PENYAKIT PARKINSON

DISUSUN OLEH :

1. ARIF TRI MARYANTO
2. SITI NUR WAHYUNI
3. SRI RAHAYU

DIPLOMA III KEPERAWATAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
“INSAN CENDEKIA MEDIKA“
JOMBANG
2010
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah, segala puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, karena atas segala rahmat dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan makalah kuliah ini.
Makalah ini disusun untuk mempelajari dan mengetahui tentang Penyakit Parkinson.
Selama menyelesaikan tugas ini kami telah mendapatkan banyak referensi dari berbagai media maupun dari buku-buku yang sudah kami pelajari. untuk mengetahui tentang hal ini.
Kami menyadari bahwa Makalah ini belum sempurna, tetapi kami berharap, ini dapat memberikan pengetahuan yang berarti dan dapat menambah wawasan bagi kita semua..

Jombang, 22 Oktober 2010

Penyusun

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Penyakit Parkinson adalah suatu penyakit degeneratif pada sistem saraf (neurodegenerative) yang bersifat progressive, ditandai dengan ketidakteraturan pergerakan (movement disorder), tremor pada saat istirahat, kesulitan pada saat memulai pergerakan, dan kekakuan otot.
Pada penyakit Parkinson, sel-sel saraf pada ganglia basalis mengalami kemunduran sehingga pembentukan dopamin berkurang dan hubungan dengan sel saraf dan otot lainnya juga lebih sedikit. Penyebab dari kemunduran sel saraf dan berkurangnya dopamin biasanya tidak diketahui. Tampaknya faktor genetik tidak memegang peran utama, meskipun penyakit ini cenderung diturunkan.
B.Tujuan
1. Untuk memahami definisi, epidemiologi, etiologi, patogenesis, gambaran klinis, diagnosis, penatalaksanaan dan Asuhan keperawatan pada Penyakit Parkinson.
2. Meningkatkan kemampuan dalam penulisan asuhan keperawan.

PEMBAHASAN

A. Definisi
Penyakit Parkinson meruakan suatu gangguan neurologist progresif yang mengenai pusat otak yang bertanggung jawab untuk mengontrol dan mengatur gerakan.Karakteristik yang muncul berupa bradikinesia (perlambatan gerakan),tremor,dan kekakuan otot.

B. Penyebab
Penyakit Parkinson belum di ketahui penyebabnya atau ideopatik.Parkinsonisme ideopatik adalah penyakit Parkinson atau paralysis agitans.Merupakan suatu penyakit progresif yang menyerang usia pertengahan atau lanjut.Tidak ditemukan sebab genetik yang jelas dan tidak ada pengobatan yang dapat menyembuhkannya.

C. Patofisiologis
Pada penyakit Parkinson, sel-sel saraf pada ganglia basalis mengalami kemunduran sehingga pembentukan dopamin berkurang dan hubungan dengan sel saraf dan otot lainnya juga lebih sedikit. Penyebab dari kemunduran sel saraf dan berkurangnya dopamin biasanya tidak diketahui. Tampaknya faktor genetik tidak memegang peran utama, meskipun penyakit ini cenderung diturunkan.
Penyakit Parkinson dimulai secara samar-samar dan berkembang secara perlahan. Pada banyak penderita, pada mulanya Penyakit Parkinson muncul sebagai tremor (gemetar) tangan ketika sedang beristirahat, tremor akan berkurang jika tangan digerakkan secara sengaja dan menghilang selama tidur. Stres emosional atau kelelahan bisa memperberat tremor. Pada awalnya tremor terjadi pada satu tangan, akhirnya akan mengenai tangan lainnya, lengan dan tungkai. Tremor juga akan mengenai rahang, lidah, kening dan kelopak mata.

D. Manifestasi Klinis
Manifestasi utama penyakit Parkinson adalah gangguan gerakan,kaku otot,tremor menyeluruh,kelemahan otot,dan hilangnya refleks postural. Tanda awal meliputi kaku ekstermitas dan menjadi kaku pada bentuk semua gerakan. Keadaan ini meningkat bila asien sedang berkonsentrasi atau merasa cemas dan muncul pada saat pasien istirahat.
4 Tanda dan gejala utama Penyakit Parkinson:
1. Menggeletar (pada jari, tangan, kaki, rahang dan / atau muka)
2. Kaku pada anggota badan (tangan, kaki dan / atau tubuh badan – Rigidity)
3. Pergerakan badan yang perlahan (Bradykinesia)
4. Masalah ketidakseimbangan postur dan koordinasi badan yang dapat mengakibatkan jatuh.
E. Penatalaksanaan Medis
Penatalaksanaan medis dapat dilakukan dengan medikamentosa seperti:
1. Antikolinergik untuk mengurangi transmisi kolinergik yang berlebihan ketika kekurangan dopamin.
2. Levodopa, merupakan prekursor dopamine, dikombinasi dengan karbidopa, inhibitor dekarboksilat, untuk membantu pengurangan L-dopa di dalam darah dan memperbaiki otak.
3. Bromokiptin, agonis dopamine yang mengaktifkan respons dopamine di dalam otak.
4. Amantidin yang dapat meningkatkan pecahan dopamine di dalam otak.
5. Menggunakan monoamine oksidase inhibitor seperti deprenil untuk menunda serangan ketidakmampuan dan kebutuhan terapi levodopa.

F. WEB OF CAUTION ( WOC )
Factor predisposisi lesi disubstansial nigra :Usia dan asteriosklerotis,post-ensefalitis,Induksi obat,dan keracunan logam berat.
dopamine menipis dalam substansia nigra dan korpus statum

Kehilangan kelola dari substansi nigra

Globus palidus yang mengeluarkan impuls yang normal

Impuls globus palidus ini tidak melakukan inhibisi terhadap korteks piramidalis dan extrapiramidalis

Kerusakan control gerakan volunter yang memiliki ketangkasan sesuai dan gerakan otomatis

Manifestasi otonom
GangguanS.III
Aliran darah serebral regional menurun
Gangguan S.VIII
Tremor ritmik
bradikinesia

Gangguan kontraksi
Otot-otot bola mata
Rigiditas deserebrasi

Berkeringat,kulit berminyak
Sering dermatitis,rasa lelah
Berlebihan dan otot terasa
Nyeri,hipotensi postural,
Penurunan kemampuan
Batuk efektif
Manifestasi psikiatrik
Perubahan wajah
dan
Sikap tubuh

Perubahan gaya berjalan,
Kekuatan dalam
Beraktifitas.

Gangguan konvergensi
Perubahan kepribadian,
Psikosis,dimensia,
Dan konfusi akut.

Hambatan mobolitas fisik

Gangguan citra diri

Pandangan kabur

Penurunan aktivitas fisik umum

a. Resiko tinggi
kebersihan jalan
nafas tidak efektif,
b.Resiko penurunan
perfusi perifer
c. nyeri otot
d. gangguan pemenuhan ADL
Kognitif menurun,
Presepsi menurun,
Akut menurun.

Perubahan persepsi
Sensorik visual
Resiko komstipasi

Gangguan eliminasi alvi

-Kerusakan komunikasi
Verbbal
-Perubahan proses
Pikir
-Koping individu
Tidak efektif

ASUHAN KEPERAWATAN

A. Pengakajian
Pengumpulan data subyektif dan obyektif pada klien dengan gangguan sistem persyarafan meliputi anamnesis riwayat penyakit,pemeriksaan fisik,pemeriksaan diagnostik, dan pengakajian psikososial.

1. Anamnesis
Identitas klien lengkap
Keluhan utama yang sering menjadi alasan klien untuk meminta pertolongan kesehatan adalah gangguan gerakan,kaku otot,tremor menyeluruh,kelemahan otot dan hilangnya refleks postural.
2. Riwayat Penyakit saat Ini
Pada anamnesis,sering klien mengeluhkan adanya tremor pada salah satu tangan dan lengan,kemudian ke bagian yang lain dan akhirnya bagian kepala,walaupun tremor ini tetap unilateral.
3. Riwayat Penyakit Dahulu
Pengkajian yang dilakukan adalah dengan mengajukan pertanyaan tentang adanya riwayat hipertensi,diabetes melitus,penyakit jantung,anemia,pengobatan obat-obat antikoagulan,aspirin,vasodilator,penggunaan obat-obat antikolinergik dalam jangka waktu yang lama.
4. Riwayat Penyakit Keluarga
Walaupun tidak di temukan adanya hubungan penyakit parkinson dengan sebab genetik yang jelas,perawat perlu melakukan pengkajian riwayat penyakit pada keluarga.
6. Pengkajian Psiko-sosio-spiritual
Pengkajian mekanisme koping yang digunakan klien perlu dilakukan untuk menilai respon emosi klien terhadap penyakit yang di deritanya.
7. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik sebaiknya dilakukan per sistem (B1-B6) dan terarah dengan fokus pemeriksaan fisik pada pemeriksaan B3 dan di hubungkan dengan keluhan klien.

8. Keadaan Umum
Klien dengan penyakit parkinson umumnya tidak memiliki penurunan kesadaran.Adanya perubahan pada tanda-tanda vital,yaitu bradikardi,hipotensi dan penurunan frekuensi pernapasan.

B. Diagnosa Keperawatan

1. Hambatan mobilitas fisik yang berhubungan dengan kekakuan dan kelemahan otot.
2. Defisit perawatan diri yang berhubungan dengan kelemahan neuromuscular,menurunnya kekuatan,kehilamgan control/koordinasi.
3. Gangguan eliminasi alvi (konstipasi) yang berhubungan dengan medikasi dan penurunan aktivasi.
4. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan tremor,pelambatan dalam proses makan,kesulitan mengunyah,dan menelan.
5. Hambatan komunikasi verbal yang berhubungan dengan penurunan volume bicara,pelambatan bicara,ketidak mampuan menggerakkan otot-otot wajah.
6. Koping individu tidak efektif yang berhungan dengan depresi dan disfungsi karena perkembangan penyakit.
7. Defisit pengetahuan yang berhubungan dengan sumber informasi proedur perawatan rumah yang tidak adekuat.

C. Intervensi Keperawatan

1. Hambatan mobilitas fisik yang berhubungan dengan kekakuan dan kelemahan otot.

Tujuan : Dalam waktu 2 x 24 jam,klien mampu melaksanakan aktivitas fisik sesuai dengan kemampuannya.
Kriteria hasil : Klien dapat ikut serta dalam program latihan,tidak terjadi kontraktur sendi,bertambahnya kekuatan otot,klien menunjukkan tindakan untuk meningkatkan mobilitas.
INTERVENSI RASIONAL
Kaji mobilitas yang ada dan observasi peningkatan kerusakan.Kaji secara teratur fungsi motorik. Mengetahui tingkat kemampuan klien dalam melakukan aktivitas.
Lakukan program latihan yang meningkatkan kekuatan otot. Meningkatkan koordinasi dan ketangkasan,menurunkan kekuatan otot dan mencegah kontraktur bila otot tidak di gunakan.
Lakukan latihan postural. Latihan postural untuk melawan kecenderungan kepala dan leher tertarik ke depan dan ke bawah.
Ajarkan teknik berjalan khusus :
– Klien di anjurkan untuk latihan berjalan dengan di iringi musik marching band atau lagu karena hal ini memberikan rangsangan sensorik.
– Melakukan periode istirahat yang sering untuk membantu pencegahan frustasi dan kelelahan. Teknik berjalan kusus dapat juga dipelajari untuk mengimbangi gaya berjalan menyeret dan kecenderungan tubuh condong ke depan.
Anjurkan mandi hangat dan masase otot. Mandi hangat dan masase membantu otot-otot rileks saat melakukan aktivitas pasif dan aktif dan mengurangi nyeri otot akibat spasme yang mengakibatkan kekuatan.
Bantu klien melakukan latihan ROM,perawatan diri sesuai toleransi. Untuk memelihara fleksibilitas sendi sesuai kemampuan.
Kolaborasi dengan ahli fisioterapi untuk latihan fisik klien. Meningkatkan kemampuan dalam mobilasasi ekstremitas dapat ditingkatkan dengan latihan fisik oleh tim fisioterapis.
2. Gangguan eliminasi alvi (konstipasi) yang berhubungan dengan medikasi dan penurunan aktivasi.
Tujuan : Dalam waktu 2 x 24 jam,kebutuhan eliminasi alvi terpenuhi.
Kriteria hasil : Klien dapat defekasi secara spontan dan lancer tanpa menggunakan obat,konsistensi feses lembek,tidak teraba massa pada colon,bising usus normal ( 15-30 x/mnt )
INTERVENSI RASIONAL
Monitor adanya konstipasi. Klien Parkinson mempunyai masalah konstipasi berat.Faktor-faktor yang menyebabkan kondisi ini adalah melemahnya otot-otot yang di gunakan dalam defekasi,kurangnya latihan,tidak adekuatnya asupan cairan,dan penurunan aktifitas system saraf otonom dan obat-obatan di gunakan untuk mengobati penyakit,juga menghambat sekresi normal usus.
Berikan penjelasan pada klien dan keluarga tentang penyebab konstipasi. Klien dan keluarga akan mengerti tentang penyebab konstipasi.
Modifikasi defekasi yang teratur.Anjurkan pada klien untuk makan makanan yang mengandung serat. Defekasi yang teratur dan rutin dapat membangun semanngat klien untuk mengikuti pola yang teratur,sadar untuk meningkatkan asupan cairan dan makan makanan yang mengandung serat.Diet seimbang tinggi kandungan serat merangsang peristaltic dan eliminasi regular.
Atur posisi duduk toilet. Dudukan toilet di tinggikan untuk memudahkan aktifitas toileting karena klien sulit bergerak dari posisi berdiri ke posisi duduk.
Bila klien mampu minum,berikan asupan cairan yang cukup ( 2 liter/hr ).Jika tidak ada kontra indikasi. Asupan cairan adekuat membantu mempertahankan konsistensi feses yang sesuai pada usus dan membantu eliminasi regular.
Kolaborasi dengan tim dokter dalam pemberian pelunak feses. Pelunak feses meningkatkan efisiensi pembahasan air pada usus yang melunakkan massa feses dan membantu eliminasi.

3. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan tremor,pelambatan dalam proses makan,kesulitan mengunyah,dan menelan
Tujuan : Dalam waktu 3 x 24 jam kebutuhan nutrisi klien terpenuhi.
Kriteria hasil : Mengerti tentang pentingnya nutrisi bagi tubuh,memperlihatkan kenaikan berat badan sesuai dengan hasil pemeriksaan laboratorium.
INTERVENSI RASIONAL
Evaluasi kemampuan makan klien. Klien mengalami kesulitan dalam mempertahankan berat badan mereka.mulut mereka kering akibat obat-obatan dan mengalami kesulitan mengunyah dan menelan.
Klien berisiko mengalami aspirasi akibat penurunan refleks batuk.
Observasi atau timbang berat badan jika memungkinkan. Tanda kehilangan berat badan ( 7-10 %) dan kekurangan asupan nutrisi.Menunjang terjadinya katabolisme,kandungan glikogen dalam otot,dan kepekaan terhadap pemasangan ventilator.
Manajemen mencapai kemampuan menelan :
1. gangguan menelan di ebabkan oleh tremor pada lidah,ragu ragu dalam memulai menelan,keulitan dalam membentuk makanan dalam bentuk bolus.
2. Makanan setengah padat dengan sedikit air memudahkan untuk menelan.
3. Klien di anjurkan untuk menelan secara berurutan.

4. Klien di ajarkan untuk meletakkan makanan di atas lidah,menutup bibir dan gigi,dan menelan.
5. Klien di anjurkan untuk mengunyah pertama kali pada satu sisi mulut dan kemudian ke sisi lain.
6. Untuk mengontrol air liur,klien di anjurkan untuk menahan kepala tetap tegak dan membuat keadaan sadar untuk menelan.
7. Masase otot wajah dan leher sebelum makan dapat membantu.
8. Berikan makanan kecil dan lunak. Meningkatkan kemampuan klien dalam menelan dan dapat membantu pemenuhan nutrisi klien melalui oral.
Tujuan lain adalah mencegah terjadinya kelelahan,memudahkan masuknya makanan,dan mencegah gangguan pada lambung.
Monitor memakai alat Bantu. Pemanasan elektrik di gunakan untuk menjaga makanan tetap hangat dan klien di ijinkan untuk istirahat selama waktu yang di tetapkan untuk makan,alat alat kusus juga membantu makan.
Kaji fungsi system ke gastrointestinal meliputi suara bising usus,catat terjadinya perubahan di dalam lambung seperti mual,muntah.Observasi perubahan pergerakan usus misalnya diare,konstipasi. Fungsi system gastrointestinal sangat penting untuk asupan makanan.Ventilator dapat menyebabkan kembung pada lambung dan perdarahan lambung.
Anjurkan pemberian caiaran 2500 cc/hr selama tidak terjadi gangguan jantung. Mencegah terjadinya dehidrasi akibat penggunaan ventilator selama klien tidak sadar dann mencegah terjadinya konstipasi.
Lakukuan pemeriksaan laboratorium yang di indikasikan,seperti serum,trasferin,BUN/kreatinin dan glukosa. Memberikan informasi yang tepat tentang keadaan nutrisi yang di butuhkan klien.

PENUTUP

A. Kesimpulan

Penyakit Parkinson adalah suatu penyakit degeneratif pada sistem saraf (neurodegenerative) yang bersifat progressive, ditandai dengan ketidakteraturan pergerakan (movement disorder), tremor pada saat istirahat, kesulitan pada saat memulai pergerakan, dan kekakuan otot.Penyebab pasti penyakit Parkinson masih belum diketahuii, meskipun penelitian mengarah pada kombinasi faktor genetik dan lingkungan
Penderita Penyakit Parkinson mengalami kesulitan dalam memulai suatu pergerakan dan terjadi kekakuan otot. Jika lengan bawah ditekuk ke belakang atau diluruskan oleh orang lain, maka gerakannya terasa kaku. Kekakuan dan imobilitas bisa menyebabkan sakit otot dan kelelahan. Kekakuan dan kesulitan dalam memulai suatu pergerakan bisa menyebabkan berbagai kesulitan.

B. Saran

1. Berikan penjelasan yang jelas kepada pasien tentang penyakitnya dan untuk mencegah terjangkitnya penyakit Parkinson dan mempercepat penyembuhan.
2. Penatalaksanaan yang efektif dan efisien pada pasien untuk mendapatkan hasil yang maksimal dan mencegah terjadinya komplikasi.

DAFTAR PUSTAKA

Bare , Smeltzer. 2002. Buku Ajar Asuhan Keperawatan. Jakarta : EGC.
Price, Sylvia.1999.Buku Ajar Asuhan Keperawatan. Jakarta : EGC
Priguna Sidharta,Jakarta : Dian Rakyat, 1985
http://www.Scribd.com
http://www.google.com