MULTIPLE SKLEROSIS

 Definisi
Sklerosis multiple ( SM ) merupakan keadaan kronis penyakit system syaraf pusat degenerative yang dikarakteristikkan oleh adanya bercak kecil demielinasi pada otak dan medulla spinalis. Demielinasi menunjukkan kerusakan myelin yang menunjukkan adanya adanya material lunak dan protein di sekitar serabut-serabut syaraf otak dan medulla spinalis, yang menghasilkan gangguan transmisi impuls syaraf.
Myelin adalah materi yang melindungi syaraf, berfungsi seperti lapisan pelindung pada kabel listrik dan memudahkan syaraf untuk mengirim impulsnya dengan cepat. Kecepatan dan efisiensi pengiriman impuls inilah yang memungkinkan sebuah gerakan tubuh yang halus, cepat,dan terkoordinasi dilakukan hanya dengan sedikit upaya.
Kerusakan myelin (demyelinasi) menyebabkan gangguan kemampuan serabut syaraf untuk menghantarkan pesan ke dan dari otak. Lokasi terjadinya kerusakan myelin (plak atau lesi) tampak seperti area (parut/luka) yang mengeras: pada MS, parut-parut/luka-luka ini tampak pada otak dan tulang belakang.

Multiple Sklerosis (Multiple Sclerosis – MS) adalah penyakit kronis pada sistem saraf pusat (SSP) yang dikarakteristikan oleh sedikit lapisan dari batas substansia alba pada saraf optik, otak dan medulla spinalis.

Multipel sklerosis paling sering ditemukan pada usia muda. Kasus ini sedikit lebih banyak menyerang wanita dibandingkan dengan pria. Usia rata-rata penderita penyakit ini adalah 30 tahun, dengan batas antara 18-40 tahun.

 Etiologi
Multiple sclerosis biasanya disebabkan oleh beberapa hal seperti :
1) Lapisan merujuk pada destruksi myelin, lemak dan material protein yang menutupi lapisan saraf tertentu dalam otak dan medulla spinalis dimana Lapisan ini mengakibatkan gangguan transmisi impuls saraf.
2) Perubahan inflamasi mengakibatkan jaringan parut (scar) yang berefek terhadap lapisan saraf.
3) Penyebab tidak diketahui tetapi kemungkinan karena factor predisposisis yang berhubungan dengan disfungsi autoimun, kelainan genetik atau proses infeksi oleh virus

 Manifestasi klinis multiple Sklerosis

Multiple sclerosis memiliki kondisi yang sangat variabel dan gejala-gejalanya bergantung pada area sistem syaraf pusat yang terserang. Tidak ada pola khusus pada MS dan setiap penderita MS memiliki kekhasan gejalanya sendiri-sendiri, yang bentuknya dari waktu ke waktu bervariasi dan tingkat keparahan serta jangka waktunya pun dapat berubah, dan semua variasi dan perubahan itu dapat terjadi bahkan pada penderita yang sama. Tidak ada MS yang tipikal. Kebanyakan penderita MS akan mengalami lebih dari satu gejala, tetapi meskipun ada gejala-gejala umum yang diderita banyak orang, tidak ada seorangpun yang memiliki semua gejala tersebut sekaligus.

Perjalanan SM dapat menunjukkan banyak pola yang berbeda. Banyak pasien mulai dengan perjalanan relapsing remitting dengan pemulihan komplit di antara kesembuhan. Pasien lain mengalami perjalanan progressif kronik dari awitan dengan penurunan fungsi progressif. Perjalan penyakit progressif yang cepat jarang terjadi. Pada pasien yang lain, penyakit mengikuti perjalanan penyakit jinak. Sepanjang hidup dan gejala sangat ringan sehingga pasien tidak mencari bantuan kesehatan ataupun pengobatan.

Tanda dan gejala SM bervariasi dan banyak, yang menunjukkan lokasi lesi ( plak ) atau kombinasi lesi-lesi.gejala primer paling banyak dilaporkan berupa kelelahan, lemah, kesukaran koordinasi, kelemahan pada otot, penurunan daya indra, depresi, kesulitan koordinasi dan berbicara, rasa sakit, kelumpuhan dan kehilangan keseimbangan. Gangguan penglihatan akibat adanya lesi pada syaraf optic atau penghubungnya dapat mencakup penglihatan kabur, diplopia, kebutaan parsial ( skotoma ), dan kebutaan total.

Kelemahan ekstremitas spastic dan kehilangan reflek abdomen akibat keterlibatan jaras motorik utama ( traktus piramidal ) dari medulla spinalis. Kerusakan akson-akson sensori dapat menghasilkan disfungsi sensori. Masalah kognitif dan psikososial mencakup depresi, merupakan refleksi dari lobus frontal/ parietal yang terkena ( jarang terjadi perubahan kognitif berat dengan dimensia ). Serangan pada serebelum/ basal ganglia dapat menyebabkan ataksia ( gangguan koordinasi gerakan ) dan tumor. Emosi yang labil dan euphoria akibat hilangnya control penghubung antara korteks dan basal ganglia dan mungkin terjadi pada pasien SM. Demikian pula dapat terjadi maslah defekasi, dan berkemih serta seksual.

 Patofisiologi

Penyebab MS belum diketahui, saat ini seluruh dunia masih melakukan penelitian untuk mencari penyebab pasti penyakit MS. Kerusakan myelin pada MS mungkin terjadi akibat respon abnormal dari sistem kekebalan tubuh terutama focal lymphocytic infiltration (sel T secara terus-menerus bermigrasi menuju lokasi dan melakukan penyerangan seperti yang layak terjadi pada setiap infeksi). Sitem kekebalan tubuh ini seharusnya melindungi tubuh dari serangan organisme berbahaya (bakteri dan virus). Banyak jenis MS yang menampakkan gejala penyakit kekebalan tubuh, dimana tubuh menyerang sel-sel dan jaringan-jaringannya sendiri (dalam kasus MS, yang diserang adalah Myelin). Para peneliti belum mengetahui apa yang memicu sistem kekebalan tubuh tersebut menyerang myelin, tetapi ada satu pemikiran bahwa hal tersebut terjadi karena beberapa faktor.

Satu teori menyebutkan bahwa virus, yang mungkin sudah menetap lama dalam tubuh, mungkin memainkan peranan penting dalam perkembangan penyakit ini dan mungkin mengganggu sistem kekebalan atau secara tidak langsung mengubah proses sistem kekebalan tubuh. Banyak penelitian yang sudah mencoba mengidentifikasi virus MS. Ada satu dugaan bahwa kemungkinan tidak ada virus MS, melainkan hanya ada virus-virus biasa, seperti virus campak ( rubella ) dan herpes, yang menjadi pemicu timbulnya penyakit MS. Pada penderita multipel sklerosis ternyata serum dan cairan serebrospinal mengandung berbagai antibodi campak serta ada bukti yang menyatakan bahwa zat anti tersebut dihasilkan dalam otak.

Virus-virus ini mengaktifkan sel darah putih (limposit) dalam aliran darah menuju ke otak dengan melemahkan mekanisme pertahanan otak (yaitu substansi yang melindungi darah/otak). Kemudian, di dalam otak, sel-sel ini mengaktifkan unsur-unsur lain dari sistem kekebalan tubuh dengan satu cara yang pada akhirnya membuat sel-sel tersebut menyerang dan menghancurkan myelin. Pada awalnya, setiap peradangan yang terjadi berangsur menjadi reda sehingga memungkinkan regenerasi selaput mielin. Pada saat ini, gejala awal MS masih berupa episode disfungsi neurologis yang berulang kali membaik. Walaupun demikian, dengan berselangnya waktu, sitokina yang disekresi oleh sel T akan mengaktivasi sejumlah mikroglia, dan astrosit sejenis fagosit yang bermukim pada jaringan otak dan sumsum tulang belakang, dan menyebabkan disfungsi sawar otak serta degenerasi saraf kronis yang berkelanjutan.

Kerusakan myelin (demyelinasi) menyebabkan gangguan kemampuan serabut syaraf untuk menghantarkan pesan ke dan dari otak. Lokasi terjadinya kerusakan myelin (plak atau lesi) tampak seperti area (parut/luka) yang mengeras: pada MS, parut-parut/luka-luka ini tampak pada otak dan tulang belakang.

Penyebab lain MS belum diketahui, saat ini seluruh dunia masih melakukan penelitian untuk mencari penyebab pasti penyakit MS. Masih dipertanyakan apakah meningkatnya kasus pada keluarga diakibatkan oleh predisposisi genetik (tidak terdapat pola herediter) atau disebabkan karena sering kontak dengan agen infeksi (mungkin virus) pads masa kanak-kanak yang entah dapat menyebabkan multipel sklerosis pads waktu mulai menginjak masa dewasa muda.

Penyelidikan migrasi menunjukkan bahwa jika orang dewasa pindah dari tempat dengan risiko tinggi ke tempat dengan risiko rendah, mereka tetap mempunyai risiko tinggi untuk menderita multipel sklerosis. Tetapi jika migrasi terjadi sebelum mencapai usia 15 tahun, maka individu tersebut mempunyai risiko yang rendah sesuai dengan tempat tinggalnya yang baru. Data-data Ini sesuai dengan teori yang menyatakan virus mungkin merupakan penyebabnya dengan periode laten yang panjang antara paparan awal dengan awitan (onset penyakit). Mekanisme kerjanya mungkin merupakan reaksi autoimun yang menyerang mielin.

Penyelidikan lain mengajukan kemungkinan adanya faktor-faktor genetik sehingga ada orang-orang yang lebih rentan terhadap serangan berbagai virus yang bereaksi lambat pada Sistem saraf pusat. Virus lambat ini mempunyai masa inkubasi yang lama dan mungkin hanya berkembang dalam kaitannya dengan status imun yang abnormal atau terganggu

Sklerosis ditandai dengan adanya bercak kerusakan mielin yang tersebar diikuti dengan gliosis dan substansia alba sistem persarafan. Bercak-bercak berwarna kekuning-kuningan dan keras yang ditemukan pada otopsi dipakai sebagai sumber nama penyakit ini. Sifat perjalanan penyakit merupakan serangkaian serangan pada berbagai bagian sistem saraf pusat. Setiap serangan memperlihatkan derajat remisi tertentu tetapi secara menyeluruh gambarannya adalah ke arah yang buruk (Brunner dan Suddarth, 2002).

Secara klinis, akan terjadi akumulasi progresif seperti masalah penglihatan,kelemahan pada otot, penurunan daya indra, depresi, kesulitan koordinasi dan berbicara, rasa sakit dan bahkan kelumpuhan. Secara paraklinis, akan terjadi kerusakan akson dan lebam pada otak dan sumsum tulang belakang akibat peradangan fase akut dan gliosis yang terjadi berulangkali pada akson dan glia. Rasio IL-12 dan IFN-gamma dalam darah juga mengalami peningkatan.Secara paraklinis, akan terjadi kerusakan akson dan lebam pada otak dan sumsum tulang belakang akibat peradangan fase akut dan gliosis yang terjadi berulangkali pada akson dan glia. Rasio IL-12 dan IFN-gamma dalam darah juga mengalami peningkatan

 Epidemiologi
Penyakit ini lebih sering dijumpai pada daerah beriklim sedang (Eropa Utara dan Amerika Utara), dengan insidens kurang lebih 10 per 10.000 penduduk. Penyakit ini jarang ditemukan di daerah tropis tetapi multipel sklerosis juga jarang dijumpai di Jepang. Penyakit ini sedikit lebih banyak ditemukan di antara keluarga yang pernah menderita penyakit tersebut, yaitu kira-kira 6-8 kali lebih sering pada keluarga dekat.Peta dunia yang menunjukkan bahwa risiko terkena MS makin tinggi dengan meningkatnya jarak dari khatulistiwa
Di Eropa utara, Amerika Utara, dan Australasia, sekitar satu dari 1000 warganegara menderita sklerosis ganda, sementara di jazirah Arab, Asia, dan Amerika Selatan, persentasenya jauh lebih rendah. Di Afrika sub-Sahara, MS sangat jarang. Dengan beberapa pengecualian, ada gradasi utara-selatan di belahan bumi utara dan gradasi selatan-utara di belahan bumi selatan, dengan MS lebih jarang di sekitar khatulistiwa.

 Komplikasi
Komplikasi yang biasanya sering terjadi pada multiple skelrosis adalah :
Disfungsi pernafasan,Infeksi kandung kemih, infeksi sistem pernafasan,sepsis, Komplikasi dari imobilitas,dekubitus, Konstipasi, deformitas kontraktur, edema depemden pada kaki, pneumonia dan depresi reeaktif, masalh-masalh emosi, social, pernikahan, ekonomi, pendidikan juga dapat menjadi akibat dari penyakit

 Pemeriksaan Diagnostic
Dalam menegakkan diagnosis multiple sklerosis dibutuhkan beberapa pemeriksaan penunjang sebagai berikut :
1) Pemeriksaan elektroporesis susunan saraf pusat, antibody Ig dalam SSP yang abnormal.
Pemeriksaan elektroforesis terhadap SSP biasanya mengungkap adanya ikatan oligoklonal (beberapa pita imunoglobulin gamma [IgG]), yang menunjukkan abnormalitas imunoglobulin. Dalam kenyataannya, hampir 95% antibodi IgG normal terlihat di SSP pada klien dengan multipel skierosis. Pemeriksaan potensial bangkitan dilakukan untuk membantu memastikan luasnya proses penyakit den memantau perubahan.
2) Gambaran MRI ditemukan sedikit scar plag sepanjang substansia alba dari SSP.
CT scan dapat menunjukkan atrofi serebri. MRI menjadi alat diagnostik utama untuk memperlihatkan plak kecil dan untuk mengevaluasi perjalanan penyakit den efek pengobatan. Disfungsi kandung kemih yang mendasari diagnosis dengan pemeriksaan urodinamik. Pengujian neuropsikologis dapat diindikasikan untuk mengkaji kerusakan kognitif. Riwayat seksual menbantu untuk mengindentifikasi hal-hal kekhawatiran khusus.
Pemeriksaan MRI menunukkan bahwa banyak plak tidak menimbulkan gejala serius, dan pasien dengan plak ini tidak secara serius mengalami gangguan tetapi mengalami periode remisi yang panjang di antara episode remisi. Terdapat bukti bahwa remielinasi secara actual terjadi pada beberapa pasien.

 Penatalaksanaan Medis
Tujuan pengobatan adalah menghilangkan gejala dan membantu fungsi klien. Penatalaksanaan meliputi penatalaksanaan pada serangan akut dan kronik.
Program pengobatan sesuai dengan individu, kelompok, dan rasional yang menjadi indikasi untuk mengurangi gejala dan memberikan dukungan secara terus¬menerus. Banyak klien multipel skierosis mengalami keadaan stabil dan hanya memerlukan pengobatan yang lebih sering yang ditujukan pada pengontrolan gejala sedangkan yang lain mengalami progresi penyakit yang mantap.

1) Penatalaksanaan Serangan Akut ( Farmakoterapi )

• Kortikosteroid dan ACTH digunakan sebagai agen anti-inflamasi yang dapat meningkatkan konduksi saraf, menurunkan inflamasi, kekambuhan dalam waktu singkat atau eksaserbasi (exacerbation). Karena mekanisme imun merupakan faktor patogenesis multipel sklerosis, make sejumlah agen farmakologik dicoba untuk modulasi respons imun dan menurunkan kecepatan perkembangan penyakit den serangan yang sering den menurunkan keadaan yang semakin buruk. Obat-obat ini mencakup azatioprin, sikiofosfamid, dan interferon.
• Beta interferon (Betaseron) telah disetujui untuk digunakan dalam perjalanan relapsing-remitting. Beta interferon (Betaseron ®) digunakan untuk mempercepat penurunan gejala. Betaseron telah diketahui efektif dalam menurunkan secara signifikan jumlah dan beratnya eksaserbasi akut dengan pemindaian MRI yang menunjukkan area demielinisasi yang lebih kecil pada jaringan otak. ini merupakan obat baru yang dapat menjanjikan untuk pengobatan multipel skierosis meskipun telah ratusan kali dicoba.
• Modalitas lain (misalnya radiasi, kopolimer 1, dan kladribin) sekarang masih diteliti sebagai pengobatan yang mungkin untuk bentuk multipel sklerosis progresif.
• Baklofen sebagai agen antispasmodik merupakan pengobatan yang dipilih untuk spastisitas. Klien dengan spastisitas beret dan kontraktur memerlukan blok saraf dan intervensi pembedahan untuk mencegah kecacatan lebih lanjut.
• Imunosupresan (immunosuppressant) dapat menstabilkan kondisi penyakit

2) Penatalaksanaan Gejala Kronik
a. Pengobatan spastic dengan bacloferen (Lioresal®), dantrolene (Dantrium®), diazepam (Valim®), terapi fisik, intervensi pembedahan.
b. Kontrol kelelahan dengan namatidin (Simmetrel®).
c. Pengobatan depresi dengan antidepresan dan konseling.
d. Penatalaksanaan kandung kemih dengan antikolinergik dan pemasangan kateter tetap.
Penatalaksanaan terhadap kontrol berkemih dan defekasi pada kebanyakan masalah sulit klien. Umumnya, gejala disfungsi kandung kemih dibagi menjadi beberapa kategori, yaitu ketidakmampuan untuk menyimpan urine (hiperefleksi; tidal tertahan), ketidakmarnpuan mengosongkan kandung kemih (hiporefleksi, hipotonik), dan campuran kedua tipe. Berbagai variasi pengobatan digunakan untuk mengatasi masalah masalah ini. Kateterisasi sendiri yang dilakukan secara sering efektif digunakan untuk disfungsi kandung kemih.
Infeksi saluran kemih sering terjadi akibat disfungsi neurologis. Asam askorbat dapat diberikan untuk mengasamkan urine, sehingga menurunkan kemungkinan bakteri untuk bertumbuh. Antibiotik diberikan bile dibutuhkan,

e. Penatalaksanaan BAB dengan laksatif dan supositoria.
f. Penatalaksanaan rehabilitasi dengan terapi fisik dan terapi kerja.
g. Kontrol distonia dengan karbamazim (Treganol®).
h. Penatalaksanaan gejala nyeri dengan karbamazepin (Tegratol®), feniton (Dilantin®), perfenazin dengan amitriptilin (Triavili®)

 Penatalaksanaan Keperawatan
Penatalaksanaan yang dapat dilakukan dalam bidang keperawatan meliputi pengkajian dan diagnosis sampai kepada intervensi medis.
1. Pengkajian
Pengkajian keperawatan menunjukkan masalah yang aktual dan risiko berkaitai dengan penyakit yang mencakup masalah neurologis, komplikasi sekunder, dan pengaruh penyakit terhadap klien dan keluarga. Gerakan dan kemampuan berjalan klien diobservasi untuk menentukan apakah ads kemungkinan risiko jatuh. Pengkajian fungsi dilakukan baik ketika klien cukup istirahat dan ketika mengalami keletihan. Perlu dikaji untuk adanya kelemahan, spastisitas, kerusakan penglihatan, dan inkontinensia.

1) Amati kekuatan motorik, koordinasi dan gangguan berjalan.
2) Kaji pemeriksaan saraf cranial.
3) Evaluasi fungsi eliminasi.
4) Eksplorasi koping, efek aktifitas dan fungsi seksual, serta status emosional.

Anamnesis
Identitas klien meliputi nama, umur (lebih sering pada kelompok dewasa muda antara 18-40 tahun), jenis kelamin (lebih sering menyerang wanita dibandingkan dengan pria), pendidikan, alamat, pekerjaan, agama, suku bangsa, tanggal dan jam masuk rumah sakit, nomor register, dan diagnosis medis.
Keluhan utama yang sering menjadi alasan klien dan keluarga untuk meminta pertolongan kesehatan adalah kelemahan anggota gerak, penurunan daya ingat, serta gangguan sensorik dan penglihatan.
• Riwayat Penyakit Saat Ini
Pada anamnesis, klien sering mengeluhkan parestesia (baal, perasaan geli, perasaan “mati”, “tertusuk-tusuk jarum dan peniti”), penglihatan kabur, lapang pandang semakin menyempit, dan mengeluh tungkainya seakan-akan meloncat secara spontan terutama apabila is sedang berada di tempat tidur. Merasa lelah dan best pada sate tungkai dan pada waktu berjalan terlihat jelas kaki yang sebelah terseret maju, dan pengontrolannya kurang sekali.
Pada beberapa kasus, keluarga sering mengeluhkan bahwa klien sering bertingkah lake euforia, suatu perasaan senang yang tidak realistic. mi diduga disebabkan terserangnya substansia alba lobus frontalis. Pada tahap lanjut dan penyakit, klien sening mengeluhkan retensi akut dan inkontinensia.
• Riwayat Penyakit Dahulu
Pengkajian yang perlu ditanyakan meliputi adanya riwayat infeksi virus pada mesa kanak-kanak. Namun hubungan riwayat infeksi virus yang menyerang pada mesa kanak-kanak belum diketahui bagaimana menyebabkan multipel skierosis pada waktu mulai menginjak mesa dewasa much. Virus campak (rubella) diduga sebagai virus penyebab penyakit mi.
• Riwayat Penyakit Keluarga
Penyakit ini sedikit lebih banyak ditemukan di antara keluarga yang pernah menderita penyakit tersebut, yaitu kira-kira 6-8 kali lebih sering pada keluarga dekat. Masih dipertanyakan apakah meningkatnya kasus pada keluarga diakibatkan oleh predisposisi genetik (tak terdapat pola herediter).

Pengkajian Psiko-Sosio-Spiritual
Pengkajian mekanisme koping yang digunakan klien untuk menilai respons emosi klien terhadap penyakit yang dideritanya dan perubahan peran klien deism keluarga den masyarakat serta respons atau pengaruhnya dalam kehidupan sehari-harinya baik deism keluarga ataupun dalam masyarakat. Adanya perubahan hubungan den peran karma klien mengalami kesulitan untuk berkomunikasi akibat gangguan bicara. Pola persepsi dan konsep diri didapatkan klien merasa tidak berdaya, tidak ads harapan, mudah marah, dan tidak kooperatif. Perubahan yang terpenting pads klien dengan penyakit multipel sklerosis adalah adanya gangguan afek, benupa eufonia. Keluhan lain yang melibatkan gangguan serebri dapat berupa hilangnya days ingat den demensia. Messiah-messiah emosi, sosial, pennikahan, ekonomi, pendidikan yang dihadapi klien jugs dapat menjadi akibat dan penyakit.
Pemeriksaan Fisik
Setelah melakukan anamnesis yang mengarah pada keluhan-keluhan klien, pemeriksaan fisik sangat berguna untuk mendukung data dan pengkajian anamnesis. Pemeriksaan fisik sebaiknya dilakukan per sistem (B1-B6) dan terarah dengan fokus pemeriksaan fisik pada pemeriksaan B3 (Brain) dan dihubungkan dengan keluhan-keluhan dan klien.
Keadaan Umum
Klien dengan multipel sklerosis umumnya tidak mengalami penununan kesadaran. Adanya perubahan pads tanda vital meliputi bradikandi, hipotensi, den penurunan frekuensi pernapasan yang berhubungan dengan bercak lesi di medula spinalis.
• B1 (Breathing)
Pada umumnya klien dengan multipel sklerosis tidak mengalami gangguan pada sistem pernapasan. Pads beberapa klien yang telah lama menderita multipel sklerosis akan mengalami gangguan fungsi pernapasan. Ini terjadi akibat tirah baring dalam jangka waktu yang lama. Pemeriksaan fisik yang didapat meliputi:
Inspeksi, didapatkan klien batuk atau mengalami penurunan kemampuan untuk batuk efektif, peningkatan produksi sputum, sesak napes, dan penggunaan otot bantu napes.
Palpasi, didapatkan taktil premitus seimbang kanan den kin.
Perkusi, didapatkan adanya suara resonan pada seluruh lapangan paru.
Auskultasi, didapatkan bunyi napas tambahan seperti napas berbunyi, stridor, ronkhi pada klien dengan peningkatan produksi sekret, dan kemampuan ha yang menurun yang wring didapatkan pada klien dengan inaktivitas.
• B2 (Blood)
Pada umumnya klien dengan multipel sklerosis tidak mengalami gangguan pada sistem kardiovaskular. Akibat dari tirah baring lama dan inaktivitas biasanya klien mengalami hipotensi postural.
• B3 (Brain)
Pengkajian B3 (Brain) merupakan pemeriksaan fokus dan lebih lengkap dibandingkan pengkajian pada sistem lainnya. Inspeksi umum, didapatkan berbagai manifestasi akibat perubahan tingkah laku.

Tingkat Kesadaran
Tingkat kesadaran klien biasanya compos mentis.

Pemeriksaan Fungsi Serebri
Status mental : biasanya status mental klien mengalami perubahan ya berhubungan dengan penurunan status kognitif, penurunan persepsi, dan penurunan memori baik jangka pendek dan memori jangka panjang. Adanya gangguan afek berupa euforia merupakan tanda khas pada klien multipel sklerosis.

Pemeriksaan Saraf Kranial
Saraf I. Biasanya pada klien multipel sklerosis tidak ada kelainan dan fungsi penciuman tidak ada kelainan.
Saraf II. Hasil tes ketajaman penglihatan mengalami perubahan penurunan ketajaman penglihatan. Sejumlah besar klien menderita gangguan penglihatan sebagai gejala-gejala awal. Dapat terjadi kekaburan penglihatan, lapang pandang yang abnormal dengan bintik buta (skotoma) baik pada satu maupun pada kedua mate. Salah satu mate mungkin mengalami kebutaan total. Gangguan-gangguan visual ini mungkin diakibatkan oleh neuritis saraf optikus. Lesi pada batang otak yang menyerang nukleus atau serabut-serabut traktus pada otot-otot ekstraokular dan nistagmus (gerakan osilasi bola mate yang cepat dalann arch horisontal atau vertikal).
Saraf III, IV, dan VI. Pada beberapa kasus penyakit multipel sklerosis biasanya tidak ditemukan adanya kelainan pada saraf mi.
Saraf V. Wajah simetris dan tidak ada kelainan pada saraf mi.
Saraf VII. Persepsi pengecapan dalam betas normal.
Saraf VIII. Tidak ditemukan adanya tuli konduktif dan tuli persepsi.
Saraf IX dan X. Didapatkan kesulitan dalam menelan makanan yang berhubungan dengan perubahan status kognitif (klien tidak kooperatif).
Saraf Xl. Tidak ada atrofi otot sternokleidomastoideus dan trapezius.
Saraf XII. Lidah simetris, tidak ada deviasi pads satu sisi dan tidak ada fasikulasi. Indra pengecapan normal.

Sistem Motorik
Kelemahan spastik anggota gerak dengan manifestasi berbagai gejala meliputi kelemahan anggota gerak pads satu sisi tubuh atau terbagi secara asimetris pads keempat anggota gerak. Merasa lelah dan beret pads satu tungkai dan pads waktu berjalan terlihat jelas kaki yang sebelah terseret maju dan pengontrolannya kurang sekali. Klien dapat mengeluh tungkainya waken-akan meloncat secara spontan terutama apabila is sedang berada di tempat tidur. Keadaan spastic yang lebih beret disertai dengan spasms otot yang nyeri.

Pemeriksaan Refleks
Refleks tendon hiperaktif dan refleksrefleks abdominal tidak ada. Respons plantar berupa ekstensor (tends Bahinski). Tench mi merupakan indikasi terserangnya lintasan kortikospinal.

Sistem Sensorik
Gangguan sensorik berupa parestesia (bawl, perasaan geli, perasaan “coati”, “tertusuk-tusuk jarum dan peniti”). Jika lesi terdapat pads kolumna posterior medula spinalis servikalis, fleksi leher menyebabkan sensasi seperti syok (tends Lhermitte). Gangguan proprioseptif sering menimbulkan ataksia sensorik dan inkoordinasi lengan. Sensasi getar sering kali menghilang.

• B4 (Bladder)
Disfungsi kandung kemih. Lesi pads traktus kortikospinalis menimbulkan gangguan pengaturan sfingter sehingga timbul keraguan untuk berkemih. frekuensi, dan urgensi berkemih yang menunjukkan berkurangnya kapasitas kandung kemih yang spastic. Kecuali itu jugs timbul retensi akut dan inkontinensia.
• B5 (Bowel)
Pemenuhan nutrisi berkurang yang berhubungan dengan asupan nutrisi yang kurang karena kelemahan fisik umum dan perubahan status kognitif. Karma penurunan aktivitas umum klien sering mengalami konstipasi.

• B6 (Bone)
Pada beberapa keadaan klien multipel skierosis biasanya didapatkan adanya kesulitan untuk beraktivitas karena kelemahan spastik anggota gerak. Kelemahan anggota gerak pada satu sisi tubuh atau terbagi secara asimetris pads keempat anggota gerak. Merasa lelah dan beret pads satu tungkai, pads waktu berjalan terlihat jelas kaki yang sebelah terseret maju dengan pengontrolan yang kurang sekali. Klien dapat mengeluh tungkainya waken-akan meloncat secara spontan terutama apabila is sedang berada di tempat tidur. Keadaan spastis yang lebih beret disertai dengan spasme otot yang nyeri. Adanya gangguan keseimbangan den koordinasi dalam melakukan pergerakan karena perubahan pada gaya berjalan den kaku pads seluruh gerakan memberikan risiko pads trauma fisik bile melakukan aktivitas.
Risiko dan multipel skierosis terhadap sistem mi herupa komplikasi sekunder seperti risiko kerusakan integritas jaringan kulit (dekubitus) akibat penekanan setempat dan tirah baring lama, deformitas, kontraktur, den edema dependen pads kaki

2. Diagnosis Keperawatan
1. Hambatan mobilitas fisik yang berhubungan dengan kelemahan, paresis, dan spastisitas.
2. Risiko tinggi cedera yang berhubungan dengan kerusakan sensorik dan penglihatan, dampak tirah baring lama, dan kelemahan spastis.
3. Deficit perawatan diri (makan, minum, berpakaian, higiene) yang berhubungan dengan perubahan kemampuan merawat din sendiri, kelemahan fisik spastis.
4. Perubahan nutrisi: kurang dan kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan intake nutrisi yang tidak adekuat.
5. Perubahan pole eliminasi urine yang berhubungan dengan kelumpuhan saraf perkemihan.
6. Risiko tinggi gangguan integritas kulit yang berhubungan dengan tirah baring lama.
7. Kerusakan komunikasi verbal yang berhubungan dengan disartria ,ataksia selebri sekunder dari kerusakan serebri
8. Koping individu tidak efektif yang berhubungan denganperubahan proses pikir dan disfungsi akibat perkembangan penyakit.
9. Perubahan peran dalam keluarga.
10. Hambatan manajemen pemeliharaan rumah yang berhubungan dengar keterbatasan fisik, psikologis, dan sosial.
11. Risiko terhadap disfungsi seksual yang berhubungan dengan keterlibatar atau reaksi psikologis terhadap kondisi.

3. Intervensi keperawatan
Sasaran utama untuk klien mencakup peningkatan mobilitas fisik, menghindar cedars, pencapaian kontinens kandung kemih dan uses, perbaikan fangs kognitif, perkembangan kekuatan koping, perbaikan perawatan diri, dan adaptasi terhadap disfungsi seksual. Program individu terhadap tempi fisik rehabilitasi, dan pengetahuan dikombinasi dengan dukungan emosi. Intervene keperawatan bertujuan meningkatkan pengetahuan klien untuk memungkinkan individu dengan multipel skierosis menghadapi masalah fisiologis, sosial, dan psikologis yang menyertai penyakit kronis.

1.diagnosa 1 : Hambatan mobilitas fisik yang berhubungan dengan kelemahan paresis dan spastisitas
Tujuan: Dalam waktu 3 x 24 jam, klien mampu melaksanakan aktivitas fisik sesuai dengan kemampuannya.
Kriteria hasil: Klien dapat ikut serta dalam program latihan, tidak terjadi kontraktur sendi, bertambahnya kekuatan otot klien menunjukkan tindakan untuk meningkatkan mobilitas.
Intervensi Rasionalisasi
Kaji mobilitas yang ada dan observasi terhadap peningkatan kerusakan. Kaji secara tester fungsi motorik Mengetahui tingkat kemampuan klien dalam melakukan aktivitas.

Modifikasi peningkatan mobilitas fisik Relaksasi dan koordinasi latihan otot meningkatkan efisiensi otot pada klien multipel skierosis. Latihan secara progresif digunakan untuk menguatkan otot yang lemah karena penurunan kekuatan otot adalah masalah
signifikan untuk klien ini.
Anjurkan teknik aktivitas dan teknik istirahat Klien dianjurkan untuk melakukan aktivitas melelahkan dalam waktu singkat. Latihan fisik yang gist tidak dianjurkan karena hal itu meningkatkan suhu tubuh dan dapat menimbulkan gejala yang lebih buruk. Lamanya latihan yang melelahkan ekstremitas dapat menyebabkan paresis, kebas, atau tidak ads koordinasi. Klien dianjurkan untuk tetap sering beristirahat pada periode pendek, dan berbaring lebih disukai. Kelelahan yang berlebihan dapat berhubungan dengan faktor penyebab gejala eksaserbasi.
Ajarkan teknik latihan jalan Latihan berjalan meningkatkan gaga berjalan, karena umumnya pads keadaan tersebut, kaki dan telapak kaki kehilangan sensasi positif. Jika kelompok otot yang terpengaruh tidak dapat sembuh make otot-otot lain dapat dicoba untuk melakukan aksi.
Ubah posisi klien tiap 2 jam. Menurunkan risiko terjadinya iskemia jaringan akibat sirkulasi dash yang buruk pads daerah yang tertekan
Ajarkan klien untuk melakukan latihan gerak aktif pada ekstremitas yang tidak sakit Gerakan aktif memberikan massa, tonus, dan kekuatan otot, serta memperbaiki fungsi jantung dan pemapasan
Lakukan gerak pasif pada ekstremitas yang sakit Otot volunter akan kehilangan tonus dan kekuatannya bila tidak dilatih untuk digerakkan
Bantu klien melakukan latihan ROM, perawatan diri sesuai toleransi sesuai toleransi Untuk memelihara fleksibilitas sendi sesuai kemampuan.
Kolaborasi dengan ahli fisioterapi untuk latihan fisik klien Peningkatan kemampuan dalam mobilisasi ekstremitas dapat ditingkatkan dengan latihan fisik dan tim fisioterapis.

2.diagnosa 2 : Risiko tinggi cedera yang berhubungan dengan kerusakan sensorik dan penglihatan, dampak tirah baring lama, dan kelemahan spastis
Tujuan: Dalam waktu 3 x 24 jam, risiko trauma tidak terjadi.
Kriteria hasil: Klien mau berpartisipasi terhadap pencegahan trauma, dekubitus tidak terjadi, kontraktur sendi tidak terjadi klien tidak jatuh dan tempat tidur.
Intervensi Rasionalisasi
Pertahankan tirah baring dan imobilisasi sesuai indikasi Meminimalkan rangsang nyeri akibat gesekan antara fragmen tulang dengan jaringan lunak di sekitarnya.
Berikan kacamata yang sesuai pada klien Tameng mata atau kacamata penutup dapat digunakan untuk memblok impuls penglihatan pada satu mata bila klien mengalami diplopia (penglihatan ganda).
Kacamata prisms dapat membantu klien yang terbaring di tempat tidur yang mempunyai kesulitan penglihatan saat membaca dengan posisi telentang. ndividu dengan keterbatasan fisik perlu menghindari membaca bacaan yang dicetak biasa, hal ini merupakan pilihan untuk bebas dan buku-buku yang berbicara tentang politik atau dapat diharapkan untuk memperoleh buku-buku dengan tipe yang banyak tersedia pada perpustakaan lokal
Minimalkan efek imobilitas Karena penurunan aktivitas fisik dan imobilisasi wring terjadi pada multipel skierosis, make komplikasi yang dihubungkan dengan imobilisasi (tidak melakukan mobilisasi) mencakup dekubitus dan langkah untuk mencegahnya. Penanganan untuk mencegah komplikasi berupa pengkajian dan mempertahankan integritas kulit dan latihan napes dalam serta batuk
Modifikasi pencegahan cedera Pencegahan cedera dilakukan pada klien multipel skerosis jika disfungsi motorik menyebabkan masalah akibat tidak adanya koordinasi dan adanya kekakuan, atau jika ataksia ads, klien berisiko jatuh
Modifikasi lingkungan Untuk mengatasi ketidakmampuan, klien dianjurkan untuk berjalan dengan kaki pada ruang yang luas untuk menyediakan dasar yang lugs dan untuk meningkatkan
kemampuan berjalan dengan stabil.
Ajarkan teknik berjalan Jika kehilangan sensasi terhadap posisi tubuh, klien dianjurkan untuk melihat kaki sambil berjalan. Berjalan dengan langkah cepat dicoba dengan alai bantu (walker, tongkat, brace, kruk, pegangan paralel) dan terapi fisik. Jika gaga berjalan tetap tidak efisien, kursi rode atau motor skuter menjadi pilihan penyelesaian
Berikan terapi okupasi Terapi okupasi merupakan sumber yang membantu individu dalam memberi anjuran dan menjamin bantuan untuk meningkatkan kemandirian. Jika tidak ada
koordinasi dan tremor ekstremitas atas terjadi ketika gerakan volunter diupayakan (tremor intensi), gelang pemberat atau manset pada pergelangan tangan dapat menolong. Klien dilatih untuk berpindah dan melakukan aktivitas sehari-hari
Minimalkan risiko dekubitus Karena hilangnya sensorik dapat menyebabkan bertambahnya kehilangan gerakan motorik, dekubitus terus diatasi untuk integritas kulit. Penggunaan kursi roda meningkatkan resiko
Inspeksi kulit bagian distal setiap hari. Pantau kulit dan membran mukosa terhadap iritasi, kemerahan, atau luka Deteksi dini adanya gangguan sirkulasi dan hilangnya sensasi risiko tinggi kerusakan integritas kulit kemungkinan komplikasi imobilisasi
Meminimalkan spastisitas dan kontraktur Spastisitas otot biasa terjadi pada tahap lanjut, yang terlihat dalam bentuk spasme adduktor yang berat pada pinggul, dengan spasme fleksor pada pinggul dan lutut, Jika tidak berkurang make kontraktur fibrosa pada sendi ini diakibatkan oleh adanya dekubitus yang terjadi pada daerah sakrum dan pinggul (karena ketidakmampuan klien mengatur posisi dengan benar). Kantung hangat mungkin menguntungkan, tetapi mandi panas harus
dihindari karena berisiko terhadap terjadinya luka baker sekunder akibat adanya kehilangan sensorik dan risiko meningkatnaa gejala yang berhubungan dengan peningkatan suhu tubuh
Ajarkan teknik latihan Latihan setiap hari untuk menguatkan otot diberikan untuk meminimalkan kontraktur sendi. Perhatian khusus diberikan pada otot-otot paha, otot gastroknemeus, adduktor, biseps, pergelangan tangan, serta fleksor jarijari. Spastisitas otot biasanya terjadi dan mengganggu fungsi normal. Latihan rutin dengan regang-tahan-rileks otot-otot dapat membantu relaksasi dan memperbaiki spastisitas otot. Berenang dan sepeda stasionari dapat dilakukan dan menahan beban dengan beret yang perlahan-lahan ditambah dapat mengurangi spastisitas kaki. Klien tidak harus terburu-buru dalam melakukan aktivitas ini, karena spastisitas ini sering meningkat
Pertahankan sendi 90° terhadap papan kaki Telapak kaki dalam posisi 90° dapat mencegah terjadinya footdrop.
Evaluasi tanda/gejala perluasan cedera jaringan (peradangan lokal/sistemik seperti peningkatan nyeri, edema, demam). Menilai perkembangan masalah klien

3.diagnosa 3 ; Defisit perawatan diri (makan, minum, berpakaian, hygiene) yang berhubungan dengan perubahan kemampuan merawat din sendiri, kelemahan fisik spastis.
Tujuan: Dalam waktu 2 x 24 jam, terjadi peningkatan dalam perilaku perawatan diri.
Kriteria hasil: Klien dapat menunjukkan perubahan gaya hidup untuk kebutuhan merawat dini dan mengidentifikasi personal/keluarga yang dapat membantu.
Intervensi Rasionalisasi
Mandiri .
Kaji kemampuan dan tingkat penurunan dalam skala 0-4 untuk melakukan ADL Membantu dalam mengantisipasi dan merencanakan pertemuan kebutuhan individual
Modifikasi perbaikan perawatan diri Multipel skerosis dapat mempengaruhi setiap segi kehidupan sehari-hari. Bila salah satu kemampuan hilang, mereka mungkin tidak akan memperoleh kemampuan itu kembali. Kemampuan fisik dapat bervariasi dari hari ke hari. Modifikasi yang memungkinkan kemandirian dalam perawatan dini harus dilakukan (meninggikan dudukan toilet, alat bantu mandi, modifikasi telepon, gagang sisir panjang, penjepit, pakaian yang dimodifikasi). Stres fisik dan emosional harus dihindari bila memungkinkan, karena hal ini dapat menimbulkan gejala yang buruk dan mengganggu perilaku. Adanya panes akan meningkatkan kelelahan dan kelemahan otot. Penggunaan AC (air conditioning) direkomendasikan sedikitnya untuk satu
ruangan. Pemajanan pada suhu dingin ekstrem dapat meningkatkan spastisitas. Dianjurkan perawatan kesehatan kontinu dan tindak lanjut
Ajarkan dan dukung klien selama aktifitas Dukungan pada klien selama aktifitas kehidupan sehari-hari dapat meningkatkan perawatan diri.
Rencanakan tindakan untuk mengatasi defisit motorik seperti tempatkan makanan dan peralatan di dekat klien agar mampu sendiri mengambilnya. Klien akan mampu melakukan aktifitas sendiri untuk memenuhi perawatan dirinya.
Modifikasi lingkungan Modifikasi lingkungan diperlukan untuk mengkompensasi ketidakmampuan fungsi.
Gunakan pagar di sekeliling tempat tidur Gunakan pagar di sekeliling tempat tidur baik tempat tidur di rumah sakit dan di rumah, atau sebuah tali yang dikaitkan pada kaku tempat tidur untuk memberi bantuan dalam menolong diri untuk bangun tanpa bantuan orang lain serta mencegah klien mengalami trauma.
Kaji kemampuan komunikasi untuk bernkemih.
Kemampuan menggunakan urinal, pispot. Antarkan ke kamar mandi bila kondisi memungkinkan Ketidakmampuan berkomunikasi dengan perawat dapat menimbulkan masalah pengosongan kandung kemih oleh karena masalah neurogenik.
Identifikasi kebiasaan defekasi. Anjurkan minum dan meningkatkan aktifitas Meningkatkan latihan dan menolong, mencegah konstipasi
Kolaborasi
Pemberian supositoria dan pelumas feses . pencahan Pertolongan utama terhadap fungsi bowel atau berkemih.
Konsultasi ke dokter terapi okupasi. Untuk mengembangkan terapi dan melengkapi kebutuhan khusus

4.diagnosa 4 ; Perubahan nutrisi: kurang dan kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan intake nutrisi yang tidak adekuat
Tujuan: Dalam waktu 2 x 24 jam, kebutuhan nutrisi klien terpenuhi.
Kriteria hasil: Klien mengerti tentang pentingnya nutrisi bagi tubuh, memperlihatkan kenaikan berat badan sesuai dengan hasil pemeriksaan laboratorium.
Intervensi Rasionalisasi
Evaluasi kemampuan makan klien Klien mengalami kesulitan dalam mempertahankan berat badan mereka. Mulut mereka kering akibat obat-obatan dan mengalami kesulitan mengunyah dan menelan.
Klien berisiko terjadi aspirasi akibat penurunan refleks batuk.
Observasi/timbang beret badan jika memungkinkan Tanda kehilangan beret badan (7-10%) dan kekunangan asupan nutrisi menunjang terjadinya masalah katabolisme, kandungan glikogen dalam otot dan kepekaan terhadap pemasangan ventilator
Manajemen mencapai kemampuan menelan:
1. Gangguan menelan disebabkan oleh tremor pada lidah, ragu-ragu dalam memulai menelan, kesulitan dalam membentuk makanan dalam bentuk bolus.
2. Makanan setengah padat dengan sedikit air memudahkan untuk menelan.
3. Klien dianjurkan untuk menelan secant berurutan.
4. Klien diajarkan untuk meletakkan makanan di atas lidah, menutup bibir dan gigi, dan menelan.
5. Klien dianjurkan untuk mengunyah pertama kali pada satu sisi mulut dan kemudian ke sisi lain.
6. Untuk mengontrol saliva, klien dianjurkan untuk menahan kepala tetap tegak dan membuat keadaan sadar untuk menelan.
7. Masase otot wajah dan leher sebelum makan dapat membantu
8. Berikan makanan kecil dan lunak Meningkatkan kemampuan klien dalam menelan dan dapat membantu pemenuhan nutrisi klien via oral.
Tujuan lain adalah mencegah terjadinya kelelahan, memudahkan masuknya makanan, dan mencegah gangguan pada lambung.
Anjurkan pemberian cairan 2500 cc/hari selama tidak terjadi gangguan jantung Mencegah terjadinya dehidrasi akibat penggunaan ventilator selama klien tidak sadar dan mencegah terjadinya konstipasi.
Lakukan pemeriksaan laboratorium yang diindikasikan, seperti serum, transferring, BUN/Kreatinin, dan glukosa Memberikan informasi yang tepat tentang keadaan nutrisi yang dibutuhkan klien

5.diagnosa 5 : Perubahan pola eliminasi urine yang berhubungan dengan kelumpuhan saraf perkemihan
Tujuan: Dalam waktu 2 x 24 jam pemenuhan eliminasi urine terpenuhi.
Kriteria hasil: Pemenuhan eliminasi urine dapat dilaksanakan dengan/tidak menggunakan kateter, produksi urine 50 cc/jam, keluhan eliminasi urine tidak ada
Intervensi Rasionalisasi
Kaji pola berkemih dan catat produksi urine tiap 6 jam Mengetahui status fungsi ginjal

Tingkatkan kontrol berkemih:
• Berikan dukungan pada klien tentang pemenuhan eliminasi urine,
• Modifikasi kebutuhan untuk berkemih,
• Lakukan jadwal berkemih,
• Ukur jumlah urine tiap 2 jam,
• Bantu cara penggunaan obat-obatan,
• Ajarkan pengunaan kateter intermiten
Klien dengan gangguan berkemih: sering berkemih, dorongan, atau inkontinensia memerlukan dukungan khusus. Sensasi terhadap kebutuhan untuk berkemih harus diperhatikan dengan segera, sehingga bedpan atau urinal harus slap pakai. Jadwal berkemih diatur (awalnya setiap 1,5-2 jam, dengan perpanjangan interval waktu bertahap). Klien diinstruksikan untuk mengukur jumlah air yang diminum setiap 2 jam dan mencoba untuk berkemih 30 menit setelah minuet. Gunakan jam atau jam tangan dengan alarm sehingga dapat membantu klien yang tidak mempunyai cukup sensasi untuk memberi tanda waktu pengosongan kandung kemih. Perawat membantu klien untuk menentukan penggunaan obat-obatan untuk mengatasi spastisitas kandung kemih, sehingga memungkinkan kemandirian yang lebih besar.
Kateterisasi intermiten yang dilakukan sendiri paling sukses dalam mempertahankan kontrol kandung kemih.
Jika klien wanita, prosedur diversi urinarius dapat dipertimbangkan. Klien prig dapat menggunakan kateter kondom untuk penampungan urine.
Palpasi kemungkinan adanya distensi kandung kemih Menilai perubahan akibat dari inkontinensia urine
Anjurkan klien untuk minuet 2000 cc/hari Membantu mempertahankan fungsi ginjal.

6.diagnosa 6 : Risiko tinggi gangguan integritas kulit yang berhubungan dengan tirah baring lama
Tujuan: Dalam waktu 2 x 24 jam, klien mampu mempertahankan keutuhan kulit.
Kriteria hasil: Klien man berpartisipasi terhadap pencegahan luka, mengetahui penyebab dan care pencegahan luka, tidak ada tanda-tanda kemerahan atau luka, kulit kering
Intervensi Rasionalisasi
Anjurkan untuk melakukan latihan ROM dan mobilisasi jika mungkin Meningkatkan aliran darah ke seluruh tubuh
Ubah posisi tiap 2 jam Menghindari tekanan dan meningkatkan aliran darah
Gunakan bantal air atau pengganjal yang lunak di bawah daerah-daerah (tulang) yang menonjol Menghindari tekanan yang berlebih pada daerah (tulang) yang menonjol
Lakukan masase pada daerah (tulang) yang menonjol yang barn mengalami tekanan pada waktu berubah posisi Menghindari kerusakan-kerusakan kapiler
Bersihkan dan keringkan kulit. Jagalah tenun tetap kering. Meningkatkan integritas kulit dan mengurangi resiko kelembapan kulit
Observasi terhadap eritema dan kepucatan. Palpasi area sekitar terhadap kehangatan dan Pelunakan jaringan setiap mengubah posisi. Hangat dan pelunakan adalah tanda kerusakan jaringan

Jaga kebersihan kulit, seminimal mungkin hindari trauma dan panas terhadap kulit Mempertahankan keutuhan kulit.

7.diagnosa 7; Kerusakan komunikasi verbal yang berhubungan dengan disatria, ataksia serebri sekunder dari kerusakan serebri
Tujuan: Dalam waktu 2 x 24 jam, klien menggunakan komunikasi yang efektif sesuai dengan kondisinya.
Kriteria hasil: Membuat teknik/metode komunikasi yang dapat dimengerti sesuai kebutuhan dan meningkatkan kemampuan berkomunikasi.
Intervensi Rasionalisasi
Kaji kemampuan klien untuk berkomunikasi Gangguan bicara terjadi pads banyak klien yang mengalami penyakit multipel skierosis. Bicara mereka yang lemah, monoton, halus, menuntut kesadaran berupaya untuk bicara dengan lambat, dengan penekanan perhatian pads spa yang mereka katakan.
Menentukan cara-cara komunikasi seperti
mempertahankan kontak mata, pertanyaan dengan jawaban ya/tidak, menggunakan kertas dan pensil/ bolpoin, gambar, atau papan tulis; bahasa isyarat, perjelas arti dan komunikasi yang disampaikan Mempertahankan kontak mats akan membuat klien tertarik selama komunikasi, jika klien dapat
menggerakkan kepala, mengedipkan mats, atau senang
dengan isyarat-isyarat sederhana, lebih baik guna pertanyaan ya/tidak.
Kemampuan menulis kadang-kadang melelahkan klien, selain itu dapat mengakibatkan frustasi dalam upaya memenuhi kebutuhan komunikasi. Keluarga dapat bekerja sama untuk membantu memenuhi kebutuhan klien.
Buatlah catatan di kantor perawatan tentang keadaan klien yang tak dapat berbicara Mengingatkan staf perawat untuk berespons dengan klien selama memberikan perawatan
Buat rekaman pembicaraan klien Rekam pembicaraan klien dalam pits kaset secara periodik, hal ini dibutuhkan dalam memantau perkembangan klien. Amplifier kecil membantu bila klien
mengalami kesulitan mendengar
Anjurkan keluarga/orang lain yang dekat dengan klien untuk berbicara dengan klien, memberikan informasi tentang keluarganya dan keadaan yang sedang terjadi Keluarga dapat merasakan akrab dengan klien, berada dekat klien selama berbicara. Pengalaman mi dapat membantu/ mempertahankan kontak nyata seperti merasakan kehadiran anggota keluarga yang dapat mengurangi perasaan kaku
Kolaborasi dengan ahli wicara bahasa Ahli terapi wicara bahasa dapat membantu dalam membentuk peningkatan latihan percakapan dan membantu petugas kesehatan untuk mengembangkan metode komunikasi untuk memenuhi kebutuhan klien.

8.DIAGNOSA 8 : Koping individu tidak efektif yang berhubungan dengan perubahan proses pikir dan disfungsi akibat perkembangan penyakit
Tujuan: Dalam waktu 2 x 24 jam, koping individu menjadi efektif.
Kriteria hasil: Klien mampu menyatakan atau mengkomunikasikan dengan orang terdekat tentang situasi dan perubahan yang sedang terjadi, mampu menyatakan Penerimaan diri terhadap situasi, mengakui dan menggabungkan perubahan ke dalam konsep diri dengan cara yang akurat tanpa harga diri yang negatif.
Intervensi Rasionalisasi
Mandiri
Kaji perubahan dari gangguan persepsi dan hubungan dengan derajat ketidakmampuan Menentukan bantuan individual dalam menyusun rencana perawatan atau pemilihan intervensi.
Dukung kemampuan koping Kepatuhan terhadap program latihan dan berjalan membantu memperlambat kemajuan penyakit. Dukungan dan sumber bantuan dapat diberikan melalui ketekunan berdoa dan penekanan keluar terhadap aktifitas dengan mempertahan-kan pastisipasi aktif.
Catat ketika klien menyatakan terpengaruh akan penyakitnya seperti sekarat atau mengingkari dan menyatakan inilah kematian Mendukung penolakan terhadap bagian tubuh atau perasaan negatif terhadap gambaran tubuh dan kemampuan yang menunjukkan kebutuhan dan intervensi serta dukungan emosional.
Pernyataan pengakuan terhadap pengolahan tubuh, mengingatkan kembali fakta kejadian tentang realistis bahwa masih dapat menggunakan sisi yang sakit dan belajar mengontrol sisi yang sehat Membantu klien untuk melihat bahwa perawat menerima kedua bagian sebagai bagian dari seluruh tubuh klien. Mengizinkan klien untuk merasakan adanya harapan dan mulai menerima situasi baru.
Bentuk program aktivitas pada keseluruhan hari. Bentuk program aktivitas pada keseluruhan hari untuk mencegah waktu tidur yang terlalu banyak yang dapat mengarah pada tidak adanya keinginan dan apatis.
Setiap upaya dibuat untuk mendukung klien keluar dari tugas-tugas yang termasuk koping dengan kebutuhan mereka setiap hari dan untuk membentuk klien mandiri.
Apa pun yang dilakukan hanya untuk keamanan sewaktu mencapai tujuan dengan meningkatnya kemampuan koping.
Anjurkan orang yang terdekat untuk mengizinkan klien melakukan sebanyak-banyaknya hal-hal untuk dirinya. Menghidupkan kembali perasaan kemandirian dan membantu perkembangan harga dini serta mempengaruhi proses rehabilitasi
Dukung perilaku atau usaha seperti peningkatan minat atau partisipasi dalam aktivitas rehabilitasi. Klien dapat beradaptasi terhadap perubahan dan pengertian tentang peran individu mass mendatang.
Monitor gangguan tidur peningkatan kesulitan konsentrasi, letargi, dan witdhrawal. Dapat mengindikasikan terjadinya depresi umumnya terjadi sebagai pengaruh dari stroke di mana memerlukan intervensi dan evaluasi lebih lanjut.
Diskusikan mengenai proses adaptasi klien bila mengalami disfungsi seksual bersama dengan pasangannya. Klien multipel skerosis dan pasangan mereka memperlihatkan masalah yang berhubungan dengan aktivitas seksual, yang meningkat bukan hanya pada kerusakan saraf sebagai konsekuensi langsung tetapi juga dari reaksi psikologis terhadap penyakit. Keadaan mudah lelah, konflik yang timbul dari ketergantungan dan depresi, emosi yang labil, hilangnya harga diri, dan perasaan makna dini menimbulkan masalah. Gangguan ereksi dan ejakulasi pada pria dan disfungsi orgasme, dan spasme adduktor otot paha pada wanita dapat membuat hubungan seksual menjadi sulit dan tidak mungkin dilakukan. Inkontinensia urine dan defekasi dan infeksi saluran kemih menambah kesulitan dalam melaksanakan aktivitas tersebut.
Kolaborasi
Dengan konselor seksual. Konselor seksual yang berpengalaman membantu masuk ke dalam fokus klien atau somber seksual pasangannya dan mendapatkan informasi yang relevan serta terapi pendukung. Berbagi dan mengomunikasikan perasaan, merencana-kan aktivitas seksual (tanpa kelelahan), melatih keinginan seksual yang berbeda dan mengungkapkan hilangnya keinginan dapat membuka lebih lugs kenikmatan akan pengalaman seksual.
Rujuk pada ahli neuropsikologi dan konseling bila ada indikasi. Dapat memfasilitasi perubahan peran yang panting untuk perkembangan perasaan. Kerja sama fisioterapi, psikoterapi, terapi obat-obatan, dan dukungan partisipasi kelompok dapat menolong mengurangi depresi yang juga sering muncul pada keadaan ini.

MULTIPLE SKLEROSIS

Oleh:

OLEH :

1. Didit novianto
2. Diyah Retno Palupi
3. Linda tri Jayanti

II B / SEMESTER 3
PROGRAM STUDI DIPLOMA III KEPERAWATAN
STIKES INSAN CENDEKIA MEDIKA
JOMBANG
2010
DAFTAR PUSTAKA

Muttaqin, arif. 2008. Asuhan Keperawatan Klien Dengan Gangguan Sistem persyarafan. Jakarta : salemba medika

Suzanne c.smeltzer& brenda G.bare. 2003.Buku ajar keperawatan medikal bedah Brunner& suddarth edisi 8 . Jakarta : penerbit buku kedokteran EGC

Fransisca B. Batticaca.2008. asuhan keperawatan dengan gangguan sistem persyarafan. Jakarta : salemba medika