ASUHAN KEPERAWATAN
TUMOR OTAK

Disusun Oleh
1. Rio Maulana
2. Rohmatul Dwi Sasmita
3. Siti Mutaharoh

PROGRAM STUDI D3 KEPERAWATAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
INSAN CENDEKIA MEDIKA
JOMBANG
2010
KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Kami tim penulis makalah yang berjudul Asuhan Keperawatan Tumor Otak mengucapkan puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmat dan karunia-Nya kita dapat menyelesaikan makalah ini.
Makalah ini disajikan dalam bentuk penjelasan (Definisi), etiologi, patofisiologi, manifestasi klinis, klasifikasi, dan penatalaksanaan serta asuhan keperawatan pada klien yang menderita tumor otak.
Kami menyadari bahwa dengan menyusun atau menulis makalah ini masih banyak kekuranganya, kritik dan saran kami harapkan dari teman-teman dan Dosen pembimbing kami.
Semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua dan bisa mengembangkan pengetahuan kita tentang Asuhan Keperawatan Tumor Otak.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Jombang, Oktober 2010

Tim Penulis

DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL i
KATA PENGANTAR ii
DAFTAR ISI iii
BAB I PENDAHULUAN 1
A. Latar Belakang 1
B. Tujuan 1
BAB II PEMBAHASAN 2
A. Pengertian 2
B. Etiologi 2
C. Klasifikasi 4
D. Patofisiologi 5
E. Manifestasi Klinis 9
F. Pemeriksaan Diagnostik 10
G. Penatalaksanaan 11
BAB III ASUHAN KEPERAWATAN 14
A. Pengkajian 14
B. Diagnosa Keperawatan 17
C. Rencana Intervensi 17
BAB IV PENUTUP 25
A. Kesimpulan 25
B. Saran 25
DAFTAR PUSTAKA 26

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Otak merupakan organ penting bagi kehidupan manusia yang terletak di dalam rongga kranium. Berat otak manusia sekitar 1400 gram dan tersusun oleh kurang lebih 100 triliun neuron. Otak terdiri dari empat bagian besar yaitu serebrum (otak besar), serebelum (otak kecil), brainstein (batang otak) dan diensefalon. Otak menerima 17 % curah jantung dan menggunakan 20 % konsumsi oksigen total tubuh manusia untuk metabolisme aerobiknya. Otak diperdarahi oleh 2 pasang arteri yaitu arteri karotis interna dan arteri vertebralis. Dalam rongga kranium, keempat arteri ini saling berhubungan dan membentuk sistem anastomosis, yaitu sirkulus Willis.
Sebagai bagian dari organ tubuh manusia, otak dapat mengalami gangguan yang dapat diakibatkan karena berbagai penyebab diantaranya tumor. Klien yang menderita tumor otak akan mengalami gejala dan defisit neurologi yang tergantung histologi, tipe, lokasi dan cara pertumbuhan tumor. Diagnosa awal dari tumor sangat penting untuk mencegah kerusakan neurologis secara permanen.
Melihat fenomena di atas, tumor otak merupakan penyakit yang menjadi momok bagi manusia. Orang yang menderita tumor otak sering tidak menyadari bahwa dia terkena tumor otak. Tiba-tiba saja penderita merasakan dan mengalami nyeri kepala, kelainan pada syarafnya, pandangan kabur dan lain sebagainya tergantung bagian otak mana yang terkena. Oleh karena itu penting bagi perawat untuk mempelajari patofisiologi, manifestasi klinis, prosedur diagnostik dan asuhan keperawatan yang komprehensif pada klien tumor otak beserta keluarganya.
B. Tujuan
Tujuan penulisan laporan pendahuluan ini adalah:
a. Mengetahui dan mempelajari lebih dalam mengenai tumor otak.
b. Mengetahui tata laksana dan asuhan keperawatan pada klien tumor otak.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian
Tumor ialah Istilah umum yang mencakup setiap pertumbuhan benigna (jinak) dalam setiap bagian tubuh. Pertmbuhan ini tidak bertujuan, bersifat parasit dan berkembang dengan mengorbankan manusia yang menjadi hospesnya. (Sue Hinchliff, kamusKeperawatan,1997).
Tumor otak adalah suatu pertumbuhan jaringan yang abnormal di dalam otak. Yang terdiri atas Tumor otak benigna dan maligna. Tumor otak benigna adalah pertumbuhan jaringan abnormal di dalam otak, tetapi tidak ganas, sedangkan tumor otak maligna adalah kanker di dalam otak yang berpotensi menyusup dan menghancurkan jaringan di sebelahnya atau yang telah menyebar (metastase) ke otak dari bagian tubuh lainnya melalui aliran darah
Beberapa ahli memberikan definisi mengenai tumor itak (tumor cerebri) sebagai berikut :
 Tumor cerebri / tumor otak adalah lesi intracranial setempat yang menempati ruang didalam tulang tengkorak (Baughman, Piaree, 2000).
 Tumor cerebri adalah lesi desak ruang jinak maupun ganas, yang tumbuh di otak, meningen dan tengkorak (Arif Muttaqin,2008)
 Tumor otak adalah sebuah lesi terletak pada intrakranial yang menempati ruang di dalam tengkorak (Brunner & Suddarth, 2002).
 Tumor otak adalah neoplasma yang berasal dari sel saraf, neuro epithelium, sel glia, saraf kranial, pembuluh darah, kelenjar pineal, hipofisis (Donna L. Wong, 2002).
 Tumor otak adalah tumor jinak pada selaput otak atau salah satu otak (Rosa Mariono, MA, Standart asuhan Keperawatan St. Carolus, 2000).
B. Etiologi
Penyebab tumor hingga saat ini masih belum diketahui secara pasti, walaupun telah banyak penyelidikan yang dilakukan. Adapun faktor-faktor yang perlu ditinjau, yaitu :
1. Herediter
Riwayat tumor otak dalam satu anggota keluarga jarang ditemukan kecuali pada meningioma, astrositoma dan neurofibroma dapat dijumpai pada anggota-anggota sekeluarga. Sklerosis tuberose atau penyakit Sturge-Weber yang dapat dianggap sebagai manifestasi pertumbuhan baru, memperlihatkan faktor familial yang jelas. Selain jenis-jenis neoplasma tersebut tidak ada bukti-buakti yang kuat untuk memikirkan adanya faktor-faktor hereditas yang kuat pada neoplasma.
2. Sisa-sisa Sel Embrional (Embryonic Cell Rest)
Bangunan-bangunan embrional berkembang menjadi bangunan-bangunan yang mempunyai morfologi dan fungsi yang terintegrasi dalam tubuh. Tetapi ada kalanya sebagian dari bangunan embrional tertinggal dalam tubuh, menjadi ganas dan merusak bangunan di sekitarnya. Perkembangan abnormal itu dapat terjadi pada kraniofaringioma, teratoma intrakranial dan kordoma.
3. Radiasi
Jaringan dalam sistem saraf pusat peka terhadap radiasi dan dapat mengalami perubahan degenerasi, namun belum ada bukti radiasi dapat memicu terjadinya suatu glioma. Pernah dilaporkan bahwa meningioma terjadi setelah timbulnya suatu radiasi.
4. Virus
Banyak penelitian tentang inokulasi virus pada binatang kecil dan besar yang dilakukan dengan maksud untuk mengetahui peran infeksi virus dalam proses terjadinya neoplasma, tetapi hingga saat ini belum ditemukan hubungan antara infeksi virus dengan perkembangan tumor pada sistem saraf pusat.
5. Substansi-substansi Karsinogenik
Penyelidikan tentang substansi karsinogen sudah lama dan luas dilakukan. Kini telah diakui bahwa ada substansi yang karsinogenik seperti methylcholanthrone, nitroso-ethyl-urea. Ini berdasarkan percobaan yang dilakukan pada hewan.
Sedangkan menurut beberapa ahli tumor otak dapat terjadi akibat proses primer dan sekunder.
Primer:
1. Gangguan pada otak
2. Gangguan imunologi tubuh
3. Gangguan fungsi hipofisis
4. Virus
5. Toksin
Sekunder: Metastase tumor lain, biasanya tumor paru dan payudara.
C. Klasifikasi
Tumor otak ada bermacam-macam menurut Price, Sylvia Ardeson, 2000, yaitu :
1. Glioma adalah tumor jaringan glia (jaringan penunjang dalam system saraf pusat (misalnya euroligis), bertanggung jawab atas kira-kira 40 sampai 50 % tumor otak.
2. Tumor meningen (meningioma) merupakan tumor asal meningen, sel-sel mesofel dan sel-sel jaringan penyambung araknoid dan dura dari paling penting.
3. Tumor hipofisis berasal dari sel-sel kromofob, eosinofil atau basofil dari hipofisis anterior
4. Tumor saraf pendengaran (neurilemoma) merupakan 3 sampai 10 % tumor intrakranial. Tumor ini berasal dari sel schawan selubung saraf.
5. Tumor metastatis adalah lesi-lesi metastasis merupakan kira-kira 5-10 % dari seluruh tumor otak dan dapat berasal dari sembarang tempat primer.
6. Tumor pembuluh darah antara lain :
a. Angioma adalah pembesaran massa pada pembuluh darah abnormal yang didapat didalam atau diluar daerah otak. Tumor ini diderita sejak lahir yang lambat laun membesar.
b. Hemangiomablastoma adalah neoplasma yang terdiri dari unsur-unsur vaskuler embriologis yang paling sering dijumpai dalam serebelum
c. Sindrom non hippel-lindan adalah gabungan antara hemagioblastoma serebelum, angiosmatosis retina dan kista ginjal serta pancreas.
Tumor congenital (gangguan perkembangan). Tumor kongenital yang jarang antara lain kondoma, terdiri atas sel-sel yang berasal dari sisa-sisa horokoida embrional dan dijumpai pada dasar tengkorak.
Sedangkan berdasarkan jenis tumor dapat dibagi menjadi :
1. Jinak
 Acoustic neuroma
 Meningioma
 Pituitary adenoma
 Astrocytoma (grade I)
2. Malignant
 Astrocytoma (grade 2,3,4)
 Oligodendroglioma
 Apendymoma
3. Berdasarkan lokasi
1) Tumor intradural
Ekstramedular
a. Cleurofibroma
b. Meningioma
Intramedular
a. Apendymoma
b. Astrocytoma
c. Oligodendroglioma
d. Hemangioblastoma
2) Tumor ekstradural
Merupakan metastase dari lesi primer, biasanya pada payudara, prostal, tiroid, paru – paru, ginjal dan lambung.
D. Patofisiologi
Tumor otak terjadi karena adanya proliferasi atau pertumbuhan sel abnormal secara sangat cepat pada daerah central nervus system (CNS). Sel ini akan terus berkembang mendesak jaringan otak yang sehat di sekitarnya, mengakibatkan terjadi gangguan neurologis (gangguan fokal akibat tumor dan peningkatan tekanan intrakranial). Tumor otak menyebabkan terjadi karena:
 Oedema otak Peningkatan massa Obstruksi cairan
 Otak cerebrospinal jadi meningkat
 Perubahan suplai Hidrosefalus
 Darah ke otak Kompensasi sehingga menyebabkan :
1. Vasokontriksi pemb.drh otak
2. Mempercepat absorpsi
 Cairan serebrospinalis meningkat & menyebabkan :
1. Nekrosis jaringan
2. Kehilangan fungsi Gagal secara akut
3. Kejang Peningkatan TIK Nyeri
 Perubahan perfusi jaringan otak yang memnyebabkan :
1. Nyeri kepala
2. Mual muntah proyektil Defisit knowledge
3. Hipertensi
4. Bradikardi
5. Kesadaran menurun
Tumor otak menyebabkan gangguan neurologik progresif. Gangguan neurologik pada tumor otak biasanya dianggap disebabkan oleh dua faktor : gangguan fokal disebabkan oleh tumor dan kenaikan tekanan intracranial.
Gangguan fokal terjadi apabila terdapat penekanan pada jaringan otak, dan infiltrasi atau invasi langsung pada parenkim otak dengan kerusakan jaringan neuron.
Perubahan suplai darah akibat tekanan yang ditimbulkan tumor yang bertumbuh menyebabkan nekrosis jaringan otak. Gangguan suplai darah arteri pada umumnya bermanifestasi sebagai kehilangan fungsi secara akut dan mungkin dapat dikacaukan dengan gangguan serebrovaskuler primer.
Serangan kejang sebagai gejala perunahan kepekaan neuron dihubungkan dengan kompesi invasi dan perubahan suplai darah ke jaringan otak. Beberapa tumor membentuk kista yang juga menekan parenkim otak sekitarnya sehingga memperberat ganggguan neurologist fokal.
Peningkatan tekanan intrakranial dapat diakibatkan oleh beberapa faktor sbb: Bertambahnya massa dalam tengkorak,terbentuknya edema sekitar tumor, dan perubahan sirkulasi cairan serebrospinal.
Beberapa tumor dapat menyebabkan perdarahan. Obstruksi vena dan edema yang disebabkan oleh kerusakan sawar darah otak, semuanya menimbulkan kenaikan volume intracranial dan meningkatkan tekanan intracranial. Obstruksi sirkulasi cairan serebrospinal dari ventrikel lateral ke ruangan subaraknoid menimbulkan hidrosefalus.
Peningkatan tekanan intracranial akan membahayakan jiwa. Mekanisme kompensasi memerlukan waktu lama untuk menjadi efektif dan oleh karena itu tak berguna apabila tekanan intrakranial timbul cepat.
Mekanisme kompensasi ini antara lain bekerja menurunkan volume darah intracranial, volume cairan serebrospinal, kandungan cairan intrasel dan mengurangi sel-sel parenkim, kenaikan tekanan yang tidak diobati mengakibatkan herniasi unkus atau serebelum yang timbul bilagirus medialis lobus temporalis bergeser ke inferior melalui insisura tentorial oleh massa dalam hemisfer otak. Herniasi menekan mesensenfalon, menyebabkan hilangnya kesadaran dan menekan saraf otak ketiga. Kompresi medula oblogata dan henti pernafasan terjadi dengan cepat.
Perubahan fisiologi lain terjadi akibat peningkatan intracranial yang cepat adalah bradikardia progresif, hipertensi sistemik (pelebaran tekanan nadi), dan gangguan pernafasan.

Patofisiologi

E. Manifestasi Klinis
1. Nyeri Kepala
Merupakan gejala awal pada 20% penderita dengan tumor otak yang kemudian berkembang menjadi 60%. Nyerinya tumpul dan intermitten. Nyeri kepala berat juga sering diperhebat oleh perubahan posisi, batuk, maneuver valsava dan aktivitas fisik. Muntah ditemukan bersama nyeri kepala pada 50% penderita. Nyeri kepala ipsilateral pada tumor supratentorial sebanyak 80 % dan terutama pada bagian frontal. Tumor pada fossa posterior memberikan nyeri alih ke oksiput dan leher.

2. Perubahan Status Mental
Gangguan konsentrasi, cepat lupa, perubahan kepribadian, perubahan mood dan berkurangnya inisiatif adalah gejala-gejala umum pada penderita dengan tumor lobus frontal atau temporal. Gejala ini bertambah buruk dan jika tidak ditangani dapat menyebabkan terjadinya somnolen hingga koma.
3. Seizure
Adalah gejala utama dari tumor yang perkembangannya lambat seperti astrositoma, oligodendroglioma dan meningioma. Paling sering terjadi pada tumor di lobus frontal baru kemudian tumor pada lobus parietal dan temporal.
4. Edema Papil
Gejala umum yang tidak berlangsung lama pada tumor otak, sebab dengan teknik neuroimaging tumor dapat segera dideteksi. Edema papil pada awalnya tidak menimbulkan gejala hilangnya kemampuan untuk melihat, tetapi edema papil yang berkelanjutan dapat menyebabkan perluasan bintik buta, penyempitan lapangan pandang perifer dan menyebabkan penglihatan kabur yang tidak menetap.
5. Muntah
Muntah sering mengindikasikan tumor yang luas dengan efek dari massa tumor tersebut juga mengindikasikan adanya pergeseran otak. Muntah berulang pada pagi dan malam hari, dimana muntah yang proyektil tanpa didahului mual menambah kecurigaan adanya massa intracranial.
6. Vertigo
Pasien merasakan pusing yang berputar dan mau jatuh.
F. Pemeriksaan Diagnostik
1. CT scan dan MRI
Memperlihatkan semua tumor intrakranial dan menjadi prosedur investigasi awal ketika penderita menunjukkan gejala yang progresif atau tanda-tanda penyakit otak yang difus atau fokal, atau salah satu tanda spesifik dari sindrom atau gejala-gejala tumor. Kadang sulit membedakan tumor dari abses ataupun proses lainnya.

2. Foto polos dada
Dilakukan untuk mengetahui apakah tumornya berasal dari suatu metastasis yang akan memberikan gambaran nodul tunggal ataupun multiple pada otak.
3. Pemeriksaan cairan serebrospinal
Dilakukan untuk melihat adanya sel-sel tumor dan juga marker tumor. Tetapi pemeriksaan ini tidak rutin dilakukan terutama pada pasien dengan massa di otak yang besar. Umumnya diagnosis histologik ditegakkan melalui pemeriksaan patologi anatomi, sebagai cara yang tepat untuk membedakan tumor dengan proses-proses infeksi (abses cerebri).
4. Biopsi stereotaktik
Dapat digunakan untuk mendiagnosis kedudukan tumor yang dalam dan untuk memberikan dasar-dasar pengobatan dan informasi prognosis.
5. Angiografi Serebral
Memberikan gambaran pembuluh darah serebral dan letak tumor serebral.
6. Elektroensefalogram (EEG)
Mendeteksi gelombang otak abnormalpada daerah yang ditempati tumor dan dapat memungkinkan untuk mengevaluasi lobus temporal pada waktu kejang.
G. Penatalaksanaan
Faktor -faktor Prognostik sebagai Pertimbangan Penatalaksanaan
a. Usia
b. General Health
c. Ukuran Tumor
d. Lokasi Tumor
e. Jenis Tumor
Untuk tumor otak ada tiga metode utama yang digunakan dalam penatalaksaannya, yaitu
a. Surgery
Terapi Pre-Surgery :
 Steroid
Menghilangkan swelling, contoh dexamethasone

 Anticonvulsant
Untuk mencegah dan mengontrol kejang, seperti carbamazepine
 Shunt
Digunakan untuk mengalirkan cairan cerebrospinal
Pembedahan merupakan pilihan utama untuk mengangkat tumor. Pembedahan pada tumor otak bertujuan utama untuk melakukan dekompresi dengan cara mereduksi efek massa sebagai upaya menyelamatkan nyawa serta memperoleh efek paliasi. Dengan pengambilan massa tumor sebanyak mungkin diharapkan pula jaringan hipoksik akan terikutserta sehingga akan diperoleh efek radiasi yang optimal. Diperolehnya banyak jaringan tumor akan memudahkan evaluasi histopatologik, sehingga diagnosis patologi anatomi diharapkan akan menjadi lebih sempurna. Namun pada tindakan pengangkatan tumor jarang sekali menghilangkan gejala-gelaja yang ada pada penderita.
b. Radiotherapy
Radioterapi merupakan salah satu modalitas penting dalam penatalaksanaan proses keganasan. Berbagai penelitian klinis telah membuktikan bahwa modalitas terapi pembedahan akan memberikan hasil yang lebih optimal jika diberikan kombinasi terapi dengan kemoterapi dan radioterapi.
Sebagian besar tumor otak bersifat radioresponsif (moderately sensitive), sehingga pada tumor dengan ukuran terbatas pemberian dosis tinggi radiasi diharapkan dapat mengeradikasi semua sel tumor. Namun demikian pemberian dosis ini dibatasi oleh toleransi jaringan sehat disekitarnya. Semakin dikit jaringan sehat yang terkena maka makin tinggi dosis yang diberikan. Guna menyiasati hal ini maka diperlukan metode serta teknik pemberian radiasi dengan tingkat presisi yang tinggi.
Glioma dapat diterapi dengan radioterapi yang diarahkan pada tumor sementara metastasis diterapi dengan radiasi seluruh otak. Radioterapi jyga digunakan dalam tata laksana beberapa tumor jinak, misalnya adenoma hipofisis.

c. Chemotherapy
Pada kemoterapi dapat menggunakan powerfull drugs, bisa menggunakan satu atau dikombinasikan. Tindakan ini dilakukan dengan tujuan untuk membunuh sel tumor pada klien. Diberikan secara oral, IV, atau bisa juga secara shunt. Tindakan ini diberikan dalam siklus, satu siklus terdiri dari treatment intensif dalam waktu yang singkat, diikuti waktu istirahat dan pemulihan. Saat siklus dua sampai empat telah lengkap dilakukan, pasien dianjurkan untuk istirahat dan dilihat apakah tumor berespon terhadap terapi yang dilakukan ataukah tidak.

BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN
A. Pengkajian
1. Data Demografi
Identitas pada klien yang harus diketahui diantaranya: nama, umur, agama, pendidikan, pekerjaan, suku/bangsa, alamat, jenis kelamin, status perkawinan, dan penanggung biaya.
2. Riwayat Sakit dan Kesehatan
a. Keluhan utama
Biasanya klien mengeluh nyeri kepala
b. Riwayat penyakit saat ini
Klien mengeluh nyeri kepala, muntah, papiledema, penurunan tingkat kesadaran, penurunan penglihatan atau penglihatan double, ketidakmampuan sensasi (parathesia atau anasthesia), hilangnya ketajaman atau diplopia.
c. Riwayat penyakit dahulu
Klien pernah mengalami pembedahan kepala
d. Riwayat penyakit keluarga
Adakah penyakit yang diderita oleh anggota keluarga yang mungkin ada hubungannya dengan penyakit klien sekarang, yaitu riwayat keluarga dengan tumor kepala.
e. Pengkajian psiko-sosio-spirituab
Perubahan kepribadian dan perilaku klien, perubahan mental, kesulitan mengambil keputusan, kecemasan dan ketakutan hospitalisasi, diagnostic test dan prosedur pembedahan, adanya perubahan peran.
3. Pemeriksaan Fisik ( ROS : Review of System )
Pemeriksaan fisik pada klien dengan tomor otak meliputi pemeriksaan fisik umum per system dari observasi keadaan umum, pemeriksaan tanda-tanda vital, B1 (breathing), B2 (Blood), B3 (Brain), B4 (Bladder), B5 (Bowel), dan B6 (Bone).

a. Pernafasan B1 (breath)
a) Bentuk dada : normal
b) Pola napas : tidak teratur
c) Suara napas : normal
d) Sesak napas : ya
e) Batuk : tidak
f) Retraksi otot bantu napas ; ya
g) Alat bantu pernapasan : ya (O2 2 lpm)
b. Kardiovaskular B2 (blood)
a) Irama jantung : irregular
b) Nyeri dada : tidak
c) Bunyi jantung ; normal
d) Akral : hangat
e) Nadi : Bradikardi
f) Tekanana darah Meningkat
c. Persyarafan B3 (brain)
a) Penglihatan (mata) : penurunan penglihatan, hilangnya ketajaman atau diplopia.
b) Pendengaran (telinga) : terganggu bila mengenai lobus temporal
c) Penciuman (hidung) : mengeluh bau yang tidak biasanya, pada lobus frontal
d) Pengecapan (lidah) :ketidakmampuan sensasi (parathesia atau anasthesia)
e) Afasia :kerusakan atau kehilangan fungsi bahasa, kemungkinan ekspresif atau kesulitan berkata-kata, reseotif atau berkata-kata komprehensif, maupun kombinasi dari keduanya.
f) Ekstremitas :kelemahan atau paraliysis genggaman tangan tidak seimbang, berkurangnya reflex tendon.
g) GCS : Skala yang digunakan untuk menilai tingkat kesadaran pasien, (apakah pasien dalam kondisi koma atau tidak) dengan menilai respon pasien terhadap rangsangan yang diberikan.
Hasil pemeriksaan dinyatakan dalam derajat (score) dengan rentang angka 1- 6 tergantung responnya yaitu :
Eye (respon membuka mata)
(4) : Spontan
(3) : Dengan rangsang suara (suruh pasien membuka mata).
(2) : Dengan rangsang nyeri (berikan rangsangan nyeri, misalnya menekan kuku jari)
(1) : Tidak ada respon
Verbal (respon verbal)
(5) : Orientasi baik
(4) : Bingung, berbicara mengacau ( sering bertanya berulang-ulang ) disorientasi tempat dan waktu.
(3) : Kata-kata saja (berbicara tidak jelas, tapi kata-kata masih jelas, namun tidak dalam satu kalimat. Misalnya “aduh…, bapak…”)
(2) : Suara tanpa arti (mengerang)
(1) : Tidak ada respon
Motor (respon motorik)
(6) : Mengikuti perintah
(5) : Melokalisir nyeri (menjangkau & menjauhkan stimulus saat diberi rangsang nyeri)
(4) : Withdraws (menghindar / menarik extremitas atau tubuh menjauhi stimulus saat diberi rangsang nyeri)
(3) : Flexi abnormal (tangan satu atau keduanya posisi kaku diatas dada & kaki extensi saat diberi rangsang nyeri).
(2) : Extensi abnormal (tangan satu atau keduanya extensi di sisi tubuh, dengan jari mengepal & kaki extensi saat diberi rangsang nyeri).
(1) : Tidak ada respon
d. Perkemihan B4 (bladder)
a) Kebersihan : bersih
b) Bentuk alat kelamin : normal
c) Uretra : normal
d) Produksi urin: normal
e. Pencernaan B5 (bowel)
a) Nafsu makan : menurun
b) Porsi makan : setengah
c) Mulut : bersih
d) Mukosa : lembap
f. Muskuloskeletal/integument B6 (bone)
a) Kemampuan pergerakan sendi : bebas
b) Kondisi tubuh: kelelahan
B. Diagnosa Keperawatan
1. Perubahan perfusi jaringan otak b/d kerusakan sirkulasi akibat penekanan oleh tumor.
2. Nyeri b/d peningkatan tekanan intrakranial.
3. Kurang pengetahuan mengenai kondisi dan kebutuhan pengobatan b/d ketidakmampuan mengenal informasi.
4. Nyeri akut b/d traksi dan pergeseran struktur peka-nyeri dalam rongga intrakranial.
5. Defisit perawatan diri yang b/d kelemahan neuromuskular, menurunnya kekuatan dan kesadaran, kehilangan kontrol otot/koordinasi.
6. Gangguan nutrisi: kurang dari kebutuhan yang b/d peningkatan pemakaian energi untuk metabolisme, asupan nutrisi yang kurang, mual, dan muntah.
7. Kecemasan yang b/d prognosis penyakit yang tidak jelas.
C. Rencana Intervensi
1. Perubahan perfusi jaringan otak b/d kerusakan sirkulasi akibat penekanan oleh tumor.
Data penunjang : perubahan tingkat kesadaran, kehilangan memori, perubahan respon sensorik/motorik, gelisah, perubahan tanda vital.
Tujuan : gangguan perfusi jaringan berkurang/hilang
Kriteria hasil : Tingkat kesadaran stabil atau ada perbaikan, tidak adan tanda-tanda peningaktan TIK.

Intervensi Rasional
• Pantau status neurologis secara teratur dan bandingkan dengan nilai standar.
• Pantau tanda vital tiap 4 jam.
• Pertahankan posisi netral atau posisi tengah, tinggikan kepala 200-300.
• Pantau ketat pemasukan dan pengeluaran cairan, turgor kulit dan keadaan membran mukosa.
• Bantu pasien untuk menghindari / membatasi batuk, muntah, pengeluaran feses yang dipaksakan / mengejan.
• Perhatikan adanya gelisah yang meningkat, peningkatan keluhan dan tingkah laku yang tidak sesuai lainnya.
o Mengkaji adanya perubahan pada tingkat kesadran dan potensial peningaktan TIK dan bermanfaat dalam menentukan okasi, perluasan dan perkembangan kerusakan SSP.
o Normalnya autoregulasi mempertahankan aliran darah ke otak yang stabil. Kehilanagn autoregulasi dapat mengikuti kerusakan vaskularisasi serebral lokal dan menyeluruh.
o Kepala yang miring pada salah satu sisi menekan vena jugularis dan menghambat aliran darah vena yang selanjutnya akan meningkatkan TIK.
o Bermanfaat sebagai indikator dari cairan total tubuh yang terintegrasi dengan perfusi jaringan. • Aktivitas ini akan meningkatkan tekanan intra toraks dan intra abdomen yang dapat meningkatkan TIK.
• Petunjuk non verbal ini mengindikasikan adanya penekanan TIK atau mennadakan adanya nyeri ketika pasien tidak dapat mengungkapkan keluhannya secara verb

2. Nyeri b/d peningkatan tekanan intrakranial.
Data penunjang: klien mengatakan nyeri, pucat pada wajah, gelisah, perilaku tidak terarah/hati – hati, insomnia, perubahan pola tidur.
Kriteria hasil: Klien melaporkan nyeri berkurang/terkontrol, klien menunjukkan perilaku untuk mengurangi kekambuhan.
Intervensi Rasional
• Teliti keluhan nyeri: intensitas, karakteristik, lokasi, lamanya, faktor yang memperburuk dan meredakan.
• Observasi adanya tanda-tanda nyeri non verbal seperti ekspresi wajah, gelisah, menangis/meringis, perubahan tanda vital.
• Instruksikan pasien/keluarga untuk melaporkan nyeri dengan segera jika nyeri timbul.
• Berikan kompres dingin pada kepala.
• Nyeri merupakan pengalaman subjektif dan harus dijelaskan oleh pasien. Identifikasi karakteristik nyeri dan faktor yang berhubungan merupakan suatu hal yang amat penting untuk memilih intervensi yang cocok dan untuk mengevaluasi keefektifan dari terapi yang diberikan.
• Merupakan indikator/derajat nyeri yang tidak langsung yang dialami • Pengenalan segera meningkatkan intervensi dini dan dapat mengurangi beratnya serangan.
• Meningkatkan rasa nyaman dengan menurunkan vasodilatasi.

3. Kurang pengetahuan mengenai kondisi dan kebutuhan pengobatan b/d ketidakmampuan mengenal informasi.
Data penunjang: Klien dan keluarga meminta informasi, ketidakakuratan mengikuti instruksi, perilaku yang tidak tepat.
Kriteria hasil: Klien/keluarga mengungkapkan pemahaman tentang kondisi dan pengobatan, memulai perubahan perilaku yang tepat.
Intervensi Rasional
• Diskusikan etiologi individual dari sakit kepala bila diketahui.
• Bantu pasien dalam mengidentifikasikan kemungkinan faktor predisposisi.
• Diskusikan mengenai pentingnya posisi/letak tubuh yang normal.
• Diskusikan tentang obat dan efek sampingnya.
• Mempengaruhi pemilihan terhadap penanganan dan berkembnag ke arah proses penyembuhan.
• Menghindari/membatasi faktor-faktor yang sering kali dapat mencegah berulangnya serangan. • Menurunkan regangan pada otot daerah leher dan lengan dan dapat menghilangkan ketegangan dari tubuh dengan sangat berarti.
• Pasien mungkin menjadi sangat ketergantungan terhadap obat dan tidak mengenali bentuk terapi yang lain.

4. Nyeri akut b/d traksi dan pergeseran struktur peka-nyeri dalam rongga intrakranial.
Tujuan: Nyeri berkurang/hilang atau teradaptasi.
Kriteria hasil : Secara subjektif melaporkan nyeri berkurang atau dapat diadaptasi, dapat mengindentifikasi aktivitas yang meningkatkan atau menurunkan nyeri, klien tidak gelisah, skala nyeri 1 (0-4).
Intervensi Rasional
• Jelaskan dan bantu klien dengan tindakan pereda nyeri nonfarmakologi dan non-invasit.
• Ajarkan Relaksasi:
Teknik-teknik untuk menurunkan ketegangan otot rangka, yang dapat menurunkan intensitas nyeri dan juga tingkatkan relaksasi masase,
• Ajarkan metode distraksi selama nyeri akut
• Berikan kesempatan waktu istirahat bila terasa nyeri dan berikan pnsisi yang nyaman misalnya waktu tidur, belakangnya dipacang bantal kecil.
• Tingkatkan pengetahuan tentang penyebab nyeri dan menghubungkan berapa lama nyeri akan berlangsung
• Observasi tingkat nyeri dan respons motorik kiien, 30 menit setelah pemberian obat analgesik untuk mengkaji efektivitasnya. Serta setiap 1-2 jam setelah tindakan perawatan selama 1-2 hari.
• Kolaborasi dengan dokter, pemberian analgesik • Pendekatan dengan mengguna-kan relaksasi dan non-farmakologi lainnya telah menunjukkan keefektifan dalam mengurangi nyeri.
• Akan melancarkan peredaran dash sehingga kebutuhan O2 jaringan akan terpenuhi dan dapat akan mengurangi nyerinya.
• Mengalihkan perhatian nyerinya ke hal-hal yang menyenangkan.
• Istirahat akan merelaksasi semua jaringan sehingga akan meningkatkan kenyamanan.
• Pengetahuan yang akan dirasakan membantu mengurangi nyerinya. Dan dapat membantu mengembangkan kepatuhan klien terhadap rencana terapeutik.
• Pengkajian yang optimal akan memberikan perawat data yang objektif untuk mencegah kemungkinan komplikasi dan melakukan intervensi yang tepat.
• Analgesik memblok lintasan nyeri sehingga nyeri akan berkurang.

5. Defisit perawatan diri yang b/d kelemahan neuromuskular, menurunnya kekuatan dan kesadaran, kehilangan kontrol otot/koordinasi.
Tujuan : Klien dapat menunjukkan perubahan gaya hidup untuk kebutuhan merawat diri, klien mampu melakukan aktivitas perawatan dini sesuai dengan tingkat kemampuan, mengidentifikasi personal/masyarakat yang dapat membantu.
Intervensi Rasional
• Kaji kemampuan dan tingkat penurunan dalam melakukan ADL.
• Hindari apa yang tidak dapat dilakukan klien dan bantu bila perlu.
• Menyadarkan tingkah laku/sugesti tindakan pada perlindungan kelemahan. Pertahankan support pola pikir, izinkan klien melakukan tugas, beri umpan balik positif untuk usahanya.
• Rencanakan tindakan untuk menangani defisit penglihatan seperti tempatkan makanan dan peralatan dalam suatu tempat, dekatkan tempat tidur ke dinging
• Tempatkan perabotan ke dinding, jauhkan dari jalan.
• Beri kesempatan untuk menolong diri seperti menggunakan kombinasi pisau garpu, sikat dengan pegangan panjang, ekstensi untuk berpijak pada lantai atau ke toilet, kursi untuk mandi.
• Kajo kemampuan komuninasi untuk BAK. Kemampuan menggunakan urinal, pispot. Antarkan ke kamar mandi bila kondisi memungkinkan.
• Identifikasi kebiasaan BAB. Anjurkan minum dan meningkatkan aktifitas.
• Kolaboratif:
Pemberian supositoria dan pelumas feses/pencahan
Konsul ke dokter terapi okupasi. • Membantu dalam mengantisipasi dan merencanakan pertemuan kebutuhan individual
• Klien dalam keadaan cemas dan ketergantungan, hal ini dilakukan untuk mencegah frustasi dan harga diri klien.
• Klien memerlukan empati, tetapi perlu mengetahui perwatan yang konsisten dalam menangani klien. Sekaligus meningkatkan harga diri, memandirikan klien dan menganjurkan klien untuk terus mencoba.
• Klien akan mampu melihat dan memakan makanan, akan mampu melihat keluar masuknya orang ke ruangan.
• Menjaga keamanan klien bergerak di sekitar tempat tidur dan menurunkan risiko tertimpa perabotan.
• Mengurangi ketergantungan.
• Ketidakmampuan berkomunikasi dengan perawat dapat menimbul-kan masalah pengosongan kandung kemih oleh karena masalah neurogenik.
• Meningkatkan latihan dan menolong mencegah konstipasi.

• Pertolongan pertama terhadap fungsi bowell atau BAB.
• Untuk mengembangkan terapi dan melengkapi kebutuhan khusus.

6. Gangguan nutrisi: kurang dari kebutuhan yang b/d peningkatan pemakaian energi untuk metabolisme, asupan nutrisi yang kurang, mual, dan muntah.
Tujuan : Kebutuhan nutrisi klien terpenuhi.
Kriteria hasil: Mengerti tentang pentingnya nutrisi bagi tubuh, memperlihatkan kenaikan berat badan sesuai dengan hasil pemeriksaan laboratorium
Intervensi Rasional
• Evaluasi kemampuan makan klien
• Observasi/timbang berat badan jika memungkinkan
• Monitor keadaan otot yang menurun dan kehilangan lemak subkutan
• Catat pemasukan per oral jika diindikasikan. Anjurkan khen untuk makan
• Berikan makanan kecil dan lunak
• Kajilah fungsi sistem gastrointestinal yang meliputi suara bising usus, catat terjadi perubahan di dalam lambung, seperti mual dan, muntah. Observasi perubahan pergerakan usus misalnya diare, konstipasi.
• Anjurkan pemberian cairan 2500 cc/hari selama tidak terjadi gangguan jantung
• Aturlah diet yang diberikan sesuai keadaan klien
• Lakukan pemeriksaan laboratorium yang diindiksikan seperti serum, transferin, BUN/Creative, dan glukosa. • Klien dengan tracheostomy tube mungkin sulit untuk makan, tetapi klien dengan endotracheal tube dapat menggunakan mag slang atau memberi makanan parenteral.
• Tanda kehilangan berat badan (7-10%) dan kekurangan intake nutrisi menunjang terjadinya masalah katabolisme, kandungan glikogen dalam otot dan kepekaan terhadap pemasangan ventilator.
• Menunjukkan indikasi kekurang-an energi otot dan mengurangi fungsi otot-otot pernapasan.
• Nafsu makan biasanya berkurang dan nutrisi yang masuk pun berkurang. Anjurkan klien memilih makanan yang disenangi dapat dimakan (bila sesuai anjuran).
• Mencegah terjadinya kelelahan, memudahkan masuknya makanan, dan mencegah gangguan pada lambung.
• Fungsi sistem gastrointestinal sangat penting untuk memasuk-kan makanan. Ventilator dapat menyebabkan kembung pada lambung dan perdarahan lambung.
• Mencegah terjadinya dehidrasi akibat penggunaan ventilator selama tidak sadar dan mencegah terjadinya konstipasi
• Diet tinggi kalori, protein, karbohidrat sangat diperlukan, selama pemasangan ventilator untuk mempertahankan fungsi otot-otot respirasi. Karbohidrat dapat berkurang dan penggunaan lemak meningkat untuk mencegah terjadinya produksi CO2 dan pengaturan sisa respirasi.
• Memberikan informasi yang tepat tentang keadaan nutrisi yang dibutuhkan klien.

7. Kecemasan b/d prognosis penyakit yang tidak jelas.
Tujuan: Secara subjektif melaporkan rasa cemas berkurang.
Kriteria hasil: Klien mampu mengungkapkan perasaan yang kaku cara-cara yang sehat kepada perawat, klien dapat mendemonstrasikan keterampilan pemecahan masalahnya dan perubahan koping yang digunakan sesuai situasi yang dihadapi, klien dapat mencatat penurunan kecemasan/ketakutan dibawah standar, klien dapat rileks dan tidur/istirahat dengan baik.
Intervensi Rasional
Mandiri
• Identifikasi persepsi klien untuk menggambarkan tindakan sesuai situasi,
• Monitor respons fisik seperti kesemahan, perubahan tanda vital, gerakan yang berulang-ulang, catat kesesuaian respons verbal dan nonverbal selama komunikasi.
• Anjurkan klien dan keluarga untuk mengungkapkan dan meng-ekspresikan rasa takutnya, akuilah situasi yang membuat cemas dan takut.
• Hindari perasaan yang tak berarti seperti mengatakan semuanya akan menjadi baik.
• Identifikasi/kaji ulang bersama klien/keluarga tindakan pengaman yang ada seperti kekuatan dan suplai oksigen, kelengkapan suction emergency. Diskusikan arti dari bunyi alarm.
• Catat reaksi dari klien/keluarga. Berikan kesempatan untuk mendiskusikan perasaannya/ konsentrasinya dan harapan masa depan.
• Identifikasi kemampuan koping klien/keluarga sebelumnya dan mengontrol penggunaannya.
• Demonstrasikan/anjurkan klien untuk melakukan teknik relaksasi seperti mengatur pernapasan, menuntun dalam berkhayal, relaksasi progresif.
• Anjurkan aktivitas pengalihan perhatian sesuai kemampuan individu seperti menulis, nonton TV, dan keterampilan tangan.
Kolaborasi
• Rujuk ke bagian lain guna penanganan selanjutnya.
• Menegaskan batasan masalah individu dan pengaruhnya selama diberikan intervensi.
• Digunakan dalam mengevaluasi derajat/tingkat kesadaran/ konsentrasi, khususnya ketika melakukan komunikasi verbal.
• Memberikan kesempatan untuk berkonsentrasi, kejelasan dari rasa takut dan mengurangi cemas yang berlebihan.
• Memvalidasi situasi yang nyata tanpa mengurangi pengaruh emosional. Berikan kesempatan bagi klien/keluarga untuk menerima apa yang terjadi pada dirinya serta mengurangi kecemasan.
• Membesarkan / menentramkan hati klien untuk membantu menghilangkan cemas yang tak berguna, mengurangi konsentrasi yang tidak jelas dan menyiapkan rencana sebagai respons dalam keadaan darurat.
• Anggota keluarga dengan responnya pada apa yang terjadi dan kecemasannya dapat disampaikan kepada klien
• Memfokuskan perhatian pada kemampuan sendiri dapat meningkatkan pengertian dalam penggunaan koping.
• Pengaturan situasi yang aktif dapat mengurangi perasaan tak berdaya.
• Sejumlah ketrampilan baik secara sendiri maupun dibantu selama pemasangan ventilator dapat membuat klien merasa berkualitas dalam hidupnya.
• Mungkin dibutuhkan untuk membantu jika klien / keluarga tidak dapat mengurangi cemas atau ketika klien membutuhkan alat yang lebih canggih.

BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
 Tumor ialah Istilah umum yang mencakup setiap pertumbuhan benigna (jinak) dalam setiap bagian tubuh.
 Adapun faktor-faktor yang perlu ditinjau, yaitu :
• Herediter
• Sisa-sisa Sel Embrional (Embryonic Cell Rest)
• Radiasi
• Virus
• Substansi-substansi Karsinogenik
 Klasifikasi
• Glioma adalah tumor jaringan glia
• Tumor meningen (meningioma)
• Tumor hipofisis
• Tumor saraf pendengaran (neurilemoma)
• Tumor metastatis
• Tumor pembuluh darah
B. Saran
Diharapkan mahasiswa dapat memahami dan mengerti serta mampu mengaplikasikan tentang Asuhan Keperawatan Pada Tumor Otak.

DAFTAR PUSTAKA
Muttaqin Arif (2008), Buku Ajar Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan system Persarafan, Penerbit Salemba Medika., Jakarta
Marylin E. Doengoes, Mary Frances Moorhouse, Alice C. Geissler (2000), Rencana Asuhan Keperawatan: Pedoman Untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien Edisi 3, Peneribit Buku Kedokteran EGC, Jakarta
http://yuliastanto.wordpress.com/2008/08/16/konsep-penyakit-dan-asuhan-keperawatan-pada-pasien-dengan-gangguan-persyarafan-tumor-otak-s-o-p/
FKUI, Kapita Selekta Kedokteran, Jakarta : Media Gesapius
Suddart, Brunner (2000), Keperawatan Medikal Bedah, Jakarta, EGC
A.K. Muda, Ahmad, (2003). Kamus Lengkap Kedokteran.Edisi Revisi. Jakarta : Gitamedia Press.
Juall Carpenito, lynda RN,(1999).Diagnosa dan Rencana Keperawatan. Ed 3. Jakarta : Media Aesculappius.
Syaifuddin.(1997). Anatomi Fisiologi untuk Siswa Perawat. Edisi 2. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran (EGC).
Doenges, Marilynn E. (1999). Rencana Asuhan Keperawatan. Jakarta : Penerbit Kedokteran (EGC).