah 17 tahun merangsang tumbuhnya sel kanker pada alat kandungan perempuan, karena pada rentang usia 12 hingga 17 tahun, perubahan sel dalam mulut rahim sedang aktif sekali. “Saat sel sedang membelah secara aktif (metaplasi) idealnya tidak terjadi kontaks atau rangsangan apa pun dari luar, termasuk injus (masuknya) benda asing dalam tubuh perempuan” kata dr. Teti Ernawati dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo di Jakarta.
Menurut dia, adanya benda asing, termasuk alat kelamin laki-laki dan sel sperma, akan mengakibatkan perkembangan sel ke arah abnormal. Apalagi kalau sampai terjadi luka yang mengakibatkan infeksi dalam rahim. Sel abnormal dalam mulut rahim itu dapat mengakibatkan kanker mulut rahim (serviks). Kanker serviks menyerang alat kandungan perempuan, berawal dari mulut rahim dan berisiko menyebar ke vagina hingga keluar di permukaan,katanya.
Selain itu, kanker serviks juga berisiko menyebar ke organ lain di dalam tubuh, misalnya uterus, ovarium, tuba fallopi, ginjal, paru-paru, lever, tulang hingga otak, katanya.”Jika telah mencapai stadium lanjut dan menyebar ke organ tubuh lain, maka kanker serviks dapat mengakibatkan kematian,” Gejala timbulnya keputihan yang berbau dan berulang-ulang serta terjadi pendarahan di bagian kemaluan saat tidak sedang haid.
Pencegahan bagi perempuan untuk menikah setelah berusia 17 tahun lebih dan menerapkan perilaku seksual yang sehat. “Hindari seks bebas dan gonta-ganti pasangan,” katanya.
Penyakit kelamin pada pria, gejala awal 2-7 hari timbul setelah terinfeksi. Berawal sebagai rasa tidak enak pada uretra, beberapa jam kemudian diikuti oleh nyeri ketika berkemih serta keluarnya nanah dari penis. Sedangkan pada wanita, gejala awal biasanya timbul dalam beberapa minggu atau bulan, dan diketahui menderita penyakit tersebut hanya setelah pasangan hubungan seksualnya tertular. Jika timbul gejala, biasanya bersifat ringan. Tetapi beberapa penderita menunjukkan gejala yang berat, seperti desakan untuk berkemih, nyeri ketika berkemih, keluarnya cairan dari vagina, dan demam. Infeksi dapat menyerang leher rahim, rahim, saluran telur, indung telur, uretra, dan rektum serta menyebabkan nyeri pinggul yang dalam ketika berhubungan seksual.
2.3. Penularan aids yang Semakin Pesat
2.3.1. Penularan Aids terjadi melalui :
• 75-85 % Penularan terjadi melalui hubungan seks (5-10 % diantaranya melalui hubungan homoseksual).
Melakukan segala bentuk hubungan seks penetratif dengan orang yang terinfeksi tanpa menggunakan kondom secara benar pada saat yang tepat;
• 5-10 % akibat alat suntik yang tercemar (terutama pada pemakai narkotika suntik).
Berbagi jarum suntik atau benda tajam lain dengan orang yang terinfeksi HIV dalam penggunaan obat secara intravena, 3-5 % melalui transfusi darah yang tercemar.
• 90 % infeksi pada bayi dan anak terjadi akibat Ibu yang mengidap HIV.
25-35 % bayi yang dilahirkan oleh Ibu pengidap HIV akan menjadi pengidap HIV Menato atau menindik tubuh dengan menggunakan benda tajam yang terkontaminasi oleh virus.
2.3.2.Proses Infeksi HIV/AIDS
Saat terkena infeksi virus AIDS maka diperlukan waktu 5-10 tahun untuk sampai ke tahap yang disebut sebagai AIDS. Setelah virus masuk kedalam tubuh manusia, maka selama 2-4 bulan keberadaan virus tersebut belum bisa terdeteksi dengan pemeriksaan darah meskipun virusnya sendiri sudah ada dalam tubuh manusia. Tahap ini disebut sebagai periode jendela. Sebelum masuk pada tahap AIDS, orang tersebut dinamai HIV positif karena dalam darahnya terdapat virus HIV. Pada tahap HIV ini maka keadaan fisik yang bersangkutan tidak mempunyai kelainan khas ataupun keluhan apapun, dan bahkan bisa tetap bekerja seperti biasa.
Dari segi penularan, maka dalam kondisi ini yang bersangkutan sudah aktif menularkan virusnya ke orang lain jika dia mengadakan hubungan seks atau menjadi donor darah gejala Rasa lelah berkepanjangan Sesak nafas dan batuk berkepanjangan Berat badan turun secara menyolok Pembesaran kelenjar (di leher, ketiak, lipatan paha) tanpa sebab yang jelas Bercak merah kebiruan pada kulit (kanker kulit) Sering demam (lebih dari 38 °C) disertai keringat malam tanpa sebab yang jelas Diare lebih dari satu bulan tanpa sebab.
2.4. Kurangnya Upaya terhadap Pencegahan Aids
Pencegahan Aids dapat dilakukan dengan cara :
o Tidak berganti-ganti pasangan seksual.
o Pencegahan kontak darah, misalnya: pencegahan terhadap penggunaan jarum suntik yang diulang Dengan formula A-B-C.
o Abstinensia artinya tidak melakukan hubungan seks sebelum menikah.
o Be faithful artinya jika sudah menikah hanya berhubungan seks dengan pasangannya saj
o Condom artinya pencegahan dengan menggunakan kondom
2.5. Kurangnya Pelayanan Kesehatan Reproduksi Bagi Remaja
Pilihan dan keputusan yang diambil seorang remaja sangat tergantung kepada kualitas dan kuantitas informasi yang mereka miliki, serta ketersediaan pelayanan dan kebijakan yang spesifik untuk mereka, baik formal maupun informal (Pachauri, 1997).
Sebagai langkah awal pencegahan, peningkatan pengetahuan remaja mengenai kesehatan reproduksi harus ditunjang dengan materi komunikasi, informasi dan edukasi (KIE) yang tegas tentang penyebab dan konsekuensi perilaku seksual, apa yang harus dilakukan dan dilengkapi dengan informasi mengenai saranan pelayanan yang bersedia menolong seandainya telah terjadi kehamilan yang tidak diinginkan. Hingga saat ini, informasi tentang kesehatan reproduksi disebarluaskan dengan pesan-pesan yang samar dan tidak fokus, terutama bila mengarah pada perilaku seksual.
Di segi pelayanan kesehatan, pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak serta Keluarga Berencana di Indonesia hanya dirancang untuk perempuan yang telah menikah, tidak untuk remaja. Petugas kesehatan pun belum dibekali dengan kete-rampilan untuk melayani kebutuhan kesehatan reproduksi para remaja.
Jumlah fasilitas kesehatan reproduksi yang menyeluruh untuk remaja sangat terbatas. Kalaupun ada, pemanfaatannya relatif terbatas pada remaja dengan masalah kehamilan atau persalinan tidak direncanakan. Keprihatinan akan jaminan kerahasiaan (privacy) atau kemampuan membayar, dan kenyataan atau persepsi remaja terhadap sikap tidak senang yang ditunjukkan oleh pihak petugas kesehatan, semakin membatasi akses pelayanan lebih jauh, meski pelayanan itu ada.
Di samping itu, terdapat pula hambatan legal yang berkaitan dengan pemberian pelayanan dan informasi kepada kelompok remaja.Karena kondisinya, remaja merupakan kelompok sasaran pelayanan yang mengutamakan privacy dan confidentiality. Hal ini menjadi penyulit, mengingat sistem pelayanan kesehatan dasar di Indonesia masih belum menempatkan kedua hal ini sebagai prioritas dalam upaya perbaikan kualitas pelayanan yang berorientasi pada klien.

BAB III
PENUTUP
3.1. Simpulan
Setelah kita tahu hubungan seksual sebelum waktunya selain merupakan perbuatan dosa besar yang tak terampuni,perbuatan ini lebih banyak menimbulkan resiko yang nilainya sangat tidak sebanding apabila kita mau menunda lebih lama beberapa tahun lagi. Bekal iman, pendidikan, pergaulan yang sehat, serta hubungan yang mesra antara orang tua dengan anak serta keterbukaan dalam keluarga merupakan bekal yang amat berharga bagi remaja agar mereka dapat meniti kehidupan dengan selamat.
Dari sekian banyak pertanyaan seputar masalah perilaku remaja yang dinilai menyimpang tersebut, ada dua pertanyaan mendasar yang perlu segera dijawab, yaitu apa penyebab perilaku seks bebas tersebut, dan bagaimana cara mengatasinya? Dua hal yang tidak bisa dibiarkan menggantung, melainkan harus didapatkan jawaban sekaligus solusi atas fenomena yang tidak sepantasnya dibiarkan.
3.2. Saran
Diharapkan dengan adanya makalah ini, masyarakat umumnya dan mahasiswa keperawatan khususnya dapat mengetahui dampak seks bebas terhadap kesehatan reproduksi sehingga kita dapat mencegah hal-hal yang tidak kita inginkan.

DAFTAR PUSTAKA
http://herrytephe.blogspot.com/dampak-perilaku-seks-bebas-bagi-remaja.15nop2009 12.00 p.m
http://www.acehforum.or.id/mengatasi-perilaku-seks-t2444.html?s=a4960905e099a9e2abbb9c78dd2b4d13&p=32982 http://halalsehat.com/index.php/Remaja-Sukses/DAMPAK-PERILAKU-SEKS-BEBAS-BAGI-KESEHATAN-REMAJA-*.html. 18nop2009
http://www.halalsehat.com18nop2009 11.30 a.m