MAKALAH DEMENSIA

Oleh :
1. Nur Muslimah Rhahmayanti
2. Riza Duwi Liana Sari
3. Sofyan Ekoferdi Hansyah

PROGRAM STUDI D3 KEPERAWATAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
INSAN CENDEKIA MEDIKA
JOMBANG
2010
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami haturkan kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, yang telah memberikan rahmat, serta karunia-Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan penyusunan makalah yang berjudul “Makalah Dimensia” ini tanpa ada halangan suatu apapun.
Makalah ini kami susun dengan tujuan agar dapat dijadikan sebagai referensi bagi pembaca yang ingin mengetahui lebih jauh mengenai Makalah Dimensia. Selain itu makalah ini juga kami susun untuk memenuhi tugas dari dosen System Neurobihavior.
Kami menyadari sepenuhnya bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, kami mengharap tegur sapa dan kritik yang membangun dari para pembaca guna perbaikan dan peningkatan untuk karya selanjutnya.
Demikian kiranya, semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua dan pembaca pada khususnya.

Jombang, 24 Oktober 2010

Penyusun

A. DEFINISI
Demensia adalah penurunan kemampuan mental yang biasanya berkembang secara perlahan, dimana terjadi gangguan ingatan, fikiran, penilaian dan kemampuan untuk memusatkan perhatian, danbisa terjadi kemunduran kepribadian. Pada usia muda, demensia bisa terjadi secara mendadak jika cedera hebat, penyakit atau zat-zat racun (misalnya karbon monoksida) menyebabkan hancurnya sel-sel otak.Tetapi demensia biasanya timbul secara perlahan dan menyerang usia diatas 60 tahun. Namun demensia bukan merupakan bagian dari proses penuaan yang normal.
Sejalan dengan bertambahnya umur, maka perubahan di dalam otak bisa menyebabkan hilangnya beberapa ingatan (terutama ingatan jangka pendek) dan penurunan beberapa kemampuan belajar. Perubahan normal ini tidak mempengaruhi fungsi. Lupa pada usia lanjut bukn merupakan pertanda dari demensia maupun penyakit Alzameir stadium awal. Demensia merupakan penurunan kemampuan mental yang lebih serius, yang makin lama
makin parah. Pada penuaan normal, seseorang bisa lupa akan hal-hal yang detil; tetapi penderita
demensia bisa lupa akan keseluruhan peristiwa yang baru saja terjadi.
Demensia ialah kondisi keruntuhan kemampuan intelek yang progresif setelah mencapai pertumbuhan & perkembangan tertinggi (umur 15 tahun) karena gangguan otak organik, diikuti keruntuhan perilaku dan kepribadian, dimanifestasikan dalam bentuk gangguan fungsi kognitif seperti memori, orientasi, rasa hati dan pembentukan pikiran konseptual. Biasanya kondisi ini tidak reversibel, sebaliknya progresif. Diagnosis dilaksanakan dengan pemeriksaan klinis, laboratorlum dan pemeriksaan pencitraan (imaging), dimaksudkan untuk mencari penyebab yang bisa diobati. Pengobatan biasanya hanya suportif. Zat penghambat kolines terasa (Cholinesterase inhibitors) bisa memperbaiki fungsi kognitif untuk sementara, dan membuat beberapa obat antipsikotika lebih efektif daripada hanya dengan satu macam obat saja. Demensia bisa terjadi pada setiap umur, tetapi lebih banyak pada lanjut usia (l.k 5% untuk rentang umur 65-74 tahun dan 40% bagi yang berumur >85 tahun). Kebanyakan mereka dirawat dalam panti dan menempati sejumlah 50% tempat tidur.
Demensia dapat diartikan sebagai gangguan kognitif dan memori yang dapat
mempengaruhi aktifitas sehari-hari. Penderita Demensia seringkali menunjukkan beberapa gangguan dan perubahan pada tingkah laku harian (behavior symptom) yang menganggu (disruptive) ataupun tidak menganggu (non-disruptif) (Voicer. L., Hurley, A.C., Mahoney, E.1998). Grayson (2004) menyebutkan bahwa demensia bukanlah sekedar penyakit biasa, melainkan kumpulan gejala yang disebabkan beberapa penyakit atau kondisi tertentu
sehingga terjadi perubahan kepribadian dan tingkah laku.
Demensia adalah satu penyakit yang melibatkan sel-sel otak yang mati secara
abnormal. Hanya satu terminologi yang digunakan untuk menerangkan penyakit
otak degeneratif yang progresif. Daya ingatan, pemikiran, tingkah laku dan emosi terjejas bila mengalami demensia. Penyakit ini boleh dialami oleh semua orang dari berbagai latarbelakang pendidikan mahupun kebudayaan. Walaupun tidak terdapat sebarang rawatan untuk demensia namun rawatan untuk menangani gejala-gejala boleh diperolehi.
Demensia adalah penurunan kemampuan mental yang biasanya berkembang
secara perlahan, dimana terjadi gangguan ingatan, fikiran, penilaian dan kemampuan untuk memusatkan perhatian, dan bisa terjadi kemunduran kepribadian.

B. EPIDEMIOLOGI
Laporan Departemen Kesehatan tahun 1998, populasi usia lanjut diatas 60 tahun
adalah 7,2 % (populasi usia lanjut kurang lebih 15 juta). peningkatan angka kejadian kasus demensia berbanding lurus dengan meningkatnya harapan hidup suatu populasi . Kira-kira 5 % usia lanjut 65 – 70 tahun menderita demensia dan meningkat dua kali lipat setiap 5 tahun mencapai lebih 45 % pada usia diatas 85 tahun. Pada negara industri kasus demensia 0.5 –1.0 % dan di Amerika jumlah demensia pada usia lanjut 10 – 15% atau sekitar 3 – 4 juta orang.
Demensia terbagi menjadi dua yakni Demensia Alzheimer dan Demensia Vaskuler. Demensia Alzheimer merupakan kasus demensia terbanyak di Negara maju Amerika dan Eropa sekitar 50-70%. Demensia vaskuler penyebab kedua sekitar 15-20% sisanya 15- 35% disebabkan demensia lainnya. Di Jepang dan Cina demensia vaskuler 50 – 60 % dan 30 – 40 % demensia akibat penyakit Alzheimer.
Insiden dimensia meningkat secara bermakna seiring meningkatnya usia, setelah 65 tahun. Prafalensia demensia meningkat 2 kali lipat setiap pertambahan usia 5 tahun. Secara keseluruhan prevelensi demensia pada populasi berusia lebih dari 60 tahun adalah 5,6 %. Penyebab sering dimensia di amerika serika dan eropa penyebab tersering demensia di amerika dan eropa adalah penyakit Alzameir sedangkan di asia diperkirakan dimensia vascular merupakan penyebab tersering demensia.

C. KLASIFIKASI
1. Klasifikasi Menurut Umur:
• Demensia senilis (>65th)
• Demensia prasenilis (<65th)
2. Menurut perjalanan penyakit :
• Reversibel
• Ireversibel (Normal pressure hydrocephalus, subdural hematoma, vit B
Defisiensi, Hipotiroidisma, intoxikasi Pb.
3. Menurut kerusakan otak :
• Demensia tipe Alzameir
Dari semua pasien dengan demensia, 50-60% memiliki demensia tipe ini. Prang kali mendefinisikan penyakit ini adalah Alois Alzameir sekitar tahun 1910. Demensia ini di tandai dengan gejala :
1. Penurunan fungsi kongnitif dengan onset bertahap dan progresif
2. Daya ingat terganggu, ditemukan adanya : afaksia, apraksia, agnosia, gangguan fungsi eksekutif.
3. Tidak mampu mempelajari / mengingat informasi baru.
Penyakit Alzheimer terbagi atas 3 stadium berdasarkan beratnya detorisasi intelektual, yaitu:
1. Stadium I
Berlangsung 2-4 tahun disebut stadium amnestik dengan gejala gangguan memori, berhitung dan aktifitas spontan menurun. “Fungsi memori yang terganggu
adalah memori baru atau lupa hal baru yang dialami.

2. Stadium II
Berlangsung selama 2-10 tahun, dan disebutr stadium demensia. Gejalanya
antara lain :
Disorientasi gangguan bahasa (afasia) : penderita mudah bingung penurunan fungsi memori lebih berat sehingga penderita tak dapat melakukan kegiatan sampai selesai, tidak mengenal anggota keluarganya tidak ingat sudah
melakukan suatu tindakan sehingga mengulanginya lagi. Dan ada gangguan visuospasial, menyebabkan penderita mudah tersesat di lingkungannya, depresi berat prevalensinya 15-20%.
3. Stadium III
Stadium ini dicapai setelah penyakit berlangsung 6-12 tahun. Gejala klinisnya antara lain:
a. Penderita menjadi vegetative.
b. tidak bergerak dan membisu.
c. daya intelektual serta memori
memburuk sehingga tidak mengenal keluarganya sendiri.
d. tidak bisa mengendalikan buang air besar/kecil.
e. kegiatan sehari-hari membutuhkan bantuan orang lain.
f. kematian terjadi akibat infeksi atau trauma :

• Demensia Vaskuler
Untuk gejala klinis demensia tipe Vaskuler, disebabkan oleh gangguan sirkulasi
darah di otak. “Dan setiap penyebab atau faktor resiko stroke dapat berakibat
terjadinya demensia,”. Depresi bisa disebabkan karena lesi tertentu di otak akibat
gangguan sirkulasi darah otak, sehingga depresi itu dapat didiuga sebagai demensia vaskuler.
Gejala depresi lebih sering dijumpai pada demensia Vaskuler daripada Alzheimer. Hal ini disebabkan karena kemampuan penilaian terhadap diri sendiri dan respos emosi tetap stabil pada demensia vaskuler.
Dibawah ini merupakan klasifikasi penyebab demensia vaskuker, diantaranya:
Kelainan sebagai penyebab Demensia :
• penyakit degenaratif
• penyakit serebrovaskuler
• keadaan anoksi/ cardiac arrest, gagal jantung, intioksi CO
• trauma otak
• infeksi (Aids, ensefalitis, sifilis)
• Hidrosefaulus normotensif
• Tumor primer atau metastasis
• Autoimun, vaskulitif
• Multiple sclerosis
• Toksik
• kelainan lain : Epilepsi, stress mental, heat stroke, whipple disease
Kelainan/ keadaan yang dapat menampilkan demensi
Gangguan psiatrik :
• Depresi
• Anxietas
• Psikosis
Obat-obatan :
• Psikofarmaka
• Antiaritmia
• Antihipertensi
• Antikonvulsan
• Digitalis
Gangguan nutrisi:
• Defisiensi B6 (Pelagra)
• Defisiensi B12
• Defisiensi asam folat
• Marchiava-bignami disease
Gangguan metabolisme :
• Hiper/hipotiroidi
• Hiperkalsemia
• Hiper/hiponatremia
• Hiopoglikemia
• Hiperlipidemia
• Hipercapnia
• Gagal ginjal
• Sindromk Cushing
• Addison’s disesse
• Hippotituitaria
• Efek remote penyakit kanker

D. ETIOLOGI
Yang paling sering menyebabkan demensia adalah penyakit Alzheimer.Penyebab penyakit Alzheimer tidak diketahui, tetapi diduga melibatkan faktor genetik,
karena penyakit ini tampaknya ditemukan dalam beberapa keluarga dan disebabkan atau
dipengaruhi oleh beberapa kelainan gen tertentu. Pada penyakit Alzheimer, beberapa bagian otak mengalami kemunduran, sehingga terjadi kerusakan sel danberkurangnya respon terhadap bahan kimia yang menyalurkan sinyal di dalam otak. Di dalam otak ditemukan jaringan abnormal (disebut plak senilis dan serabut saraf yang semrawut) dan protein abnormal, yang bisa terlihat pada otopsi. Demensia sosok Lewy sangat menyerupai penyakit Alzheimer, tetapi memiliki perbedaan dalam perubahan mikroskopik yang terjadi di dalam otak.
Penyebab ke-2 tersering dari demensia adalah serangan stroke yang berturut-turut.
Stroke tunggal ukurannya kecil dan menyebabkan kelemahan yang ringan atau
kelemahan yang timbul secara perlahan. Stroke kecil ini secara bertahap menyebabkan
kerusakan jaringan otak, daerah otak yang mengalami kerusakan akibat tersumbatnya
aliran darah disebut infark. Demensia yang berasal dari beberapa stroke kecil disebut demensia multi-infark. Sebagian besar penderitanya memiliki tekanan darah tinggi atau kencing manis, yang keduanya menyebabkan kerusakan pembuluh darah di otak.

E. TANDA DAN GEJALA
Tanda dan gejala:
 Seluruh jajaran fungsi kognitif rusak.
 Awalnya gangguan daya ingat jangka pendek.
 Gangguan kepribadian dan perilaku, mood swings.
 Deficit neurologic motor dan fokal.
 Mudah tersinggung, bermusuhan, agitasi dan kejang.
 Gangguan psikotik: halusinasi, ilusi, waham dan paronia.
 Agnosia, apraxia, afasia.
 ADL (Activities of Daily Living)susah.
 Kesulitan mengatur penggunaan keuangan.
 Tidak bisa pulang ke rumah bila bepergian.
 Lupa meletakkan barang penting.
 Sulit mandi, makan, berpakaian, toileting.
 Pasien bisa berjalan jauh dari rumah dan tak bisa pulang.
 Mudah terjatuh, keseimbangan buruk.
 Akhirnya lumpuh, inkontinensia urine & alvi.
 Tak dapat makan dan menelan.
 Koma dan kematian.

F. PATOFISIOLOGI
Hal yang menarik dari gejala penderita demensia adalah adanya perubahan
kepribadian dan tingkah laku sehingga mempengaruhi aktivitas sehari-hari. Penderita yang dimaksudkan dalam tulisan ini adalah Lansia dengan usia enam puluh lima tahun keatas. Lansia penderita demensia tidak memperlihatkan gejala yang menonjol pada tahap awal, mereka sebagaimana Lansia pada umumnya mengalami proses penuaan dan degeneratif. Kejanggalan awal dirasakan oleh penderita itu sendiri, mereka sulit mengingat nama cucu mereka atau lupa meletakkan suatu barang. Mereka sering kali menutup-nutupi hal tersebut dan meyakinkan diri sendiri bahwa itu adalah hal yang biasa pada usia mereka. Kejanggalan berikutnya mulai
dirasakan oleh orang-orang terdekat yang tinggal bersama, mereka merasa khawatir terhadap penurunan daya ingat yang semakin menjadi, namun sekali lagi keluarga merasa bahwa mungkin Lansia kelelahan dan perlu lebih banyak istirahat. Mereka belum mencurigai adanya sebuah masalah besar di balik penurunan daya ingat yang dialami oleh orang tua mereka.
Gejala demensia berikutnya yang muncul biasanya berupa depresi pada Lansia,mmereka menjaga jarak dengan lingkungan dan lebih sensitif. Kondisi seperti ini dapat saja diikuti oleh munculnya penyakit lain dan biasanya akan memperparah kondisi Lansia. Pada saat ini mungkin saja Lansia menjadi sangat ketakutan bahkan sampai berhalusinasi. Di sinilah keluarga membawa Lansia penderita demensia ke rumah sakit di mana demensia bukanlah menjadi hal utama focus pemeriksaan. Seringkali demensia luput dari pemeriksaan dan tidak terkaji oleh tim kesehatan. Tidak semua tenaga kesehatan memiliki kemampuan untuk dapat mengkaji dan mengenali gejala demensia. Mengkaji dan mendiagnosa demensia bukanlah hal yang mudah dan cepat, perlu waktu yang panjang sebelum memastikan seseorang positif menderita demensia. Setidaknya ada lima jenis pemeriksaan penting yang harus dilakukan, mulai dari pengkajian latar belakang individu,

G. DIAGNOSIS
Diagnosis difokuskan pada 3 hal:
• Pembedaan antara delirium dan demensia
• Bagian otak yang terkena
• Penyebab yang potensial reversible
• Perlu pembedaan dan depresi (ini bisa diobati relatif mudah)
• Pemeriksaan untuk mengingat 3 benda yg disebut
• Mengelompokkan benda, hewan dan alat dengan susah payah
• Pemeriksaan laboratonium, pemeriksaan EEC
• Pencitraan otak amat penting CT atau MRI

H. TERAPI
Pertama perlu diperhatikan keselamatan pasien, lingkungan dibuat senyaman mungkin, dan bantuan pengasuh bila perlu.
1. Koridor tempat jalan, tangga, meja kursi tempat barang keperkuannya
2. Tidak diperbolehkan memindahkan mobil dsb.
3. Diberi keperluan yang mudah dilihat, penerangan lampu terang, jam dinding besar, tanggalan yang angkanya besar
4. Obat:
 Nootropika:
o Pyritinol (Encephabol) 1 x 100 – 3 x 200 mg
o Piracetam (Nootropil) 1 x 400 – 3 x 1200 mg
o Sabeluzole (Reminyl)
o Ca-antagonist:
o Nimodipine(Nimotop 1- 3 x 30 mg)
o Citicholine (Nicholin) 1 – 2 x 100 – 300 mg i.v./i.m.
o Cinnanzine (Stugeron) 1 – 3 x 25 mg
o Pentoxifylline (Trental) 2 – 3 x 400 mg (oral), 200 – 300 mg infuse
o Pantoyl-GABA
 Acetylcholinesterase inhibitors :
o Tacnne 10 mg dinaikkan lambatlaun hingga 80 mg. Hepatotoxik
o Donepezil (Aricept) centrally active reversible cholinesterase inhibitor, 5 mg 1x /hari
o Galantamine (Riminil) 1 – 3 x 5 mg
o Rivastigmin (Exelon) 1,5, 3, 4, 5, 6 mg
o Memantine 2 x 5 mg 10 mg

I. PENCEGAHAN
Hal yang dapat kita lakukan untuk menurunkan resiko terjadinya demensia diantaranya adalah menjaga ketajaman daya ingat dan senantiasa mengoptimalkan fungsi otak, sepeti:
1. Mencegah masuknya zat-zat yang dapat merusak sel-sel otak seperti alkhohol dan zat aditif yang berlebihan.
2. Memebaca buku yang merangsang otak untuk berfikir hendaknya dilakukan setiap hari.
3. Melakukan kegiatan yang dapat membuat mental kita sehat dan aktif.
4. Kegiatan rohani & memperdalam ilmu agama.
5. Tetap berinteraksi dengan lingkungan, berkumpul dengan teman yang memiliki persamaan minat atau hobi.
6. Menguranggi setress dalam pekerjaan dan berusaha untuk tetap relaks dalam kehidupan sehari-hari dapat membuat otak kita tetap sehat.

ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN LANSIA DENGAN DEMENSIA
Masalah demensia sering terjadi pada pasien lansia yang berumur diatas 60 tahun
dan sampai saat ini diperkirakan kurang lebih 500.000 penduduk indonesia
mengalami demensia dengan berbagai penyebab, yang salah satu diantaranya
adalah alzeimer. Berdasarkan hasil pengkajian pada daerah paska bencana alam tsunami ternyata
ditemukan kasus lansia dengan alzeimer.
A. Pengkajian
Demensia adalah suatu keadaan dimana seseorang mengalami penurunan
kemampuan daya ingat dan daya pikir tanpa adanya penurunan fungsi kesadaran.
Berdasarkan beberapa hasil penelitian, diperoleh data bahwa demensia sering
terjadi pada usia lanjut yang telah berumur di atas 60 tahun. Sampai saat ini
diperkirakan sekitar 500.000 penderita demensia di indonesia.
Tanda dan Gejala
• Kesukaran dalam melaksanakan kegiatan sehari-hari.
• Pelupa.
• Sering mengulang kata-kata.
• Tidak mengenal dimensi waktu, misalnya tidur di ruang makan.
• Cepat marah dan sulit di atur.
• Kehilangan daya ingat.
• kesulitan belajar dan mengingat informasi baru.
• kurang konsentrasi.
• kurang kebersihan diri.
• Rentan terhadap kecelakaan: jatuh.
• Mudah terangsang.
• Tremor.
• Kurang koordinasi gerakan.

Cara melakukan pengkajian :
Membina hubunga saling percaya dengan klien lansia. Untuk melakukan pengkajian pada lansia dengan demensia, pertama-tama saudara harus membina hubungan saling percaya dengan pasien lansia. Untuk dapat membina hubungan saling percaya, dapat dilakukan hal-hal sebagai
berikut:
• Selalu mengucapkan salam kepada pasien seperti: selamat pagi / siang / sore /
malam atau sesuai dengan konteks agama pasien.
• Perkenalkan nama saudara (nama panggilan) saudara, termasuk menyampaikan
bahwa saudara adalah perawat yang akan merawat pasien.
Tanyakan pula nama pasien dan nama panggilan kesukaannya.
• Jelaskan tujuan saudara merawat pasien dan aktivitas yang akan dilakukan.
Jelaskan pula kapan aktivitas akan dilaksanakan dan berapa lama aktivitas
tersebut.
Bersikap empati dengan cara:
• Duduk bersama klien, melakukan kontak mata, beri sentuhan dan menunjukkan
perhatian.
• Bicara lambat, sederhana dan beri waktu klien untuk berpikir dan menjawab
Perawat mempunyai harapan bahwa klien akan lebih baik
Bersikap hangat, sederhana akan mengekspresikan pengharapan pada klien.
• Gunakan kalimat yang singkat, jelas, sederhana dan mudah dimengerti (hindari
penggunaan kata atau kalimat jargon)
• Bicara lambat , ucapkan kata atau kalimat yang jelas dan jika betranya tunggu
respon pasien.
• Tanya satu pertanyaan setiap kali bertanya dan ulang pertanyaan dengan kata-
kata yang sama.
• Volume suara ditingkatkan jika ada gangguan pendengaran, jika volume
ditingkatkan, nada harus direndahkan.
• Sikap komunikasi verbal disertai dengan non verbal yang baik
Sikap berkomunikasi harus berhadapan, pertahankan kontak mata, relaks dan
terbuka.

• Ciptakan lingkungan yang terapeutik pada saat berkomunikasi dengan klien:
o Tidak berisik atau rebut
o Ruangan nyaman, cahaya dan ventilasi cukup
o Jarak disesuaikan, untuk meminalkan gangguan.
Mengkaji pasien lansia dengan demensia Untuk mengkaji pasien lansia dengan
demensia, saudara dapat menggunakan tehnik mengobservasi prilaku pasien dan
wawancara langsung kepada pasien dan keluarganya. Observasi yang saudara lakukan terutama untuk mengkaji data objective demensia. Ketika mengobservasi prilaku pasien untuk tanda-tanda seperti:
 Kurang konsentrasi
 Kurang kebersihan diri
 Rentan terhadap kecelakaan: jatuh
 Tidak mengenal waktu, tempat dan orang
 Tremor
 Kurang kordinasi gerak
 Aktiftas terbatas
 Sering mengulang kata-kata.
Berikut ini adalah aspek psikososial yang perlu dikaji oleh perawat : apakah lansia
mengalami kebingungan, kecemasan, menunjukkan afek yang labil, datar atau
tidak sesuai. Bila data tersebut saudara peroleh, data subjective didapatkan melalui
wawancara:
B. Diagnosa Keperawatan
Berdasarkan tanda dan gejala yang ditemukan pada saat pengkajian, maka
ditetapkan diagnosa keperawatan:
1. Gangguan Proses Pikir.
2. Risiko Cedera jatuh.

C. Tindakan Keperawatan/intervensi
Diagnosa I “Lansia depresi dengan gangguan proses pikir; pikun/pelupa.”
Tindakan keperawatan untuk pasien:
Tujuan dan kriteria hasil agar pasien mampu:
a. Mengenal/berorientasi terhadap waktu orang dan tempat.
b. Meklakukan aktiftas sehari-hari secara optimal.
Tindakan/intervensi
1. Beri kesempatan bagi pasien untuk mengenal barang milik pribadinya misalnya
tempat tidur, lemari, pakaian dll.
R/ Membantu klien mengigat barangnya.
2. Beri kesempatan kepada pasien untuk mengenal waktu dengan menggunakan
jam besar, kalender yang mempunyai lembar perhari dengan tulisan besar.
R/agar klien tidak mengalami bingung, dan merangsang ingatan.
3. Beri kesempatan kepada pasien untuk menyebutkan namanya dan anggota
keluarga terdekat.
R/melatih daya ingat klien.
4. Beri kesempatan kepada klien untuk mengenal dimana dia berada.
R/mencegah terjadinya bingung
5. Berikan pujian jika pasien bila pasien dapat menjawab dengan benar.
R/meningkatkan harga diri dan motivasi.
6. Observasi kemampuan pasien untuk melakukan aktifitas sehari-hari
Beri kesempatan kepada pasien untuk memilih aktifitas yang dapat dilakukannya.
R/untuk mengetahui perkembangan pasien.
7. Bantu pasien untuk melakukan kegiatan yang telah dipilihnya
Beri pujian jika pasien dapat melakukan kegiatannya.
R/untuk memotivasi pasien dan meningkatkan harga diri pasien.
8. Tanyakan perasaan pasien jika mampu melakukan kegiatannya.
R/menambah semangat klien untuk terus berusaha.
9. Bersama pasien membuat jadwal kegiatan sehari-hari.
R/agar mempercepat proses penyembuhan klien.

B. Tindakan untuk keluarga.
Tujuan :
1. Keluarga mampu mengorientasikan pasien terhadap waktu, orang dan tempat.
2. Menyediakan saran yang dibutuhkan pasien untuk melakukan orientasi realitas.
3. Membantu pasien dalam melakukan aktiftas sehari-hari.
Tindakan/inervensi
1. Diskusikan dengan keluarga cara-cara mengorientasikan waktu, orang dan tempat
pada pasien.
R/keluarga mengetahui cara dalam mengatasi masalah klien.
2. Anjurkan keluarga untuk menyediakan jam besar, kalender dengan tulisan besar.
R/memudahkan klien dalam mengingat dan mengetahuinya.
3. Diskusikan dengan keluarga kemampuan yang pernah dimiliki pasien
Bantu keluarga memilih kemampuan yang dilakukan pasien saat ini.
R/mengetahui tingkat kemunduran yang dialami.
4. Anjurkan kepada keluarga untuk memberikan pujian terhadap kemampuan
terhadap kemampauan yang masih dimiliki oleh pasien.
R/meningkatkan harga diri klien.
5. Anjurkan keluarga untuk membantu lansia melakukan kegiatan sesuai kemampuan
yang dimiliki.
R/meminimalisir terjadinya cidera
6. Anjurkan keluarga untuk memantau kegiatan sehari-hari pasien sesuai dengan
jadwal yang telah dibuat.
R/mengetahui perkembangan klien.
7. Anjurkan keluarga untuk memberikan pujian terhadap kemampuan yang masih
dimiliki pasien.
R/menambah semangat klien untuk terus berusaha.
8. Anjurkan keluarga untuk membantu pasien melakukan kegiatan sesuai
kemampuan yang dimiliki.
R/mencegah munculnya faktor cidera klien.
9. Anjurkan keluarga memberikan pujian jika pasien melakukan kegiatan sesuai
dengan jadwal kegiatan yang sudah dibuat.
R/menambah semgat klien untuk terus berusaha.
Diagnosa II “Lansia demensia dengan risiko cedera”
Tindakan pada pasien.
Tujuan dan kriteria hasil :
1. Pasien terhindar dari cedera.
2. Pasien mampu mengontrol aktifitas yang dapat mencegah cedera.
Tindakan/intervensi
1. Jelaskan faktor-faktor risiko yang dapa menimbulkan cedera dengan bahasa yang
sederhana.
R/klie tahu, paham dan dapat terhindar.
2. Ajarkan cara-cara untuk mencegah cedera: bila jatuh jangan panik tetapi berteriak
minta tolong.
R/mencegah terjadinya masalah yang lebih lanjut.
3. Berikan pujian terhadap kemampuan pasien menyebutkan cara-cara mencegah
cedera.
R/menambah semangat klien untuk terus berusaha.
B. Tindakan untuk keluarga.
Tujuan: Keluarga mampu:
1. Mengidentifikasi faktor-faktor yang dapat menyebabkan cedera pada pasien.
2. Keluarga mampu menyediakan lingkungan yang aman untuk mencegah cedera.

Tindakan/intervensi
1. Diskusikan dengan keluarga faktor-faktor yang dapat menyebabkan cedera pada
pasien.
R/keluarga tahu faktor penyebab cidera pada klien.
2. Anjurkan keluarga untuk menciptakan lingkungan yang aman seperti: lantai rumah
tidak licin, jauhkan benda-benda tajam dari jangkauan pasien, berikan penerangan
yang cukup, lampu tetap menyala di siang hari, beri alat pegangan dan awasi jika
pasien merokok, tutup steker dan alat listrik lainnya dengan plester, hindarkan
alat-alat listrik lainnya dari jangkauan klien, sediakan tempat tidur yang rendah.
R/ mencegah munculnya fakfor cidera klien.
3. Menganjurkan keluarga agar selalu menemani pasien di rumah serta memantau
aktivitas harian yang dilakukan.
R/meminimalisir terjadinya cidera.
Evaluasi
Untuk mengukur keberhasilan asuhan keperawatan yang saudara lakukan, dapat
dilakukan dengan menilai kemampuan klien dan keluarga:
1. Gangguan proses pikir: bingung
Kemampuan pasien:
o Mampu menyebutkan hari, tanggal dan tahun sekarang dengan benar.
o Mampu menyebutkan nama orang yang dikenal.
o Mampu menyebutkan tempat dimana pasien berada saat ini.
o Mampu melakukan kegiatan harian sesuai jadual.
o Mampu mengungkapkan perasaannya setelah melakukan kegiatan.
o Kemampuan keluarga.
o Mampu membantu pasien mengenal waktu temapt dan orang.
o Menyediakan kalender yang mempunyai lembaran perhari dengan tulisan. besar dan jam besar.
o Membantu pasien melaksanakan kegiatan harian sesuai jadual yang telah
dibuat .
o Memberikan pujian setiap kali pasien mampu melaksanakan kegiatan harian.

2.Risiko cedera
Kemampuan pasien:
• Menyebutkan dengan bahasa sederhana faktor-faktor yang menimbulkan
cedera .
• Menggunakan cara yang tepat untuk mencegah cedera.
• Mengontrol aktivitas sesuai kemampuan.
• Kemampuan keluarga.
• Keluarga dapat mengungkapkan faktor-faktor yang dapat menimbulkan
cedera pada pasien .
• Menyediakan pengaman di dalam rumah.
• Menjauhkan alat-alat listrik dari jangkauan pasien.
• Selalu menemani pasien di rumah
• Memantau kegiatan harian yang dilakukan pasien

DAFTAR PUSTAKA

1. http://www.scribd.com/doc/ASKEP-DEMENSIA/

2. Nugroho,Wahjudi. Keperawatan Gerontik.Edisi2.Buku Kedokteran. EGC.Jakarta;1999

3. Stanley,Mickey. Buku Ajar Keperawatan Gerontik.Edisi2. EGC. Jakarta;2002