CEDERA MEDULA SPINALIS

Disusun Oleh :
1. Alfi setyawati
2. Firman Rochimin
3. Rifan masruri

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
INSAN CENDEKIA MEDIKA
JOMBANG 2010

Daftar Isi

Sampul depan…………………………………………………………………………………………… 1
Kata Pengantar………………………………………………………………………………………….. 3
Pengertian………………………………………………………………………………………………… 4
Etiologi/Penyebab……………………………………………………………………………………… 4
Klasifikasi………………………………………………………………………………………………… 4
Patofisiologi……………………………………………………………………………………………… 5
Gambaran Klinis………………………………………………………………………………………. 13
Pemeriksaan Diagnostis……………………………………………………………………………… 7
Asuhan Keperawatan
• Pengkajian dan pemeriksaan fisik…………………………………………….. 7
• Diagnosa Keperawatan dan intervensi……………………………………………………………………………………… 14
Daftar Pustaka…………………………………………………………………………………………… 17

KATA PENGANTAR

Syukur Alhamdulillah saya panjatkan kehadirat Allah SWT atas rahmat dan hidayahNya, kami dapat menyelesaikan makalah ini yang berjudul Hipofungsi Adrenokortikal sesuai dengan waktu yang telah ditentukan.
Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas kuliah yang akan membantu dalam upaya pembelajaran, baik secara langsung maupun tidak langsung dan dapat menambah ilmu pengetahuan untuk mencapai suatu keinginan yang besar.
Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan karena terbatasnya waktu dan pengetahuan kami. Oleh karena itu mohon segala saran dan kritik demi perbaikan dimasa yang akan datang. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi penulis dan pembaca umumnya.

Jombang, Oktober 2010

Penulis

I. PENGERTIAN
Meningitis adalah radang pada meningen (membran yang mengelilingi otak dan medula spinalis) dan disebabkan oleh virus, bakteri atau organ-organ jamur(Smeltzer, 2001).
Meningitis merupakan infeksi akut dari meninges, biasanya ditimbulkan oleh salah satu dari mikroorganisme pneumokok, Meningokok, Stafilokok, Streptokok, Hemophilus influenza dan bahan aseptis (virus) (Long, 1996).
Meningitis adalah peradangan pada selaput meningen, cairan serebrospinal dan spinal column yang menyebabkan proses infeksi pada sistem saraf pusat (Suriadi & Rita, 2001).
Secara ringkas pengertian dari meningitis adalah radang pada meningen/membran (selaput) yang mengelilingi otak dan medula spinalis.
II. ETIOLOGI
1. Bakteri piogenik yang disebabkan oleh bakteri pembentuk pus, terutama Meningokokus, Pneumokokus, Basilus tuberculosa, dan Basil influensa.
2. Virus yang disebabkan oleh agen-agen virus yang sangat bervariasi.
3. Organisme jamur.
4. Faktor predisposisi : jenis kelamin laki-laki lebih sering dibandingkan dengan wanita.
5. Faktor maternal : ruptur membran fetal, infeksi maternal pada minggu terakhir kehamilan
6. Faktor imunologi : defisiensi mekanisme imun, defisiensi imunoglobulin.
7. Kelainan sistem saraf pusat, pembedahan atau injury yang berhubungan dengan sistem persarafan.

III. KLASIFIKASI
a. Asepsis
Meningitis asepsis mengacu pada salah satu meningitis virus atau menyebabkan iritasi meningen yang disebabkan oleh abses otak, ensefalitis, limfoma, leukemia, atau darah diruang subarachnoid. Tipe ini biasanya disebabkan oleh berbagai jenis penyakit yang disebabka virus seperti gondok herpes simpleks dan herpes zooster.eksudat yang biasanya terjadi pada meningitis bakteri tidak terjadi pada meningitis virus dan tidak ditemukan organisme pada kultur cairan otak.peradanga terjadi pada korteks serebri dan lapisan otak. Mekanisme atau respon dari jaringan otak terhadap virus bervariasi tergantung pada jenis sel yang terlibat.
b. Sepsis
Meningitis sepsis menunjukkan meningitis yang disebabkan oleh organisme bakteri seperti meningokokus, pneumokokus, dan basilus influensa.sampai saat ini betuk paling signifikan dari meningitis adalah tipe bakterial.bakteri paling sering dijumpai pada meningitis bakteri akut yaitu Neiesrria meningitidis (meningitis meningokokus), Sterptococus pneumoniae ( pada dewasa), dan Haemophilus influenzae (pada anak-anak dan dewasa muda) ketiga organisme ini menyebar 75% kasus meningitis bakteri. Bentuk penularannya melalui kontak langsung, yang termasuk droplet ataupun sekret dari hidung dan tenggorokan yang membawa kuman (paling sering ) atau ada infeksi dari orang lain. Akibatnya, banyak yang tidak berkembang menjadi infeksi tetapi menjadi pembawa (carrier). Insiden tertinggi pada meningitis disebabkan oleh bakteri gram negatif yang terjadi pada lansia sama seperti pada seseorang yang menjalani bedah saraf atau oarang yang mengalami gangguan pada respon imun.
c. Tuberkulosa
Meningitis tuberkulosa disebabkan oleh basilus tuberkel. Infeksi meningen biasanya dihubungkan dengan satru atau dua jalan yaitu melalui salah satu aliran darah sebagei konsekuensi dari infeksi-infeksi bagian lain seperti selulitis atau melalui penekanan langsung seperti didapat setelah cedera traumatik tulang wajah. Dalam jumlah kecil dalam beberapa kasus merupakan iatrogenik atau hasil sekunder prosedur invasif (lumbal pungsi) atau alat-alat invasif seperti alat pemantau TIK (tekanan intrakranial).

IV. PATOFISIOLOGI MENINGITIS

V. PEMERIKSAAN DIAGNOSIS
Pemeriksaan diagnostik rutin pada klien meningitis, meliputi laboratoriurn klinik rutin (Hb, leukosit, LED, trombosit, retikulosit, glukosa). Pemeriksaan faal hemostasis diperlukan untuk mengetahui secara dini adanya DIC. Serum elektrolir dan glukosa dinilai untuk mengidentifikasi adanya ketidakseimbangan elektrolit terutama hiponatremi.
Pemeriksaan laboratorium yang khas pada meningitis adalah analisis cairan otak. Lumbal pungsi tidak bisa dikerjakan pada pasien dengan peningkatan tekanan intrakranial. Analisis cairan otak diperiksa untuk jumlah sel, protein, dan konsentrasi glukosa. Kadar glukosa darah dibandingkan dengan kadar glukosa cairan otak. Normalnya, kadar glukosa cairan otak adalah 2/3 dari nilai serum glukosa dan pada pasien meningitis kadar glukosa cairan otaknya menu run dari nilai normal.
Untuk lebih spesifik mengetahui jenis mikroba, organisme penyebab infeksi dapat diidentifikasi melalui kultur kuman pada cairan serebrospinal dan darah. Counter Immuno Electrophoreses (CIE) digunakan secara luas untuk mendeteksi antigen bakteri pada cairan tubuh,umumnya cairan serebrospinal dan urine.Pemeriksaan lainnya diperlukan sesuai klinis klien, meliputi foto rontgen paru, dan CT scan kepala. CT scan dilakukan untuk menentukan adanya edema serebral atau penyakit saraf lainnya. Hasilnya biasanya normal, kecuali pada penyakit yang sudah sangat parah.

VI. ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN GANGGUAN SISTEM PERSARAFAN
A. PENGKAJIAN
Meliputi hal-hal berikut :
I. Anamnesis
Anamnesis pada meningitis meliputi keluhan utama, riwayat penyakit sekarang, riwayat penyakit dahulu, dan pengkajian psikososial (pada anak perlu dikaji dampak hospitalisasi.
II. Keluhan utama
Hal yang sering menjadi alasan klien atau orang tua membawa anaknya untuk meminta pertolongan keschatan adalah suhu badan tinggi, kejang, dan penurunan tingkat kesadaran.
III. Riwayat penyakit sekarang
Faktor riwayat penyakit sangat penting diketahui untuk mengetahui jenis kuman penyebab. Di sini harus ditanya dengan jelas tentang gejala yang timbul seperti kapan mulai terjadinya serangan, sembuh, atau bertambah buruk. Pada pengkajian klien dengan meningitis biasanya didapatkan keluhan yang berhubungan dengan akibat infeksi dan peningkatan tekanan intrakranial. Keluhan tersebut di antaranya sakit kepala dan demam adalah gejala awal yang sering. Sakit kepala dihubungkan dengan meningitis yang selalu berat dan sebagai akibat iritasi meningen. Demam umumnya ada dan tetap tinggi selama perjalanan penyakit. Keluhan kejang perlu mendapat perhatian untuk dilakukan pengkajian lebih mendalam, bagaimana sifat timbulnya kejang, stimulus apa yang sering menimbulkan kejang dan tindakan apa yang telah diberikan dalam upaya menurunkan keluhan kejang tersebut. Adanya penurunan atau perubahan pada tingkat kesadaran dihubungkan dengan meningitis bakteri.
IV. Riwayat Penyakit Dahulu
Pengkajian penyakit yang pernah dialami klien yang memungkinkan adanya huhungan atau menjadi predisposisi keluhan sekarang meliputi pernahkah klien mengalami infeksi jalan napas bagian atas, otitis media, mastoiditis, anemia sel sabit dan hemoglobinopatis lain, tindakan bedah saraf, riwayat trauma kepala dan adanya pengaruh immunologis pada masa sebelumnya. Riwayat sakit TB paru perlu ditanyakan kepada klien terutama jika ada keluhan batuk produktif dan pernah menjalani pengobatan obat anti tuberkulosis yang sangat berguna untuk mengidentifikasi meningitis tuberkulosa. Pengkajian pemakaian obat-obat yang sering digunakan klien, seperti pemakaian obat kortikosteroid, pemakaian jenis-jenis antibiotik dan reaksinya (untuk menilai resistensi pemakaian antibiotik) dapat menambah komprehensifnya pengkajian. Pengkajian riwayat ini dapat mendukung pengkajian dari riwayat penyakit sekarang dan merupakan data dasar untuk mengkaji lebih jauh dan untuk memberikan tindakan selanjutnya.
V. Pengkajian Psikososiospiritual
Pengkajian psikologis klien meningitis meliputi beberapa dimensi yang memungkinkan perawat untuk memperoleh persepsi yang jelas mengenai status emosi, kognitif, dan perilaku klien. Sebagian besar pengkajian ini dapat diselesaikan melalui interaksi menyeluruh dengan klien dalam pelaksanaan pengkajian lain dengan memberi pertanyaan dan tetap melakukan pengawasan sepanjang waktu untuk menentukan kelayakan ekspresi emosi dan pikiran. Pengkajian mekanisme koping yang digunakan klien juga penting untuk menilai respons emosi klien terhadap penyakit yang dideritanya dan perubahan peran klien dalam keluarga dan masyarakat serta respons atau pengaruhnya dalam kehidupan sehari-harinya baik dalam keluarga ataupun dalam masyarakat. Apakah ada dampak yang timbul pada klien yaitu timbul seperti ketakutan akan kecacatan, rasa cemas, rasa ketidakmampuan untuk melakukan aktivitas secara optimal, dan pandangan terhadap dirinya yang salah (gangguan citra tubuh).
Pengkajian mengenai mekanisme koping yang secara sadar biasa digunakan klien selama masa stres, meliputi kemampuan klien untuk mendiskusikan masalah kesehatan saat ini yang telah diketahui dan perubahan perilaku akibat stres.
Pada pengkajian pada klien anak perlu diperhatikan dampak hospitalisasi pada anak dan family center. Anak dengan meningitis sangat rentan rerhadap tindakan invasif yang sering dilakukan untuk mengurangi keluhan, hal ini memberi dampak stres pada anak dan menyebabkan anak kurang kooperatif terhadap tindakan keperawatan dan medis.

B. PEMERIKSAAN FISIK
a) Tanda-tanda vital (TTV)
Pada klien meningitis biasanya didapatkan peningkatan suhu tubuh tubuh dari normal 38-41° C, dimulai pada fase sistemik, kemerahan, panas, kulit kering, berkeringat. Keadaan ini biasanya dihubungkan dengan proses inflamasi dan iritasi meningen yang sudah mengganggu pusat pengatur suhu tubuh. Penurunan denyut nadi berhubungan dengan tanda-tanda peningkatan TIK. Jika disertai peningkatan frekuensi napas sering kali berhubungan dengan peningkatan laju metabolisme umum dan adanya infeksi pada sistem pernapasan sebelum mengalami meningitis. Tekanan darah (TD) biasanya normal atau meningkat dan berhubungan dengan tanda-tanda peningkatan TIK.
b) B1 (Breathing)
Inspeksi apakah klien batuk, produksi sputum, sesak napas, penggunaan otot bantu napas dan peningkatan frekuensi napas yang sering didapatkan pada klien meningitis yang disertai adanya gangguan pada sistem pernapasan. Palpasi toraks hanya dilakukan jika terdapat deformitas pada tulang dada pada klien dengan efusi pleura massif (jarang terjadi pada klien dengan meningitis). Auskultasi bunyi napas tambahan seperti ronkhi pada klien dengan meningitis tuberkulosa dengan penyebaran primer dari paru.
c) B2 (Mood)
Pengkajian pada sistem kardiovaskular terutama dilakukan pada klien meningitis pada tahap lanjOt seperti apabila klien sudah mengalami renjatan (syok). Infeksi fulminasi terjadi pada sekitar 10% klien dengan meningitis meningokokus, dengan tanda-tanda septikemia: demam tinggi yang tiba-tiba muncul, lesi purpura yang menyebar (sekitar wajah dan ekstremitas), syok dan tanda-tanda koagulasi intravaskular diseminata (CID). Kematian mungkin terjadi dalam beberapa jam setelah serangan infeksi.
d) B3 (Brain)
Pengkajian B3 (Brain) merupakan pemeriksaan fokus dan lebih lengkap dibandingkan pengkajian pada sistem lainnya.
 Tingkat Kesadaran
Kualitas kesadaran klien merupakan parameter yang paling mendasar dan parameter yang paling penting yang membutuhkan pengkajian. Tingkar kewaspadaan klien dan respons terhadap lingkungan adalah indikator paling sensitif untuk disfungsi sistem persaralan. Beberapa sistem digunakan untuk membuat peringkat perubahan dalam kewaspadaan dan keterjagaan.
Pada keadaan lanjut tingkat kesadaran klien meningitis biasanya berkisar pada tingkat letargi, stupor, dan semikomatosa. Jika klien sudah mengalami koma maka penilaian GCS sangat penting untuk menilai tingkat kesadaran klien dan bahan evaluasi untuk pemantauan pemberian asuhan.
 Pengkajian Fungsi Serebral
Status mental: observasi penampilan, tingkah laku, nilai gays bicara, ekspresi wajah, dan aktivitas motorik klien. Pada klien meningitis tahap lanjut biasanya status mental klien mengalami perubahan.

 Pengkajian Sistem Motorik
Kekuatan otot menurun, kontrol keseimbangan, dan koordinasi pada meningitis tahap lanjut mengalami perubahan.
 Pengkajian Refleks
Pemeriksaan refleks profunda, pengetukan pada tendon, ligamentum arau periosteum derajat refleks pada respons normal. Refleks patologis akan didapatkan pada klien meningitis dengan tingkat kesadaran koma. Adanya refleks Babinski (+) merupakan tanda lesi UMN.
 Gerakan involunter
Tidak ditemukan adanya tremor, tic, dan distonia. Pada keadaan tertentu klien biasanya mengalami kejang umum, rerutama pada anak dengan meningitis disertai peningkatan suhu tubuh yang tinggi. Kejang dan peningkatan TIK juga berhubungan dengan meningitis. Kejang terjadi sekunder akibat area fokal kortikal yang peka.
 Pengkajian Sistem Sensorik.
Pemeriksaan sensorik pada meningitis biasanya didapatkan sensasi raba, nyeri, suhu yang normal, tidak ada perasaan abnormal di permukaan tubuh, sensasi propriosefsi, dan diskriminarif normal.
Pemeriksaan fisik lainnya terutama yang herhubungan dengan peningkatan TIK (tekanan intrakranial). Tanda-tanda peningkatan TIK sekunder akibat eksudat purulen dan edema serebral terdiri atas: perubahan karakterisrik tanda-tanda vital (melebarnya tekanan nadi dan bradikardia). Pernapasan tidak teratur, sakit kepala, muntah, dan penurunan tingkat kesadaran. Adanya ruam merupakan salah satu ciri yang mencolok pada meningitis meningokokus (neisseria meningitis). Sekitar setengah dari semua klien dengan ripe meningitis mengembangkan lesi-lesi pada k Mit di antaranya roam petekie dengan lesi purpura sampai ekimosis pada daerah yang luas. lritasi meningen mengakibatkan sejumlah tanda yang mudah dikenali yang umumnya terlihat pada semua ripe meningitis. Tanda tersebut adalah kaku kuduk, tanda Kernig (+), dan adanya tanda Brudzinski.
i. Kaku Kuduk
Kaku kuduk merupakan tanda awal. Adanya upaya untuk fleksi kepala mengalami kesulitan karena adanya spasme otot-otot leher. Fleksi paksaan menyebabkan nyeri berat.
ii. Tanda Kernig
Ketika klien dibaringkan dengan paha dalam keadaan fleksi ke arab abdomen, kaki tidak dapat diekstensikan sempurna.
iii. Tanda Brudzinski
Tanda ini didapatkan jika leher klien difleksikan, terjadi fleksi lutut dan pinggul; jika dilakukan fleksi pasif pada eksrremitas bawah pada salah satu sisi, gerakan yang sama terlihat pada sisi ekstremitas yang berlawanan.
e) B4 (Bladder)
Pemeriksaan pada sistem perkemihan biasanya didapatkan berkurangnya volume pengeluaran urine, hal ini berhubungan dengan penurunan perfusi dan penurunan curah jantung ke ginjal.
f) B5 (Bowel)
Mual sampai munrah disebabkan peningkatan produksi asam lambung. Pementihan nutrisi pada klien meningitis menurun karena anoreksia dan adanya kejang.
g) B6 (Bone)
Adanya bengkak dan nyeri pada sendi-sendi besar (khususnya lunit dan pergetangan kaki). Petekia dan lesi purpura yang didahului oleh roam. Pada pen ya kit yang berat dapat ditemukan ekimosis yang besar pada wajah dan ekstremitas. Klien sering mengalami penurunan kekuatan otot dan kelernahan fisik secara mum sehingga mengganggu ADL.

C. PENGKAJIAN PADA ANAK
Pengkajian pada anak sedikit berbeda dengan klien dewasa, hal ini disebabkan pengkajian anamnesis lebih banyak pada orang tua dan pemeriksaan fisik yang berbeda karena belum sempurnanva organ pertumbuhan terutama pada neonatus. Pengkajian yang biasa didapatkan pada anak bergantung pada luasnya penyebaran infeksi di meningen dan usia anak. Hal lain yang memengaruhi klinis pada anak adalah jenis organisme yang menginvasi meningen dan seberapa keefektifan pemberian dari terapi, dalam hal ini adalah jenis antibiotik yang dipakai sangat berpengaruh terhadap klinis pada anak. Untuk memudahkan penilaian klinis, gejala pada meningitis pada anak dibagi menjadi tiga, yaitu anak, bayi, dan neonatus.
VI. MANIFESTASI KLINIS
Manifestasi Klinis Pada Anak, timbulnya sakit secara tiba-tiba, adanya demam, sakit kepala, panas dingin, muntah, dan kejang-kejang.Serta dapat berkembang fotofobia, delirium, halusinasi, tingkah laku yang agresif atau mengantuk stupor dan koma. Gejala atau gangguan pada sistem pernapasan atau gastrointestinal seperti sesak napas, muntah dan diare. Tanda yang khas adalah adanya tahanan pada kepala jika difleksikan, kaku kuduk, tanda Kernig dan Brudzinski (+). Akibat perfusi yang tidak optimal biasanya memberikan tanda klinis kulit dingin dan sianosis. Gejala lainnya yang lebih spesifik seperti peteki (adanya purpura pada kulit) sering didaparkan apabila anak mengalami infeksi meningokokus (meningokoksemia), keluarnya cairan dari telinga merupakan gejala khas pada anak yang mengalami meningitis pneumococal dan congenital dermal sinus terutama disebabkan oleh infeksi E. Colli.
Manifestasi Klinis Pada Bayi, biasanya tampak pada anak usia 3 bulan sampai 2 tahun dan sering ditemukan adanya demam, nafsu makan menurun, muntah, newel, mudah lelah dan kejang-kejang, sena menangis meraung-raung. Tanda khas di kepala adalah fontanel menonjol. Rigiditas nukal merupakan tanda meningitis pada anak, sedangkan tanda-tanda Brudzinski dan Kernig dapat terjadi namun lambat atau ada pada kasus meningitis tahap lanjut.
Manifestasi Klinis Pada Neonatus, biasanya masih sulit untuk diketahui karena manifestasi klinisnya tidak jelas dan tidak spesifik, namun pada beberapa keadaan gejalanya mempunyai kemiripan dengan anak yang lebih tua, neonatus biasanya menolak untuk makan, kemampuan untuk menetek buruk, gangguan gastrointestinal berupa muntah dan kadang-kadang diare. Tonus otot lemah, pergerakan melemah dan kekuatan menangis melemah. Pada kasus lanjut terjadi hipothermia/demam, ikterus, rewel, mengantuk, kejang-kejang, frekuensi napas yang tidak teratur/ apnoe, sianosis dan penurunan bcrat bahan, tanda fontanel menonjol mungkin ada atau tidak. Leher fleksibel dan tidak didaparkan adanya kaku kuduk. Pada fase yang lebih berat, terjadi kolaps kardiovaskular, kejang dan apnoe biasanya terjadi jika tidak diobati atau tidak dilakukan tindakan yang cepat.

D. DIAGNOSA DAN INTERVENSI KEPERAWATAN
Perubahan perfusi jaringan otak berhubungan dengan peradangan dan edema pada otak dan selaput otak.
Tujuan : dalam waktu 3 x 24 jam setelah tindakan intervensi perfusu jaringan otak kembali membaik
Kriteria hasil : tingkat kesadaran meningkat menjadi sadar, disorientasi (-), konsentrasi baik, perfusi jaringan dan oksigenasi baik, tanda-tanda vital dalam batas normal dan syok dapat dihindari.
Intervensi Rasional
Monitor klien dengan ketat terutama setelah lumbal pungsi. Anjurkan klien berbaring 4 – 6 jam setelah lumbal pungsi. Untuk mencegah nyeri kepala yang menyertai perubahan TIK.
Monitor tanda-tanda peningkataan TIK selama perjalanan penyakit (nadi lambat, tekanan darah meningkat, kesadaran menurun, napas irregular, reflek pupil menurun, kelemahan) Untuk mendeteksi tanda-tanda syok, yang harus dilaporkan dokter untuk intervensi awal.
Monitor tanda-tanda vital dan neurologi tiap 5-30 menit. Catat dan segera laporkan hasil pengamatan kepada dokter. Perubahan ini menandai adanya TIK dan penting untuk intervensi awal.
Hindari posisi tungkai ditekuk atau gerakan klien. Anjurkan untuk tirah baring. Untuk mencegah peningkatan TIK.
Tinggikan kepala klien dengan hati-hati, cegah gerakan yang tiba-tiba dan tidak perlu dari kepala dan leher, hindari fleksi leher. Untuk mengurangi TIK.
Bantu seluruh aktifitas dan gerakan klien. Beri petunjuk untuk BAB (jangan enema).anjurkan klien untuk menghembuskan napas dalam bila miring dan bergerak di tempat tidur.cegah posisi fleksi pada lutut. Untuk mencegah keregangan otot yang dapat menimbulkan peningkatan TIK.
Waktu prosedur perawatan disesuaikan dan diatur tepat waktu dengan periode relaksasi, hindari rangsangan lingkungan yang tidak perlu. Untuk mencegah eksitasi yang merangsang otak untuk terjadi iritasi dan dapat menimbulkan kejang.
Beri penjelasan pada klien tentang keadaan lingkungan. Untuk mengurangi disorientasi dan untuk klarifikasi persepsi sensorik yang terganggu.
Evaluasi selama penyembuhan terhadap gangguan sensorik, motorik dan intelektual. Untuk merujuk ke rehabilitasi
Kolaborasi pemberian steroid osmotik. Untuk menurunkan TIK.

Ketidakefektifan jalan napas berhubungan dengan akumulasi sekret, penurunan kemampuan batuk, dan perubahan tingkat kesadaran.
Tujuan : dalam waktu 3×24 jam setelah diberikan tindakan, jalan napas kembali normal
Kriteria hasil : secara subyektif sesak napas (-), rr 16-20 x/mnt, tidak menggunakan alat bantu napas, retraksi ICS (-), ronkhi (-/-), mengi (-/-), dapat mendemonstrasikan batuk efektif.
Intervensi Rasional
Kaji fungsi paru adanya bunyi napas tambahan, perubahan irama dan kedalaman, penggunaan otot-otot aksesori, warna dan kekentalan sputum. Memantau dan mengatasi komplikasi potensial. Pengkajian fungsi pernapasan dengan interval yang teratur adalah penting karena pernapasan yang tidak efektif dan adanya kegagalan akibat kelemahan atau paralisis pada otot-otot interkostal dan diafragma berkembang dengan cepat.
Atur posisi fowler dan semi fowler Peninggian kepala tempat tidur memudahkan pernapasan, meningkatkan ekspansi dada, meningkatkan batuk lebih efektif.
Ajarkan cara batuk efektif. Klien berada pada resiko tinggi bila tidak dapat batuk efektif untuk membersihkan jalan napas dan mengalami kesulitan dalam menelan, sehingga menyebabkan aspirasi saliva dan mencetuskan gagal napas akut.
Lakukan fisioterapi dada, vibrasi dada. terapi fisik dada membantu meningkatkan batuk lebih efektif.
Penuhi hidrasi cairan via oral seperti minum air putih serta pertahankan asupan cairan 2500 ml/hari. Pemenuhan cairan dapat mengencerkan mucus yang kental dan dapat membantu pemenuhan cairan yang banyak keluar tubuh.
Lakukan pengisapan lendir pad ajalan napas. Pengisapan mungkin diperlukan untuk mempertahankan kepatenan jalan napas menjadi bersih.

VII. DAFTAR PUSTAKA
Batticaca,Fransiska B.2008.Asuhan Keperawatan pada klien dengan gangguan sistem saraf.Salemba Medika.
Brooker,Chris.2009.Ensiklopedia Keperawatan/Meningitis.Jakarta:EGC.
Muttaqin,Arif.2008.Buku Ajar Asuhan Keperawatan Klien Dengan Gangguan Sistem Persarafan.Jakarta:Salemba Medika.